Category: Cerpen

Berlindung dibalik Feminisme

Aku menyeruput secangkir teh yang sudah tidak lagi panas di hadapanku dengan perlahan. Menyesap sembari menikmati cita rasa dari teh yang selalu dapat menenangkanku. Sudah cukup lama aku berdiam diri menunggu salah seorang teman lamaku sejak kuliah. Beberapa menit kemudian, aku melihat seorang wanita yang memakai pakaian khas kantor yang tengah menyebrang jalan raya. “Maaf terlambat. Atasanku benar-benar mengerikan kalau udah akhir bulan.” Sambutnya dengan raut wajah lelah. Sebenarnya tidak ada alasan khusus kami bertemu. Toh, kami tidak begitu dekat. Pertemuan hari ini dikarenakan karena kami secara tidak sengaja bertemu di sebuah pusat perbelanjaan beberapa hari yang lalu. Berbincang...

Read More

Menikmati Rokok

Malam ini, hujan turun. Setiap yang berpayung langit merasakan guyurannya. Meski datang membabi buta, mengeroyok permukaan bumi, tidak ada yang merasa terluka dengannya. Menyegarkan kehidupan, melahirkan harapan. Malam ini, penghuni bumi sejenak menghirup udara segar, setelah beberapa minggu dilukai polusi. Di teras padepokan Kota Monde, Surya duduk menyendiri menikmati gelapnya malam. Dengan lagaknya, menyelipkan sebatang rokok kretek disela-sela jari, lalu menyisipkan ke bibir coklatnya. Spontan, tangan kanannya mengambil korek dan memutar roda pemantiknya yang dibarengi dengan membentuk tameng dari tangan kirinya untuk melindungi api yang menyala. Sembari mengernyitkan alis dan dahi, kedua tangannya diarahkan ke ujung rokok yang terselip...

Read More

Asa Terakhirku..

Rutinitas pagiku telah selesai dua jam lalu. Sudah dua bulan siklus hidupku begini-begini saja. Bangun, mandi, makan, melamun adalah kegiatan konstanku. Suasana rumah begitu senyap padahal aku sudah menyalakan televisi di depanku. Keributan dari arah dapur pun tidak membantu untuk menghidupkan suasana rumah ini. Agaknya suasana hatiku tidak begitu bagus. Aku duduk melamun sambil mengamati berbagai kudapan yang disajikan ibu di meja makan, rasanya seperti menunggu sesuatu yang tak kuketahui. Aku menatap kosong layar televisi yang menayangkan acara komedi yang lebih menyerempet ke arah bodoh. Bertanya-tanya siapa yang dapat menggiring dunia pertelevisian Indonesia menjadi lebih baik. Aku muak melihat...

Read More

Jangan Bedakan Kita Karena Kita Sama

Di pagi yang cerah ini aku sedang memasak nasi goreng untuk sarapanku dan kakakku. Biasanya sih yang masak Ibu dan aku cuma bantuin aja. Tapi hari ini Ayah dan Ibu harus berangkat keluar kota sejak dini hari tadi karena Ayah ada urusan pekerjaan selama beberapa hari di sana. Jadi mau nggak mau aku yang masak kali ini daripada nanti sakit perut karena harus makan masakan kakakku, hehe. Sebenernya kita bisa beli makanan diluar buat sarapan, tapi aku memilih masak sendiri agar lebih hemat dan uangnya bisa disimpen buat belanja online. Kalo urusan masak sih, skill-ku bisa dikatakan masih lumayan...

Read More

Teruntuk Hipokrit Pengabai Tameng

Namaku Hassano Wiratman. Umurku 25 tahun. Aku bekerja di salah satu perusahaan elektronik terbesar di kotaku. Sudah tiga tahun aku bertahan dalam posisi sebagai engineering (teknisi elektrikal). Aku menandatangani kontrakku pada Maret 2018 dengan masa kontrak selama 5 tahun. Aku pun bekerja menyandang status pekerja harian dengan gaji sebesar Rp.100.000 per hari. Gaji itu jelas tak cukup untuk membiayai kebutuhan hidupku sehari-hari. Terlebih aku hanya anak yatim piatu sedari kecil dan sekarang memiliki istri serta seorang bayi mungil. Namun, aku memilih bertahan sebab tak ada pemasukan lain selain dari perusahaan itu. Tiga tahun terbilang waktu yang cukup lama bagi...

Read More