Arsip Kategori: Opini

Memerdekakan Pendidikan

Penulis: Muhammad Bahmudah

“School is the advertising agency which makes you believe that you need the society as it is.” -Ivan Illich-

Kutipan di atas diambil dari sebuah buku yang berjudul “Deschooling Society”. Ivan Illich menggertak pendidikan dengan mengkritik pola guna sekolah atas penyadaran terhadap masyarakat. Pandangan Illich menceritakan bahwa sekolah adalah sasaran bagi masyarakat yang dilembagakan, dan menurut beliau penting adanya sebuah konsep “Deschool” atau budaya baru dalam belajar. Lebih kritis lagi, beliau mengejawantahkan bahwa masyarakat tidak perlu sekolah. Namun Illich tidak menganjurkan penghapusan atas sekolah. Akan tetapi, adanya pembatasan terhadap peran sekolah sebagai sebuah lembaga yang cenderung memaksa masyarakat untuk mengikuti polanya. Subjek pendidikan yaitu pendidik dan peserta didik, tidak lepas dari peran penting dalam membentuk pola tersebut.

Lanjutkan membaca Memerdekakan Pendidikan

Apa Kata Mereka tentang Agraria?

 

Permasalahan agraria di Indonesia hingga kini tak kunjung usai. Berbicara agraria maka tidak jauh dari kebutuhan mengenai pertanahan, pengairan, hingga angkasa diatasnya. Maka tidak lain kebutuhan dalam hal ini memunculkan kepentingan yang sering kali bersebrangan antar subjek tertentu, Sepeti munculnya konflik horizontal antar masyarakat hingga penguasaan negara atas tanah yang tidak memberikan solusi untuk rakyat hingga kini masih terjadi.

Video testimoni ini merupakan beberapa pendapat mengenai lingkup permasalahan agraria di Indonesia. Hal ini berhubungan dengan apa itu agraria hingga menyangkut kebijakan pemerintah.
Ini kata mereka tentang persoalan agraria di Indonesia.

Apakah tanah yang dulunya dimiliki rakyat, kini tetap milik rakyat?

Menelisik Keseriusan Reforma Agraria

Oleh: Abdillah Akbar

Selang memasuki tahun ketiga Kabinet Kerja dengan seperangkat Nawa Cita yang selalu ditenteng Presiden Jokowi sepanjang masa jabatannya, belum terlihat keseriusan pemerintah dalam mewujudkan agenda reforma agraria sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria atau UU PA. Seperti halnya dengan celotehan janji era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, reforma agraria juga kerap disebut sebagai Program Prioritas Presiden Joko Widodo. Namun, sebagaimana dalam pelaksanaannya yang tak lepas dari cengkeraman politik pemerintah semata, ketimbang perwujudan dari keadilan sosial dalam arti sebenarnya. Dilihat dari sisi lain, lahan-lahan agraria terus dijarah oleh berbagai jilid kebijakan ekonomi, deregulasi ratusan perundang-undangan yang dipandang menghambat investasi dengan mudah dicabut, liberalisasi sumber daya alam serta monopoli agraria dikumandangkan dengan jelas untuk pemodal besar dengan mengesampingkan hak-hak rakyat. Haus akan ambisi membangun jalan ribuan kilometer, pembangunan rel ganda dan pembangunan pelabuhan besar untuk mendukung tol laut di sepanjang Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Papua membuat masyarakat harus terusir dari tanahnya tanpa mendapatkan jaminan ataupun kompensasi yang sebanding.

