Penulis: Dinda Indah Asmara

Arok Dedes. Buku ini sebenarnya belum menjadi prioritas saya untuk dibaca dibandingkan dengan karya-karya Pram yang lain, Tetralogi Pulau Buru misalnya, yang hingga kini belum dapat saya tutuk-kan. Namun, Arok Dedes yang terpampang sebagai judulnya telah membawa pikiran saya membayang tentang kisah berdarah keluarga Kerajaan Singosari itu ketika saya melihatnya di ruang baca fakultas. Alhasil, saya pun meraihnya dari rak buku, lalu berasyik masyuk dengannya.

Buku ini, sebagaimana Tetralogi Pulau Buru, juga ditulis Pram ketika ia berada dalam pembuangan di pulau yang merupakan salah satu bagian dari Kepulauan Maluku itu. Satu hal yang membuat saya kagum dengan Pram. Melalui buku ini, Pram ingin berbicara kepada saya dan juga ratusan generasi muda Indonesia lain dalam berbagai ruang dan tempo, tentang kondisi Indonesia saat itu, masa-masa pasca peristiwa 65. Dan Pram menggunakan sejarah Indonesia sendiri sebagai panggung buatnya bercerita.

Kisah ini berlatar masa kekuasaan Raja Kertajaya di wilayah Kediri. Sebuah masa dimana para Brahmana disisihkan melalui pendataan-pendataan oleh kerajaan, serta keharusan untuk mendapatkan izin mengajar dan mengambil murid. Intinya, mereka tidak leluasa lagi untuk mengembangkan dan menyebarkan pemikiran mereka sebagai kaum cendekia. Di samping itu, para kaum cendekia yang mau mendukung kuasa Sang Raja akan mendapatkan tempat terhormat dan darma yang melimpah.

Kisah diawali dengan penculikan Dedes. Putri seorang Brahmana yang tidak memperoleh izin untuk mengajar dan mengambil murid dari Yang Suci Belakangka, Brahmana Pakuwuan Tumapel dan wakil dari Kerajaan Kediri yang bertugas mengawasi Akuwu dan Pakuwuan itu sendiri. Sehingga satu-satunya murid yang ia punyai tak lain hanyalah Dedes, putrinya sendiri. Penculikan itu tak urung menjadi sebuah luka bagi Dedes. Ia yang sejak kecil telah diajarkan untuk mengumpat orang Wisnu, terutama Akuwu yang dalam ajaran ayahnya itu bejat perilakunya. Dengan keterpaksaan, mau tidak mau harus kawin dengannya, tanpa restu ayahnya pula. Penculikan inilah yang kemudian  memuncakkan murka para Brahmana dalam pertemuan rutin mereka. Perlu diketahui, sebelumnya mereka hanya bersilat kata mengkritik tanpa sebuah tindakan yang nyata. Pertemuan itu kemudian menghasilkan kesepakatan bahwa para Brahmana harus bergerak, mereka harus menumbangkan Raja Kediri. Arok disini muncul sebagai garuda, sebagai harapan dari Kaum Brahmana. Ialah yang harus menumbangkan kuasa raja lalim itu, tapi sebelumnya Tumapel harus ditaklukannya terlebih dulu sebagai sebuah senjata untuk memperkuat perlawanannya.

Kisah berikutnya tentang Arok yang mengorganisir perlawanannya. Ia mengajak orang-orang yang teraniaya oleh Akuwu untuk bangkit dan melawan. Orang-orang tani, budak-budak di tambang emas rahasia kerajaan, serta para Brahmana dan Brahmani Syiwa yang terusir dari Kerajaan Kediri. Semua bergerak, dari berbagai agama dan golongan masyarakat.

Satu hal yang menurut saya menarik dari tulisan – tulisan Pram sebagai seorang perempuan. Ia selalu meletakkan tokoh perempuan dengan daya, bukan seseorang yang lemah dan tak kuasa atas tubuhnya. Dalam Tetralogi Pulau Buru ada Nyai Ontosoroh dan Ansang Mei (baru itu yang saya tahu dari buku pertama dan kedua, serta separuh yang ketiga), dalam Gadis Pantai ada si Gadis Pantai yang ternyata juga adalah nenek Pram, sementara dalam buku ini ada Dedes, serta Umang. Ya, mereka adalah dua istri Arok.

Dedes memutuskan melawan dengan caranya dan begitu pula Umang. Dedes melawan terhadap Tunggul Ametung, Sang Akuwu Tumapel dengan memanfaatkan kecantikan yang memikat Tunggul Ametung dan menyebabkan penderitaannya juga sebelumnya. Tunggul Ametung memang takluk terhadap Dedes. Dedes yang termashur kecantikannya, Dedes yang diramalkan akan membawa  kejayaan buatnya, dan Dedes yang sulit ditaklukannya. Ketaklukannya itu menjadi kelemahannya dan menjadi sebuah kekuatan bagi Dedes untuk menghancurkannya.

Sementara itu, Umang yang menolak takluk. Ia menolak memasrahkan nasibnya ketika memilih lari saat akan dijadikan budak. Sesaat ia ingin ikut Arok saat terusir dari saudara-saudara tirinya, ia membentuk dan menjadi pemimpin pasukan panah untuk membebaskan ayahnya dari perbudakan. Pun ketika ia, selama enam tahun memilih untuk bersetia menunggu Arok. Ia melawan dan ia berjuang untuk hidupnya sendiri, meski ia hanya seorang Sudra. Dan, memang itulah yang terus menerus ditiupkan Pram dalam tulisannya ini, perlawanan dan daya dari seorang Sudra. Umang dan Arok menurut saya adalah perlambangnya.

Roman ini adalah sebuah karya yang menarik. Tidak nyesal saya membacanya. Tapi meski begitu, buku ini meninggalkan banyak kebingungan juga dalam kepala saya. Seperti bagian akhirnya yang seakan tak selesai dan justru buat saya bertanya tanya. Pram juga tampaknya tidak dengan begitu gamblang menjalankan lakon dan menggambarkan Indonesia dalam Arok Dedes sehingga saya harus banyak mengerutkan dahi dan menerka-nerka.

Begitulah, buku ini saya tutup dengan seulas senyum manis (bagi saya) dan rasa penasaran untuk membaca karya Pram lainnya.