Arsip Kategori: Beranda

Kampung 3G (Glintung Go Green)

Reporter: Dinda Indah dan Bimo Adi

Glintung Go Green (3G), merupakan sebutan kampung yang bernuansa hijau asri, berada di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Belimbing, Kota Malang, tepatnya RW 23. Nuansa ini didukung oleh tanaman hidroponik yang menghiasi sepanjang jalan perkampungan. Selain itu, kebersihan pemandangan perkampungan dan jalan yang terjaga, buat kesan lingkungan hidup yang sehat. Gerakan tersebut digagas oleh ketua RW, Bambang Irianto. Ia menuturkan pertama kali mengusung gerakan ramah lingkungan, karena kampung yang sekarang asri, dahulu kerap dilanda banjir dan kesehatan warga yang rentan akan penyakit degeneratif hingga menimbulkan angka kematian warga.

Pertama kali gerakan ini disosialisasikan tidak banyak warga yang mendukung. Untuk membangun kesadaran warga dalam mendukung gerakan ini tidak mudah, banyak kendala yang ditemui. Misalnya, dana untuk menanam yang dipermasalahkan warga. Namun, Ketua RW kampung ini memiliki cara yang jitu untuk mengajak warganya menghijaukan lingkungan, yaitu dengan tidak memberikan layanan administrasi kepada warga yang tidak mau menanam tanaman di rumahnya. Contoh, setiap warga yang meminta surat untuk perkawinan, diberikan syarat wajib menanam satu tanaman di lingkungan rumahnya. Selain itu membawa dua buah botol bekas yang menjadi syarat warga dalam pengambilan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Lanjutkan membaca Kampung 3G (Glintung Go Green)

Penyamun di Kampung Srikandi

Oleh: Athika Sri A.

Belum puaskah kau tertawa
Tidur pulas beralaskan gua emas
Tak kau pikirkan bala yang kau buat
Merampas tanah di kampung orang

Para Srikandi-ku tidur dibawah tenda hitam
Menjaga permadaniku agar tak ber-abu
Para Srikandi-ku datang dengan memasung jalan
Berharap sang Ratu Adil menitipkan titahnya

Permadani hijauku yang malang sekarang
hilang tak terlihat
Permadani hijauku yang usang sekarang
tandus tak tertinggal

Hadir apa yang kau buat wahai penjarah!
Harta karunku yang melimpah, lanun datang menjarahnya
Sumber dahagaku yang mengalir deras, sekarang kering kerontang tak tertinggal
Dulu padiku yang menguning, kini mengabu tak mau

Bangsat !!
Lumbung makananku menjadi lumbung semen
Mulutku tak sudi mengunyah pasir abumu
Kembalikan surga kami
Enyah kau! Angkat kakimu dari tanah leluhur kami

Ilustrasi oleh: Fadhila Isniana

Saat ini lingkungan menjadi isu yang hangat di masyarakat, seperti masalah pembangunan industri yang memiliki dampak langsung terhadap lingkungan maupun sosial ekonomi.

Di Tuban, ada industri pabrik semen yang merusak lingkungan melalui eksploitasi Karst secara besar-besaran. Selain itu, asap dan debu dari pabrik air mani tersebut bisa mengenaskan udara yang bisa menganggu kesehatan warga. Desa yang berada di sekitar pabrik memiliki jumlah kematian yang tidak wajar. Sebanyak 61 warga dalam kurun waktu 45 hari. Masalah di Tuban ini hanya segelintir contoh dari banyak kasus yang ditimbulkan oleh pembangunan industri di dunia.

Ilustrasi oleh: M. Yusuf Isma’ilRaden Ajeng Kartini atau RA Kartini adalah sosok pahlawan nasional yang dikenal lekat dengan emansipasi wanita. Beliau lahir pada tanggal 21 April 1879, dan pada tahun 1964 dicetuskan untuk diperingati setiap saat oleh Presiden pertama RI, Sukarno. Berdasarkan Keppres No. 108 Tahun 1964, RA Kartini disahkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Cita-citanya untuk menyetarakan hak wanita dan hak pria pada masa itu menjadi angin segar bagi masa depan kaum wanita.Karena wanita pada masa itu kurang dalam status sosial di masyarakat. Setelah menikah, beliau juga mendirikan sekolah wanita di Rembang.

Lanjutkan membaca

Keberadaan pabrik semen telah banyak nenimbulkan masalah bagi lingkungan dan kesehatan. Salah satunya berita tentang 61 warga Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Tuban, Jawa Timur dilaporkan meninggal dalam kurun waktu 45 hari. Diantaranya meninggal akibat penyakit paru – paru. Saat ini Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) sedang menelusuri fakta lapangan terkait kasus tersebut. Masih maukah Anda berkompromi dengan pembangunan pabrik semen didaerah?