Lanjutkan membaca Menelisik Keseriusan Reforma Agraria

Demi Swasembada Pangan, Petani Dikorbankan

Penulis: Jo Cigo

Bertani merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan negeri ini. Tak terbayang apa jadinya bila seluruh petani di Indonesia berhenti mencangkul sawahnya, bisa saja Indonesia akan mengalami krisis pangan yang parah. Tetapi kejadian ini mungkin saja terjadi apabila hak petani direnggut, seperti yang tengah terjadi di Padang. Melalui Surat Edaran (SE) bernomor 521.1/1984/Distanhorbun/2017 Tentang Dukungan Gerakan Percepatan Tanam Padi tertanggal 6 Maret 2017 oleh gubernur setempat, publik dibuat terkejut. Itu dikarenakan SE resmi tersebut mengandung poin yang memerintahkan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dan UPT Pertanian Kecamatan untuk ikut “membantu” program percepatan tanam padi di Sumatera Barat (Sumbar). Yang menurut Irwan Prayitno, Gubernur Sumbar, adalah upaya untuk memenuhi target swasembada pangan. Ada dua SE yang dikeluarkan oleh Gubernur dalam kebijakan ini. SE pertama yang mengundang kontroversi publik kemudian diperjelas dengan SE kedua tertanggal 8 Maret 2017 untuk memperjelas SE sebelumnya.

Lanjutkan membaca Demi Swasembada Pangan, Petani Dikorbankan

Komersialisasi Pendidikan: Berdagang Ilmu demi Pasar

Penulis: Jo Cigo

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar di era globalisasi dan juga sebagai indikator maju tidaknya suatu negara. Dengan pendidikan pula kita dapat mengetahui peradaban suatu bangsa, karena berhasil atau tidaknya pendidikan di sebuah negara dapat mempengaruhi negara tersebut di kemudian hari. Demi terwujudnya kehidupan yang berperadaban, maka pendidikan haruslah memanusiakan manusia. Sebagaimana pendapat salah satu tokoh pendidikan Paulo Freire, ia mengatakan, “Orang yang buta huruf adalah manusia kosong dan itu adalah awal dari penindasan.” Lanjutkan membaca Komersialisasi Pendidikan: Berdagang Ilmu demi Pasar

Cerita yang Masih Terpinggirkan

Penulis: Iko Dian Wiratama

 

“Workin’ nine to five, what a way to make a livin’. Barely gettin’ by, it’s all takin’ and no givin’. They just use your mind and you never get the credit. It’s enough to drive you crazy if you let it. Nine to five, yeah they got you where they want you. There’s a better life, and you dream about it, don’t you? It’s a rich man’s game no matter what they call it and you spend your life puttin’ money in his wallet.” Lanjutkan membaca Cerita yang Masih Terpinggirkan

Ekspresi, Imaji, dan Seni Pembebasan

Penulis: Satria Utama

“Pramoedya Ananta Toer’s 92nd Birthday”. Begitulah doodle yang diangkat oleh Google pada hari Senin, 6 Februari 2017. Saya pun tidak akan tahu bahwa hari itu adalah hari lahir sosok maestro sastra nusantara, Pramoedya Ananta Toer, jika tidak membuka laman Google. Entah saya yang salah atau ekspansi budaya pop yang menggema dalam beberapa dekade ini. Ya, budaya pop memang sangat menenggelamkan nama besar beliau. Tetapi dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang Kakek Pram dan karya-karyanya. Karena pastinya telah banyak tulisan atau artikel tentang beliau yang telah dirilis bertepatan dengan haulnya. Bukan berarti saya tidak mengagumi sastrawan yang karya-karyanya mirip dengan Maxim Gorky ini. Juga bukan berarti saya mengagumi sosoknya agar dianggap heroik, jika mengingat perkataan salah satu kawan saya. Tetapi karena ada sosok pekerja seni lain yang amat saya kagumi, yang juga berulang tahun pada tanggal tersebut.

Beberapa tahun setelah Eyang Pram lahir. Pada tanggal yang sama, tepatnya 6 Februari 1945, lahirlah seorang seniman besar lain bernama Robert Nesta Marley. Atau yang biasa kita kenal dengan sapaan Bob Marley. Sosok yang bukan hanya sekadar pecandu mariyuana, tetapi lebih dari itu. The Prophet, begitulah sebutan para rastafari untuk ikon “The Song of Freedom” ini. Sosok yang lahir dari seorang budak kulit hitam dari kawasan kumuh di Jamaika. Seperti Nelson Mandela, Bob Marley sangat menentang penjajahan, penindasan, ketidakadilan dan yang paling penting ia sangat menentang salah satu anak haram isme-isme di dunia yang bernama rasialisme. Saat pemuda-pemuda Jamaika memilih untuk mendengarkan musik yang dibawa para imperialis, yang berisi sajak anggur dan rembulan (meminjam istilah Wiji Thukul dalam penggalan salah satu puisinya). Bob Marley lebih memilih sibuk berkarya dengan musik bersyair tema-tema pembebasan.

