Category: Ragam

Duri Pagar

Tersangkar dengan sadar Namun nalar layaknya pijar Mengagungkan kesamaan sebagai Tuhan Ia yang kuat, Ia yang tak terbantahkan Merdeka telah usang Menghilang dan terambang Dunia memang tidak akan akrab Denganmu : bintik hitam di antara putih Di mana kebebasan belajar yang digadang-gadang itu? Manusia hanya sebagai penunggang pena dalam sangkar Penulis: Dila Frilana Editor: Rifqah Dita Desain layout: Benediktus...

Read More

Teruntuk Hipokrit Pengabai Tameng

Namaku Hassano Wiratman. Umurku 25 tahun. Aku bekerja di salah satu perusahaan elektronik terbesar di kotaku. Sudah tiga tahun aku bertahan dalam posisi sebagai engineering (teknisi elektrikal). Aku menandatangani kontrakku pada Maret 2018 dengan masa kontrak selama 5 tahun. Aku pun bekerja menyandang status pekerja harian dengan gaji sebesar Rp.100.000 per hari. Gaji itu jelas tak cukup untuk membiayai kebutuhan hidupku sehari-hari. Terlebih aku hanya anak yatim piatu sedari kecil dan sekarang memiliki istri serta seorang bayi mungil. Namun, aku memilih bertahan sebab tak ada pemasukan lain selain dari perusahaan itu. Tiga tahun terbilang waktu yang cukup lama bagi...

Read More

Di Mana Hak Kami?

Kesekian kali ancaman terlontar Nalarpun tak mampu berjalan Egoisme lebih penting daripada nurani Pun tak berhak kau menginjak-injak harapan Apakah ini yang di sebut kebebasan? Apakah ini yang di sebut keadilan? Amanah kau emban tapi tak tersampaikan Kebenaran kau tutupi dengan tameng jabatan Sungguh ironis melihat keadaan ini Diam bukan pilihan Demi hak yang seharusnya didapatkan Meski usulan telah ditolak Hak telah terbabat Dan ancaman tetap mengalir Penulis: Tiara Tyas Ilustrasi: Widya...

Read More

Duka Perempuan dalam Sebuah Kado

Hei,aku punya kado untuk diriku sendiri di hari ulang tahunku ini. Tadi siang aku membelinya di pasar. Bagaimana? Bagus kan dress ini? Aku selalu ingin memakainya. Sedari dulu, aku harus menahan diri dan memilih untuk tidak berani mengenakan pakaian model dress seperti ini, karena takut akan celaan dari orang sekitarku yang masih berpikiran konservatif. “Berpakaianlah yang benar, itu terlalu terbuka. Kamu mau menggoda laki-laki di luar sana?”, “Salahmu berpakaian seperti itu. Mengundang hasrat laki-laki saja!” Itu kata-kata yang sering keluar dari mulut mereka ketika terjadi pelecehan atau kekerasan pada perempuan–aku muak mendengarnya. Masih saja, pakaian perempuan digunakan sebagai alibi atas tindakan mereka itu. Kok terus-terusan perempuan sih yang disalahkan? Rasa-rasanya tubuh perempuan ini dipenjara. Hanya dijadikan objek saja bahkan untuk hal yang sebebas memilih pakaian, masih tetap diatur. Bagiku, ini adalah bentuk ketidakdilan. Ketidakadilan? Iya. Selain perkara pakaian, aku juga punya cerita lain. Dahulu, aku sangat ingin bersekolah di perguruan tinggi. Aku ingin bisa meraih cita-citaku menjadi seorang guru. Sayangnya, aku bukan dari keluarga yang berkecukupan. Sehingga aku harus rela membuang cita-citaku tatkala ibu berkata, “sudahlah nduk, ndak usah. Kami tidak punya uang. Lebih baik kamu belajar memasak saja. Karena kodrat perempuan ujung-ujungnya juga di dapur.” Tentulah aku merasa sedih ketika mendengarnya. Tapi, bagaimanapun aku harus mempertimbangkan kondisi keuangan dalam keluarga, hingga akhirnya memilih untuk bekerja dengan bayaran yang tak seberapa. Lebih sedih lagi ketika dua tahun setelahnya, adik...

Read More