Arsip Kategori: Poster

Sumpah Pemuda.
Satu bangsa. Satu bahasa
Menjadikan bahasa sebagai pemersatu untuk identitas bangsa.
Ketika tahun jumlahnya bertambah, sebuah mesin akan menghancurkanmu.
Menghancurkanmu yang mudah tergiur dengan kecanggihannya.
Bahasa ibu kau acuhkan demi bahasa yang kebaratan.
Ibu Pertiwi memang menginginkan masa depan, tapi bukan kemusnahan bahasanya.

Pemuda-pemudi.
Sumpah ini bukanlah mainan.
Sumpah ini adalah janji suci yang diperjuangkan dengan segenap darah juang.
Sumpah ini tidak hanya sebuah perayaan dalam sehari.
Tetapi sebuah sumpah yang harus kalian perjuangan tanpa henti.

Selamat datang mahasiswa baru di kampus biasa dengan harga luar biasa. Semoga tumpukan rupiah yang telah dibayarkan tidak membuat Anda lupa pada kemiskinan rakyat miskin kota, anak buruh yang tak sekolah, para petani yang kehilangan sumber airnya, dan rakyat yang sedang memperjuangkan tanahnya. Mari, bergabung ke dalam barisan perjuangan!

Ilustrator : M. Yusuf

Salam persma!

Katanya, “Dirgahayu 71 Tahun Indonesia Kerja Nyata.” Tanpa diminta bahkan tanpa slogan, sedari dulu rakyat kecil telah nyata-nyata kerja. Mereka selalu memeras keringat demi mengumpulkan rupiah agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari karena setiap sumber daya alam tak dikuasai atas nama rakyat bahkan pendidikan pun selayaknya barang dagangan di supermarket. Lalu, slogan itu untuk siapa?

Katanya, “Kemerdekaan harus diisi dengan pembangunan.” Pembangunan pabrik yang mengorbankan tanah leluhur dan menggusur tempat tinggal rakyat. Pembangunan pasar yang kemudian mematikan para pedagang kecil. Pembangunan tempat wisata dan hotel yang menyebabkan petani dan warga kekurangan air karena sumber-sumber airnya telah diprivatisasi. Bahkan pengerukan kekayaan alam besar-besaran terus dilakukan demi hajat hidup perusahaan asing seperti yang terjadi di Bumi Papua. Lalu, sebenarnya pembangunan itu untuk siapa?

Dan kemudian di atas segala penderitaan rakyat kecil, dalam peringatan pembacaan naskah proklamasi 71 tahun lalu ini, apa yang sebenarnya kita rayakan?

Dirgahayu Republik Indonesia ke-71.

Layouter: Satria Budi Utama

Dirgahayu 71 Tahun, Indonesia Kerja Nyata

Salam persma!

Katanya, “Dirgahayu 71 Tahun Indonesia Kerja Nyata.” Tanpa diminta bahkan tanpa slogan, sedari dulu rakyat kecil telah nyata-nyata kerja. Mereka selalu memeras keringat demi mengumpulkan rupiah agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari karena setiap sumber daya alam tak dikuasai atas nama rakyat bahkan pendidikan pun selayaknya barang dagangan di supermarket. Lalu, slogan itu untuk siapa?

Katanya, “Kemerdekaan harus diisi dengan pembangunan.” Pembangunan pabrik yang mengorbankan tanah leluhur dan menggusur tempat tinggal rakyat. Pembangunan pasar yang kemudian mematikan para pedagang kecil. Pembangunan tempat wisata dan hotel yang menyebabkan petani dan warga kekurangan air karena sumber-sumber airnya telah diprivatisasi. Bahkan pengerukan kekayaan alam besar-besaran terus dilakukan demi hajat hidup perusahaan asing seperti yang terjadi di Bumi Papua. Lalu, sebenarnya pembangunan itu untuk siapa?