Ini bisa dilihat dari beberapa lagu yang dibawakan oleh “Sang Nabi”. Dalam penggalan lirik lagu berjudul “Redemption Song” yang berbunyi “emancipate yourselves from mental slavery, none but ourselves can free our minds”. Jika dimaknai, lirik lagu itu merupakan sebuah ajakan untuk memerdekakan diri dari mental budak. Bukan melalui orang lain, tapi melalui pikiran kita sendiri. Karena hakikat manusia adalah bebas dan memiliki kuasa penuh atas dirinya, yang berkeputusan dengan kepalanya sendiri dan berjalan di atas kakinya sendiri.

Begitu pun lagu fenomenalnya “No Woman No Cry” yang disalahartikan bahwa lagu ini untuk seseorang yang sedang patah hati. Padahal sepengetahuan saya, Bob Marley bukanlah seorang penyair salon. Ya, ini juga disebabkan oleh gempuran budaya pop yang mematikan nalar kritis kita, termasuk saya. Padahal lagu yang sakral itu berisikan hiburan dan penguatan kepada kaum wanita akibat kehilangan harga diri, keluarga, dan orang-orang yang dicintai sekitaran hidup mereka. Dengan ritual khas reggae, layaknya sebuah moshing musik punk, mengepalkan tangan sembari berdansa atau berjingkrak, ia dapat menggerakkan lautan manusia dengan cinta yang terdapat pada lagu “One Love”. Ia mendendangkan lagu tentang perdamaian, menceritakan konstelasi politik yang pada saat itu sedang mengalami pertikaian antarkubu politik berbeda. Tak jarang lagu-lagu Bob Marley pun mengusung ajakan revolusioner, semisal seruan perlawanan dalam “Get Up, Stand Up”. Juga lagu “Simmer Down” tentang anak-anak gang yang hidup dalam tawuran dan kekerasan.

Mereka, Pram dan Bob Marley, berekspresi dengan aliran realisme ala mereka. Kedua seniman tersebut berekspresi dengan aliran mereka karena konstelasi sosial dan politik yang tidak stabil. Pram menulis untuk berpihak, sementara Bob Marley bermusik juga untuk berpihak. Bukan berarti saya tidak sepakat dengan aliran ekspresi yang lain, tetapi menjadikan ekspresi itu sebagai sebuah pilihan yang bertanggung jawab terhadap pilihan masing-masing. Begitu kata Jean Paul Sartre jika kita ingin menjadi manusia seutuhnya.

Kita semua tahu bahwa ekspresi seseorang sangat dipengaruhi oleh persepsi. Sementara persepsi sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup. Seperti halnya pemaknaan terhadap sebuah penggaris. Apabila pengalaman hidup orang itu hanya biasa-biasa saja, dia akan mengartikan penggaris sebagai sebuah alat untuk membuat garis lurus. Berbeda dengan orang yang gemar menonton anime atau kartun Jepang. Bisa saja mereka mengartikan penggaris tersebut sebagai sebuah alat pembunuh atau shuriken. Pun juga dalam seni. Karya seorang seniman sangat dipengaruhi oleh kondisi material atau sosial mereka.

Berekspresi seperti murid TK yang secara natural menggambar kondisi nusantara (yang seharusnya), dengan gambar sawah, gunung dan lanskap lain. Ayolah kita berekspresi. Berekspresi dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Sesuai dengan konteks kedaerahan masing-masing, karena kita sepakat tidak ada yang absolut di dunia ini. Entah itu berekspresi lewat musik, teks atau imaji. Kita sepakat bahwa wujud pasti musnah. Pram dan Bob adalah wujud, dan mereka sudah musnah. Tetapi tidak dengan bara semangat mereka yang kita warisi. Itu juga menjadi perjuangan kita selanjutnya untuk menghormati kedua almarhum legendaris tersebut.

