Arsip Kategori: Foto

Salam persma!

Majalah DIANNS edisi 54 telah terbit. Pada edisi kali ini, DIANNS mengulas terkait permasalahan air di Malang Raya dan ada rubrik menarik lainnya. Bagi yang berminat mendapatkan majalah LPM DIANNS terbaru bisa langsung ke sekretariat LPM DIANNS. Bisa juga baca versi digitalnya di https://issuu.com/diannsmedia/docs/majalah_54_

Kegiatan Diskusi yang mengangkat tema tentang Marxisme dan Kekerasan Pasca 65 dihentikan oleh aparat. Kegiatan yang digelar pada 29 September 2016 di Kafe Albar yang terletak di Jalan Merjosari Selatan ini diisi oleh Roy Murtadho dan Bejo Untung, serta seorang mantan tapol dan anak mantan tapol Pulau Buru. Awalnya, kegiatan diskusi ini akan digelar di Universitas Islam Malang, namun oleh aparat dihentikan dengan pelarangan melalui rektor. Sebelum pembubaran acara ini terdengar beberapa kali lemparan batu ke genting. Di sekitar lokasi pembubaran juga tampak sekelompok masyarakat berbaju koko, sarung, dan kopyah putih.

Dinda Indah melaporkan langsung dari tempat kejadian.

Salam persma!

Katanya, “Dirgahayu 71 Tahun Indonesia Kerja Nyata.” Tanpa diminta bahkan tanpa slogan, sedari dulu rakyat kecil telah nyata-nyata kerja. Mereka selalu memeras keringat demi mengumpulkan rupiah agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari karena setiap sumber daya alam tak dikuasai atas nama rakyat bahkan pendidikan pun selayaknya barang dagangan di supermarket. Lalu, slogan itu untuk siapa?

Lanjutkan membaca

Ratusan siswa SD, SMP, hingga SMA/SMK Pancung Soal ikut memeriahkan Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 dengan mengikuti perlombaan marching band yang diselenggarakan di lapangan Desa Indrapura, Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dalan perlombaan ini, peserta wajib memainkan tiga buah lagu, yaitu: Hari Merdeka, lagu Minang, dan lagu bebas.

Fotografer: Resti Andra

Fotografer: Bimo Adi Kresno

Tari Jarik sedang dilenggokan oleh anak-anak dari salah satu sanggar yang berasal dari Solo. Berbagai sanggar tari lain yang berasal dari Jogja dan Jakarta ikut menampilkan berbagai macam tarian tradisonal dari berbagai daerah di Indonesia. Pagelaran ini dikemas dalam acara Semarak Budaya Indonesia yang dihelat di Teater Terbuka, Taman Balekambang, Kota Solo, pada hari Jumat dan Sabtu, 29-30 Juli 2016.

Ikrar Sumpah Pemuda

Joko-Roro Malang membacakan ikrar sumpah pemuda di Pendapa Bupati Kepanjen Malang pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-87, Rabu (28/10). Upacara tersebut diikuti oleh siswa-siswi dari Kabupaten Malang beratribut pakaian khas daerah sebagai simbol bahwa pemuda Indonesia bertekad untuk bersatu diantara keberagaman suku, agama, budaya Indonesia yang ada melalui ikrar sumpah pemuda. (Fotografer: Fakhrul Izzati)

Harmonisasi Hubungan Manusia dan Alam Dalam Pandangan Fenomenologi

Penulis : Danar Yudhitya P.

Sumber foto : www.tempo.co

Dewasa ini, kondisi alam memperlihatkan keadaan yang semakin kritis dengan munculnya kerusakan berkepanjangan karena eksploitasi manusia yang tiada henti. Eksploitasi tersebut bermula dari pola pikir mengenai penaklukan alam yang telah dibawa oleh manusia sejak zaman purba. Bahkan di saat ini, seringkali manusia mengatasnamakan kemajuan untuk membenarkan tindakannya dalam merusak ekosistem. Contoh kecilnya, sistem pertanian modern yang menggunakan pestisida dan pupuk artifisial yang menyebabkan terganggunya kegemburan tanah. Bentuk lain perusakan alam yang secara masif, terstruktur dan sistematis banyak dilakukan oleh para cukong korporasi.

