Category: Cerpen

Mereka Itu Hebat

Dinginnya cuaca pagi hari ini membuatku ingin tetap bergelung dibawah selimut dan malas untuk beranjak dari tempat tidurku. Apalagi tadi aku baru bisa tidur setelah sahur karena semalam begadang menyelesaikan pekerjaanku. Dering alarm dari HP yang terus berbunyi membuatku mau-nggak mau bangkit dari tempat tidurku mengingat aku harus bekerja. Aku bekerja sebagai staf bagian desain grafis di perusahaan media di salah satu kota, yang membuatku harus merantau dan tinggal di kosan.. “Yok kerja yok jangan males, inget kamu bukan anak sultan, kalo nggak kerja mau makan apa, apalagi bentar lagi lebaran, masih banyak kebutuhannya.” Motivasiku pada diri sendiri biar...

Read More

Berlindung dibalik Feminisme

Aku menyeruput secangkir teh yang sudah tidak lagi panas di hadapanku dengan perlahan. Menyesap sembari menikmati cita rasa dari teh yang selalu dapat menenangkanku. Sudah cukup lama aku berdiam diri menunggu salah seorang teman lamaku sejak kuliah. Beberapa menit kemudian, aku melihat seorang wanita yang memakai pakaian khas kantor yang tengah menyebrang jalan raya. “Maaf terlambat. Atasanku benar-benar mengerikan kalau udah akhir bulan.” Sambutnya dengan raut wajah lelah. Sebenarnya tidak ada alasan khusus kami bertemu. Toh, kami tidak begitu dekat. Pertemuan hari ini dikarenakan karena kami secara tidak sengaja bertemu di sebuah pusat perbelanjaan beberapa hari yang lalu. Berbincang...

Read More

Menikmati Rokok

Malam ini, hujan turun. Setiap yang berpayung langit merasakan guyurannya. Meski datang membabi buta, mengeroyok permukaan bumi, tidak ada yang merasa terluka dengannya. Menyegarkan kehidupan, melahirkan harapan. Malam ini, penghuni bumi sejenak menghirup udara segar, setelah beberapa minggu dilukai polusi. Di teras padepokan Kota Monde, Surya duduk menyendiri menikmati gelapnya malam. Dengan lagaknya, menyelipkan sebatang rokok kretek disela-sela jari, lalu menyisipkan ke bibir coklatnya. Spontan, tangan kanannya mengambil korek dan memutar roda pemantiknya yang dibarengi dengan membentuk tameng dari tangan kirinya untuk melindungi api yang menyala. Sembari mengernyitkan alis dan dahi, kedua tangannya diarahkan ke ujung rokok yang terselip...

Read More

Asa Terakhirku..

Rutinitas pagiku telah selesai dua jam lalu. Sudah dua bulan siklus hidupku begini-begini saja. Bangun, mandi, makan, melamun adalah kegiatan konstanku. Suasana rumah begitu senyap padahal aku sudah menyalakan televisi di depanku. Keributan dari arah dapur pun tidak membantu untuk menghidupkan suasana rumah ini. Agaknya suasana hatiku tidak begitu bagus. Aku duduk melamun sambil mengamati berbagai kudapan yang disajikan ibu di meja makan, rasanya seperti menunggu sesuatu yang tak kuketahui. Aku menatap kosong layar televisi yang menayangkan acara komedi yang lebih menyerempet ke arah bodoh. Bertanya-tanya siapa yang dapat menggiring dunia pertelevisian Indonesia menjadi lebih baik. Aku muak melihat...

Read More

Jangan Bedakan Kita Karena Kita Sama

Di pagi yang cerah ini aku sedang memasak nasi goreng untuk sarapanku dan kakakku. Biasanya sih yang masak Ibu dan aku cuma bantuin aja. Tapi hari ini Ayah dan Ibu harus berangkat keluar kota sejak dini hari tadi karena Ayah ada urusan pekerjaan selama beberapa hari di sana. Jadi mau nggak mau aku yang masak kali ini daripada nanti sakit perut karena harus makan masakan kakakku, hehe. Sebenernya kita bisa beli makanan diluar buat sarapan, tapi aku memilih masak sendiri agar lebih hemat dan uangnya bisa disimpen buat belanja online. Kalo urusan masak sih, skill-ku bisa dikatakan masih lumayan...

Read More