Karena saya meyakini tidak ada kata terlambat, maka sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun, Eyang Pram dan Om Bob.

Persimpangan Harapan Negeriku

Oleh: Muhammad Nuril Mubin/Ilmu Administrasi Publik

Ketika negeriku bergejolak
Dengan hamburan opini yang berdampak
Membuat tatanan sosial membengkak
Dan membawa gelombang problema menyentak

Ketika negeri subur dibuat hancur
Oleh kekuasaan yang penuh lumpur
Pemimpinnya tidur tersungkur
Hingga masyarakatnya tak pernah akur

Ketika negeri kaya terasa miskin
Tanah ibu pertiwi hanya dibuat main
Sementara teori dijadikan agenda berangin
Akhirnya negeri yang kaya dikuasai orang lain

Kekuasaan dijadikan penindasan
Tapi hukum negeriku belum tegak tanpa landasan
Sehingga kaum berada semakin banyak berlian
Kaum tak punya hanya penuh dengan titipan

Saat ini negeriku gersang dan memudar
Mengikis jiwa yang telah hidup mengakar
Sumber kedaulatan hidup berkeadilan telah pudar
Oleh ketimpangan dan kicauan yang membongkar

Seakan kata-kata menjelma jadi senjata sakti
Yang membentuk doktrinasi untuk membenci
Padahal Pancasila telah menjadi bukti
Yang menyatukan nusantara di tanah ibu pertiwi

Negeriku.. masihkah kau punya harapan?
Harapan yang menyatukan meski banyak persimpangan
Harapan yang mensejahterakan meski banyak penderitaan
Dan harapan yang membuat mesra perbedaan

Ketika kegelisahan bertumpuk dalam ingatan
Hanya harapan yang mendorong tindakan perubahan
Semua itu bukan mimpi dalam angan
Tapi wujudkan dalam kenyataan yang mensejahterakan

Aku teringat ketika reformasi bergelora
Kaum muda menggebu bersuara
Menyuarakan tatanan sosial tanpa sandiwara
Mereka gandrung pergerakan yang sejahtera

Aku berharap semua elemen bangsa
Sadar dan bergerak merubah tatanan yang ada
Dengan kemurnian dasar negara tercinta
Untuk bersama mewujudkan harapan bangsa

Negeriku..
Harapan adalah ketika kita melakukan sesuatu
Maka persimpangan harapan mestinya pemersatu
Saatnya bersatu bergerak maju
Dalam hidup yang fana memberi makna untuk Negeriku…

UAS = Ukuran Angka Semu

Penulis: Helmi Naufal

Ujian Akhir Semester (UAS) dijadikan salah satu cara untuk mengukur pemahaman materi yang telah diajarkan dalam bangku perkuliahan. Suatu metode pengulangan materi-materi perkuliahan berbentuk butir-butir soal yang ditata rapi, hitam di atas putih. Hampir semua perguruan tinggi di Indonesia menggunakan metode tersebut sebagai sumbangan nilai, selain dari nilai tugas terstruktur, kuis, Ujian Tengah Semester (UTS), dan praktikum. Sumbangan angka-angka dari hasil UAS tersebut, berpengaruh banyak dalam penentuan Indeks Prestasi (IP) mahasiswa. Selama ini mahasiswa menjadikan IP sebagai acuan dalam keberhasilannya menyelesaikan proses pendidikannya. Nahas, ketika nilai UAS dijadikan indikator terbesar dalam penghitungan IP. Ribuan bahkan jutaan mahasiswa yang memiliki latar belakang dan tingkat kemampuan yang berbeda, harus dipukul rata oleh sistem UAS. Disamaratakan layaknya jalan tol Anyer-Panarukan dalam hal keberhasilan proses pendidikannya. Sistem ini diperparah dengan pola pikir mahasiswa yang mengejar IP untuk mendapatkan kursi pegawai di perusahaan.

