Aku, Upah yang Tak Pernah Dibayar Lunas
Aku masih ingat betul bau kain dan suara mesin jahit yang seperti tidak pernah berhenti. Dari pagi sampai sore, bunyinya sama… berisik dan menekan, seolah mengingatkan bahwa kami harus terus bergerak, tanpa banyak berpikir. Namaku Sarah. Aku bekerja di sebuah pabrik garmen di pinggiran kota. Sudah hampir tiga tahun. Tidak lama, tapi cukup untuk membuatku paham satu hal: Di tempat ini, suara buruh, terutama perempuan, tidak pernah benar-benar dianggap penting. Awalnya aku tidak banyak bertanya. Aku datang, bekerja, pulang. Begitu saja setiap hari. Sampai suatu pagi, sesuatu yang kecil justru mengubah semuanya. “Target hari ini naik lagi,” kata Rani...
Read More