Diskursus : Gagasan Politik Machiavelli

Myhome_2

Oleh: Satria Utama

Judul: Diskursus

Penulis: Niccolo Machiavelli

Penerjemah: Yudi Santoso dan Sovia VP

Penerbit: Narasi dan Pustaka Promethea

Halaman: 452 halaman

Ukuran: 16 cm x 24 cm

Paling orang mengenal Niccolo Machiavelli hanya dari membaca The Prince atau yang dalam bahasa Italia Il Principe (Sang Pangeran). Ini menjadi batu sandungan terbesar untuk mengenal Machiavelli. Karena sederhananya, dalam The Prince yang cukup singkat itu, pemikiran Machiavelli dikenal sebagai pemikiran politik yang jahat. Sedangkan, dalam karyanya yang lain, yaitu The Discourses (Diskursus), tampaklah ia sebagai republikan. Demikian pun, diskursus memuat ide politik Machiavelli lebih kaya. Boleh dikatakan, Diskursus adalah testamen politik Machiavelli yang terlengkap. Jika buku The Prince besar karena intensitasnya, Diskursus besar karena bermacam macam kandungan di dalamnya. Jika nama The Prince besar karena buku ini memberikan gambaran tentang tata kekuatan pemerintahan, Diskursus besar karena memberikan kesatuan dalam negara. Terakhir, kalau nama The Prince besar karena sifat polemisnya, Diskursus besar karena keseimbangannya.
Lanjutkan membaca Diskursus : Gagasan Politik Machiavelli

Srikandi Kendeng dan Semen

Ilustrasi: M. Yusuf IsmailPenulis: Bimo Adi Kresno

Sebuah perjuangan heroik seorang perempuan identik dengan Srikandi. Ia adalah salah satu tokoh wanita dalam pewayangan. Ia dikenal sebagai wanita pemberani dan berwatak keras. Namun, Srikandi kini hadir dalam perjuangan yang berbeda. Tak hanya seorang, mereka datang untuk memperjuangkan tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan. Para Srikandi ini berasal dari Rembang, Jawa Tengah. Perjuangan mereka cukup menggugah jiwa kemanusiaan. Terhitung sejak Senin, 11 Maret 2016 sampai dengan Rabu, 13 Maret 2016, sembilan orang Srikandi tak lelah berjuang.

Kesembilan orang perempuan perkasa tersebut melakukan aksi di depan Istana Negara berbekal harapan untuk menarik perhatian Jokowi. Upaya ini merupakan desakan kepada Presiden Republik Indonesia tersebut agar menjamin pabrik semen di wilayah mereka tidak berdiri. Dalam aksinya, mereka mengecor kaki dengan semen. Semen lalu mengering dan mulai memasung kedua kaki para perempuan tua tersebut. Aksi simbolis ini bermakna pendirian pabrik semen dapat membelenggu dan memasung kehidupan masyarakat di sana. Selain itu, mereka juga ingin mengingatkan tentang akibat pembangunan pabrik semen di wilayah pertanian pegunungan Kendeng Utara, Jawa Tengah. Pembangunan tersebut berpotensi mematikan mata pencaharian masyarakat yang mayoritas petani. Tidak bisa dibayangkan bagaimana anak cucu mereka di masa depan menghadapi kehidupan. Aksi tersebut juga menjadi cerminan kondisi alam Indonesia sekarang yang marak dieksploitasi. Lanjutkan membaca Srikandi Kendeng dan Semen

Dampak Krisis Tayangan Televisi Bagi Anak

Ilustrasi: Bimo Adi KresnoOleh: Esa Kurnia A

Konon, di Kepulauan Solomon, ada sebuah tradisi yang tidak termasuk para menunya untuk meneriaki sebuah pohon besar. Dikisahkan dalam sebuah cerita, ada sebuah pohon besar, berakar kuat, dan sulit ditebang bahkan dengan menggunakan kapakuhnya. Pada saat itu, para warga Salomo tidak menebang pohon besar tersebut, meluncur mereka bermaininya beramai-ramai kemudian mulai mencaci maki pohon tersebut; Meneriaki dengan kata-kata negatif dan kasar ke pohon itu setiap hal. Setelah 40 hari pohon itu pun layu, mengering, dan akhirnya pun mati.

Cerita diatas mengisyaratkan kepada kita bagaimana lingkungan eksternal memiliki pengaruh dan dampak besar terhadap perkembangan mental dan psikis individu. Pada zaman modern, batasan-batasan lingkungan eksternal menjadi sangat bias. Hampir seluruh kalangan masyarakat, termasuk remaja dan anak-anak kini dapat mengakses informasi dengan cepat dan mudah. Dari banyaknya jenis media massa, televisi merupakan media massa paling “populer” di indonesia. Hal ini menurut Effendi, tokoh ilmu komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (FIKOM UNPAD), karena televisi berbeda dengan media massa lainnya. Lanjutkan membaca Dampak Krisis Tayangan Televisi Bagi Anak