Keadaan ini membuat orientasi mahasiswa kebanyakan berubah. Mereka mengejar hasil akhir pada ketepatan-ketepatan uraian yang ditulis saat UAS. Tekanan sumbangan besar nilai UAS mengalir deras, menjadi tumpukan-tumpukan beban tersendiri saat pekan-pekan ujian berlangsung. Pengulangan materi-materi yang telah diajarkan dengan intensitas tinggi, membentuk gumpalan-gumpalan baru pemahaman yang menerobos otak dalam bingkai-bingkai penghafalan. Ya, mereka harus hafal semuanya. Karena butiran soal tidak memandang siapa yang akan dituju kelak! Seni pemahaman materi yang harusnya dilukis nyata dengan warna-warni kehidupan makin menjauh. Karena sesungguhnya, bukan itu yang memberikan penghargaan atas keberhasilan mahasiswa. Nilai-nilai yang muncul sebagai akhir dari perjalanan belajarnya tanpa sedikit pun membagi teori-teori yang dibutuhkan masyarakat.

Dengan keadaan seperti ini mahasiswa tidak berkuasa atas dirinya sendiri. Mereka selalu dibayangi rasa gelisah saat waktu UAS tiba. Mengurung diri dengan tumpukan-tumpukan buku pada satu waktu. Berangsur-angsur dilemahkan dengan besarnya nilai UAS yang mereka yakini akan merubah hidupnya. Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara berkata, tujuan pendidikan adalah penguasaan diri, sebab di sinilah pendidikan memanusiakan manusia. Selain itu, pendidikan juga harus membantu peserta didik menjadi manusia yang merdeka. Merdeka secara fisik dan mental. Dengan menjadi manusia merdeka kalian berhak menentukan keberhasilan kalian sendiri, bersama tanggung jawab sesama manusia.

Merujuk pada Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. UAS yang hanya menguji pemahaman mahasiswa tentang teori-teori sesuai keilmuan yang dipilihnya. Merah, putih, hijau, cokelat, dan kuning kemampuan mahasiswa dipaksa masuk sedalam-dalamnya ke lingkaran pendidikan. Lingkaran-lingkaran yang seharusnya tidak hanya terbatas pada pengakuan nilai-nilai teori. Secara langsung mahasiswa sebagai manusia merdeka, direbut oleh keberhasilan semu yang diciptakan oleh sistem UAS dalam pendidikan. Sistem UAS seakan-akan tidak merestui mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan pribadinya, sebagaimana yang tertuang dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS. Mahasiswa mencatat, menghafal, mengulangi ungkapan-ungkapan tersebut tanpa membuktikan langsung teori yang didapat di ruang serba mewah ke lorong-lorong kumuh ruang kehidupan. Hanya sekedar memenuhi nafsu dengan predikat “baik”.

Daya tarik UAS dalam pendidikan hanya dapat mengurangi bahkan menghapuskan daya kreasi mahasiswa, serta menumbuhkan sikap mudah percaya. Mahasiswa memiliki pola pikir yang terkotak-kotak dalam kemampuan mistik nilai UAS. Akan terjatuh ke dasar paling bawah tumpukan jerami sambil mengurai-ngurai dan menghafalkan teori tentang cara keluar dari tumpukan jerami. Padahal dia hanya perlu mencoba untuk membuktikan satu teori yang dapat mengeluarkannya dari tumpukan jerami. Mengurai satu per satu tumpukan jerami dan menghafalnya hanya membuat dia semakin jauh, lupa, tidak sadar bahwa yang dilakukan tidak akan menyelesaikan masalah.

