Kategori: Buku

Arok Dedes, Sebuah Gambaran tentang Indonesia dari Pram untuk Kita

Penulis: Dinda Indah Asmara Arok Dedes. Buku ini sebenarnya belum menjadi prioritas saya untuk dibaca dibandingkan dengan karya-karya Pram yang lain, Tetralogi Pulau Buru misalnya, yang hingga kini belum dapat saya tutuk-kan. Namun, Arok Dedes yang terpampang sebagai judulnya telah membawa pikiran saya membayang tentang kisah berdarah keluarga Kerajaan Singosari itu ketika saya melihatnya di ruang baca fakultas. Alhasil, saya pun meraihnya dari rak buku, lalu berasyik masyuk dengannya. Buku ini, sebagaimana Tetralogi Pulau Buru, juga ditulis Pram ketika ia berada dalam pembuangan di pulau yang merupakan salah satu bagian dari Kepulauan Maluku itu. Satu hal yang membuat saya...

Read More

Redistribusi Lahan Menuju Kedaulatan Pangan

Penulis: Hayu Primajaya Judul : LAHAN DAN KEDAULATAN PANGAN Penulis : DR. Ir. Gatot Irianto M.S., DAA. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Halaman : 190 halaman Ukuran : 135mm X 200mm Tahun terbit : 2016 Buku yang diterbitkan pada awal 2016 ini memaparkan mengenai pelbagai permasalahan lahan dan kedaulatan pangan yang ada di Indonesia. Dalam hal ini, lahan dan kedaulatan pangan merupakan dua hal yang tak terpisahkan, karena sejatinya kedaulatan pangan berbeda dengan ketahanan pangan. Jika ketahanan pangan menekankan pada ketersediaan pangan bagi seluruh warga negara, sekalipun harus mengimpor dari luar negeri, kedaulatan pangan lebih kepada pemenuhan kebutuhan pangan...

Read More

Diskursus : Gagasan Politik Machiavelli

Oleh: Satria Utama Judul: Diskursus Penulis: Niccolo Machiavelli Penerjemah: Yudi Santoso dan Sovia VP Penerbit: Narasi dan Pustaka Promethea Halaman: 452 halaman Ukuran: 16 cm x 24 cm Paling orang mengenal Niccolo Machiavelli hanya dari membaca The Prince atau yang dalam bahasa Italia Il Principe (Sang Pangeran). Ini menjadi batu sandungan terbesar untuk mengenal Machiavelli. Karena sederhananya, dalam The Prince yang cukup singkat itu, pemikiran Machiavelli dikenal sebagai pemikiran politik yang jahat. Sedangkan, dalam karyanya yang lain, yaitu The Discourses (Diskursus), tampaklah ia sebagai republikan. Demikian pun, diskursus memuat ide politik Machiavelli lebih kaya. Boleh dikatakan, Diskursus adalah testamen politik Machiavelli yang terlengkap. Jika buku The Prince besar karena intensitasnya, Diskursus besar karena bermacam macam kandungan di dalamnya. Jika nama The Prince besar karena buku ini memberikan gambaran tentang tata kekuatan pemerintahan, Diskursus besar karena memberikan kesatuan dalam negara. Terakhir, kalau nama The Prince besar karena sifat polemisnya, Diskursus besar karena keseimbangannya. Selama ini muncullah yang mengatakan bahwa Machiavelli merupakan pelopor ilmu politik modern yang amoral, karena dicurigai menganut paham politik menghalalkan segala cara. Lebih lanjut, istilah Machiavellianisme dikonotasikan sebagai segala pikiran, sikap, dan tindakan kotor dan kejam dalam ranah politik. Salah kaprah kepada Machiavelli dan pemikirannya ini yang disebabkan oleh kekeliruan dalam pengertian Machiavelli, terutama mengenai karyanya, sang pangeran. Dalam karya tersebut, Machiavelli mengungkapkan. Yang ada pada waktu itu. Machiavelli segala hal yang nyata pada zamannya tersebut, dan bukan apa yang ideal atau ideal yang dia inginkan, yang harus dilakukan oleh...

Read More

Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda

Penulis : Dinda Indah Asmara Judul                    : Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda Penulis                  : Multatuli atau Eduard Douwes Dekker Penerjemah         :Inggrid Dwijadi Nimpoeno Penerbit                : Qanita Jumlah halaman : 477 halaman Ukuran                  : 21 cm x 12 cm Rakyat kecil adalah golongan yang rawan tertindas. Penindasan terhadap mereka terjadi karena sistem yang benar, yaitu rakyat adalah tuan dan pejabat negara adalah pelayan mereka yang telah diputarbalikkaan. Pejabat menjadi tuan dan rakyat menjadi pelayan. Harta dan tenaga rakyat diperas, bahkan mereka juga dibodohkan demi perut kenyang penguasa. Penindasan seperti ini telah terjadi sejak dulu, saat orang-orang masih menggunakan merpati untuk mengirim surat, sampai saat ini era smartphone dan media sosial. Penindasan ini menyebabkan rakyat kehilangan haknya. Pembodohan oleh sistem yang dibuat penguasa menyebabkan rakyat tidak tahu menahu mengenai hak-haknya. Sehingga para penguasa dengan bebas bisa terus melakukan perampokan tanpa tuntutan. Penindasan terhadap rakyat kecil haruslah diakhiri. Sejarah telah mencatat orang-orang dan berbagai karya yang telah berjuang untuk membebaskan rakyat kecil dari penindasan. Max Havelaar adalah salah satunya. Pramoedya Ananta Toer menyebutnya sebagai buku yang membunuh kolonialisme. Buku ini sebenarnya adalah pengalaman penulisnya sendiri yaitu Multatuli, ketika melihat kesewenang-wenangan pejabat saat menjabat sebagai...

Read More

Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela Bacaan Wajib untuk Pendidikan

Penulis : Zendy Titis Sumber gambar : wikipedia.com Judul                      : Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela Penulis                   : Tetsuko Kuroyanagi Penerbit                 : Gramedia Jumlah halaman  : 272 halaman Terbit                      : 2003 Jenis buku             : Novel autobiografi Malang, DIANNS.org “ Sekolah yang membebaskan merupakan dambaan banyak orang. Sayangnya, sistem pendidikan formal di negeri kita masih mengikuti aturan-aturan konvensional. Taman kanak-kanak hingga sekolah dasar memberikan hal yang sama kepada murid-muridnya. Padahal, mereka semua berbeda. Tiap-tiap dari mereka memiliki bakat yang harus diberikan porsi tersendiri agar berkembang. Seperti cerita dalam novel yang ditulis pengarangnya sebagai memoar masa kecilnya ini. Totto-chan, tokoh utama dalam buku ini, baru kelas satu ketika dia dikeluarkan dari sekolahnya. Ia dikeluarkan karena tingkah lakunya membuat guru-gurunya kehilangan kesabaran. Misalnya ketika ia merasa tertarik dengan keberadaan laci di meja kelasnya. Totto-chan yang periang dan selalu penasaran, ratusan kali membuka dan menutup laci mejanya sambil memasukkan atau mengambil sesuatu. Lalu di lain waktu, ia berdiri di depan jendela untuk memanggil pemusik jalanan. Begitu pemusik itu pergi setelah memainkan lagu, ia tetap berdiam di jendela, menunggu pemusik yang lain atau berbicara dengan seekor burung. Saking hilangnya akal untuk menghadapi Totto-chan,...

Read More