Dan kemudian di atas segala penderitaan rakyat kecil, dalam peringatan pembacaan naskah proklamasi 71 tahun lalu ini, apa yang sebenarnya kita rayakan?

Dirgahayu Republik Indonesia ke-71.

Layouter: Satria Budi Utama

Ilustrator: Fadhila IsnianaSalam persma!

Selamat siang Kawan DIANNS, 28 April 2016 tepat diperingati sebagai Hari Puisi. Puisi merupakan salah satu bagian dari ragam sastra yang lebih menekankan pada amanat yang terkandung dalam tiap pilihan baitnya. Puisi sendiri dibagi menjadi puisi lama dan puisi baru.

Tak terpisah dari kumpulan puisi yang merupakan bagian dari sastra. Dalam perkembangannya, sastra tak bisa diterjemahkan dari kehidupan masyarakat, baik dalam aspek ekonomi, sosial, politik, budaya. Sastra digunanakan sebagai daya kritis oleh para sastrawan terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Saat ini patut dipertanyakan tentang bagaimana tengkorak. Hal tersebut dimulai sejak terbelenggunya sastra oleh hegemoni Orde Baru dan adanya keterbatasan bersuara diruang – ruang publik. Pengaruh pasar bebas yang diturunkan oleh kapitalis ekonomi Orde Baru mencekoki masyarakat dengan sastra pop yang berisikan “cinta dan kedamaian”, yang secara tidak langsung menggeser bangunan sastra sebagai alat perlawanan.

Nurani Soyomukti dalam bukunya Sastra Perlawanan, bangunlah kisah “cinta dan kedamaian” yang disiarkan melalui media massa untuk menghibur para massa tertindas. Bertujuan untuk menutup penghisapan tenaga kerja dan kaum miskin yang telah dibuai dengan pemahaman dan nafsu dari parauangan Kapital untuk para pemilik modal.

Belum adanya kesadaran dari masyarakat mengenai ketertindasan yang mereka alami dan yang sedang mereka lakukan dengan alasan akan menggangu ketertiban nasional. Membuat jati diri sastra yang hakikatnya sebagai media perlawanan semakin tergerus dan terlupakan.

Melek AnggaranKeterbukaan Informasi Publik (KIP) di Indonesia pada era pasca reformasi merupakan hak bagi seluruh masyarakat, tidak terkecuali mahasiswa. Apalagi pasca dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, hak masyarakat atas akses informasi semakin luas. KIP menjadi ciri penting negara demokratis dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, salah satunya melalui penyelenggaraan negara yang baik.
Perguruan Tinggi Negeri sebagai bagian dari Badan Publik memiliki kebanggaan untuk memberikan keterbukaan informasi kepada mahasiswa, tidak terkecuali Universitas Brawijaya (UB). Pada bulan Desember 2015, UB telah menerima penghargaan sebagai Universitas Negeri dengan KIP terbaik di Indonesia.

Melihat kejadian yang ada di beberapa fakultas ini, kami mencoba untuk menyerap aspirasi mahasiswa UB perihal pelaksanaan KIP di kampus biru kita. Bagaimana tanggapanmu? Apakah UB sudah benar-benar benar-benar menyeleggarakan KIP? Mari tuangkan dalam komentar #melekanggaran

Ilustrasi oleh: Fadhila Isniana

Saat ini lingkungan menjadi isu yang hangat di masyarakat, seperti masalah pembangunan industri yang memiliki dampak langsung terhadap lingkungan maupun sosial ekonomi.

Di Tuban, ada industri pabrik semen yang merusak lingkungan melalui eksploitasi Karst secara besar-besaran. Selain itu, asap dan debu dari pabrik air mani tersebut bisa mengenaskan udara yang bisa menganggu kesehatan warga. Desa yang berada di sekitar pabrik memiliki jumlah kematian yang tidak wajar. Sebanyak 61 warga dalam kurun waktu 45 hari. Masalah di Tuban ini hanya segelintir contoh dari banyak kasus yang ditimbulkan oleh pembangunan industri di dunia.