Lanjutkan membaca Harmonisasi Hubungan Manusia dan Alam Dalam Pandangan Fenomenologi

Upacara PKKMU Universitas Brawijaya 2015

Penyematan ID card kepada perwakilan mahasiswa baru sebagai tanda penerimaan mahasiswa baru angkatan 53 tahun 2015 oleh Rektor Universitas Brawijaya, Ir. M. Bisri. (Fotografer: Ganis Harianto)

Baliho bertuliskan ucapan selamat dan sukses PKK MABA UB 2015 diterbangkan di atas langit UB sebagai tanda dibukanya masa orientasi mahasiswa baru 2015. (Fotografer: Rahma Agustina)

Aksi Paper Mop di lapangan rektorat Universitas Brawijaya (UB) oleh mahasiswa baru 2015. Mahasiswa baru berbaris dengan membawa kertas berwarna biru, kuning, merah dan putih menyusun pola tulisan “UB 1” dan bentuk Bendera Merah putih di sepanjang jalan di sekitas bundaran UB. (Fotografer: Muhammad Bahmudah)

Pembukaan acara PKKMABA UB 2015 diisi oleh penampilan marching band internal Universitas Brawijaya. (Fotografer: Rahma Agustina)

Mahasiswa Baru 2015 sedang mengumpulkan tugas kepada salah seorang panitia sesaat setelah upacara pembukaan PKKMU 2015 usai pada Selasa, (1/9). (Fotografer: Resti Syafitri Andra)

Pawai Ogoh-Ogoh Memperingati 9 Tahun Bencana Lumpur Lapindo

Fotografer: Ganis Harianto

Fotografer: Resti Syafitri Andra

Fotografer: Resti Syafitri Andra

Fotografer: Resti Syafitri Andra

Fotografer: Khoirul Anwar

Fotografer: Khoirul Anwar

Fotografer: Khoirul Anwar

Deskripsi:

Memperingati 9 tahun bencana alam lumpur lapindo, warga korban lapindo melakukan aksi pawai Ogoh-Ogoh dan Festival Pulang Kampung. Warga yang tergabung Perkumpulan Perempuan Korban Lapindo Ar-Rohmah ??, Paguyuban Ojek Portal Titik 21, Sanggar Al Fath, dan masyarakat sipil berjalan kaki mengarak ogoh-ogoh yang terus Aburizal Bakrie dari Taman Eks Pasar Lama Porong menuju Portal Titik 21 Lumpur Lapindo Sidoarjo Jumat Kemarin (29/5). Ogoh-ogoh berbentuk Bakrie yang tangan terikat roda itu dibuat besar setinggi tiga meter.

Ogoh-ogoh Bakrie digotong belasan warga menuju Portal Titik 21, kemudian pasung pada sebuah tiang. Selesai mengarak ogoh-ogoh Bakrie menuju Portal Titik 21 Lumpur Lapindo, acara dilanjutkan dengan Festival Pulang Kampung. Acara ini diawali dengan menebar bunga pada ogoh-ogoh Bakrie, kemudian dilanjutkan dengan orasi dan pembacaan puisi dari warga.

Menurut Harwati, Ketua Koordinator Perkumpulan Perempuan Korban Lapindo Ar-Rohma, ogoh-ogoh Bakrie yang besar ini memiliki makna tidak bisa membantu warga korban lumpur lapindo karena pemerintah dinilai tidak dapat menahan Bakrie yang besar ??. Ogoh-ogoh ini memang pemiliknya Lapindo Bakrie sangat besar agar tidak bisa menyentuh. Buktinya sudah 9 tahun tidak bisa membantu, ungkap Harwati.

Dengan adanya acara peringatan 9 tahun bencana lumpur Lapindo, warga berharap pihak Pemerintah maupun Bakrie selaku pemilik perusahaan, segera menyelesaikan soal gantirugi yang bersisa 80%. Warga menuntut pemerintah menepati janji untuk segera menyelesaikan ganti rugi jatuh tempo pada 26 Juni mendatang dan mengambil alih mengenai gantirugi karena menurut warga pihak Lapindo tidak dapat menyelesaikan masalah mereka.

Pemerintah segera mengambil alih pembayaran korban lumpur dan tidak memperpanjang waktu karena kita sudah lelah 9 tahun hidup tidak jelas. Jadi saya harap korban lumpur tetap berdoa jangan patah semangat perjalanan kita masih panjang. Pungkas Harwati

Sudah sembilan tahun semburan lumpur PT. Lapindo Brantas masih menyisakan luka bagi korban lumpur. Salah seorang korban lumpur Lapindo, Khoirun Naimah (23), belum resmi gantirugi dari pemerintah. Untuk membangun rumah kembali, dia harus bekerja keras dengan biaya sendiri. “Sampai sekarang saya belum mendapatkan bantuan sepersen pun dari pemerintah.” Ungkap Naimah.