Mahasiswa yang sering membesar-besarkan predikatnya sendiri harus berani menjauhkan langkahnya dari sistem UAS. Berani agar tidak terjebak sebagai obyek dalam lingkaran pendidikan. Mahasiswa seharusnya berani memposisikan diri sebagai subyek dalam lingkaran pendidikan. Membuka jalan ke arah pembebasan dalam konteks kesadaran kritis akan fakta-fakta yang ada di lingkungan sekitar. Indikator tertinggi keberhasilan pendidikan pun sewajarnya diubah. Tidak lagi dengan sistem nilai-nilai yang keluar dari UAS. Selain menekan mental sebagian mahasiswa, indikator itu pun menjauhkan mereka pada masalah-masalah mengakar di masyarakat. Teori-teori yang mereka dapat tidak pernah secara dini dibenturkan dengan realitas. Proses kreatif mahasiswa dalam kegiatannya di dalam maupun luar kampus lenyap terbawa mengikuti arus kekuatan UAS. Indikator praksis harus juga dilibatkan menjadi salah satu bagian penting dalam tingkat keberhasilan mahasiswa menempuh pendidikan. Indikator praksis bisa berupa kegiatan-kegiatan keterampilan mahasiswa. Percobaan nyata dengan laboratorium raksasa. Laboratorium berupa masyarakat sekitar. Mendekatkan diri kepada realitas sosial yang terjadi dengan teori-teori yang didapat.

Pemilihan Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (Pemilwa FIA) sedang berlangsung pada Senin, 21 November 2016. Pemilihan elite mahasiswa tahunan yang didanai oleh Dekanat ini selalu menimbulkan konflik horizontal antar mahasiswa. Alih-alih melahirkan pemimpin, Pemilwa justru memicu perpecahan dengan intrik-intrik politik.

Pada tahun ini, Pemilwa diikuti oleh dua pasang Calon Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (Capres Cawapres BEM) yang merebutkan satu posisi di lembaga elite tersebut. Sedangkan sembilan kursi Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) direbutkan oleh sepuluh orang calon anggota DPM.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, intrik politik tidak pernah lepas dari agenda tahunan ini. Pada tahun ini, intrik dimulai saat panitia bersitegang perihal mekanisme pemilihan. Satu kubu dalam panitia menginginkan mekanisme pemungutan suara menggunakan e-vote, namun di lain kubu tetap menginginkan mekanisme secara konvensional. Pertentangan ini pun berakhir dengan keputusan pemungutan suara secara konvensional. Hal ini dikarenakan belum adanya dasar yang kuat untuk melaksanakan e-vote.

Menjelang penyelenggaraan Pemilwa, intrik antar kubu semakin terasa. Dari data yang dihimpun LPM DIANNS, pelbagai masalah terjadi mendekati hari-H. Mulai dari penyebaran video melalui akun anonim yang menuduh Koordinator Panitia Pengawas (Co Panwas) mengampanyekan salah satu capres cawapres. Kemudian terkuak, perekam video tersebut adalah anggota Panwas sendiri. Bahkan permasalahan ini berujung pada segerombolan mahasiswa dari satu golongan menyatroni sidang Panwas di FIA pada Rabu, 16 November 2016 malam lalu.

Aksi saling menjatuhkan antar kubu dalam Pemilwa dan kampanye gelap juga tak luput dari agenda tahun ini. Aksi saling menjatuhkan melalui media sosial semakin masif dilakukan. Tercatat, tidak hanya melalui akun tim sukses, melainkan juga akun-akun anonim dan kiriman ke grup kelas. Salah satu mahasiswa Administrasi Publik 2015 yang enggan disebutkan identitasnya mengeluhkan alih fungsi grup kelas menjadi ajang kampanye dan saling menjatuhkan masing-masing kubu. Bahkan pada saat hari tenang, 20 November 2016 kemarin, LPM DIANNS menerima laporan adanya kampanye gelap yang dilakukan oleh salah satu calon capres cawapres. Namun, dikarenakan pelapor tak memiliki banyak bukti, hal ini urung ditindaklanjuti.

Unik memang. Agenda tahunan yang digadang-gadang menjadi pesta demokrasi mahasiswa FIA justru melahirkan persaingan dan pertentangan antar mahasiswa. Satu pihak menunjukan keunggulan pada publik dan menjatuhkan pihak lain untuk meraih suara. Kemudian, akan dibalas oleh pihak lain. Nanti, apabila pemenang dan pihak yang kalah telah ditentukan, akankah mereka berdamai dan duduk bersama untuk memperjuangkan kepentingan rakyat atau justru menyimpan dendam untuk dibalaskan tahun depan?

Selamat menentukan nasib.