Sumber gambar: www.goodreads.comOleh : Hendra Kristopel

Judul  : Bertuhan Tanpa Agama

Penulis  : Bertrand Russell

Penerjemah : Imam Baehaqi

Penerbit : Resist Book

Halaman : 321 halaman

Ukuran  : 14 cm x 21 cm

Pada masa Renaissance (pencerahan) dan setelahnya, mulai banyak bermunculan pemikiran-pemikiran skeptis terhadap agama yang sebelumnya dirasakan sangat membelenggu kehidupan manusia. Bertrand Russell termasuk ke dalam kelompok pemikir bebas yang terus menulis masalah agama. Agama adalah salah satu pokok masalah dari tulisan-tulisan awal dalam buku rahasia harian yang mulai disimpan ketika ia berusia 17 tahun. Sepanjang hidupnya, Russell mendekati agama sebagai seorang filosof, sejarawan, kritikus sosial, dan individu. Russell mengemukakan penentangannya terhadap agama dalam debat publik dengan para tokoh agama terkemuka dan merasa senang membuat sindiran-sindiran anti-agama, seperti jawabannya, ketika ia dibawa ke hadapan Tahta Langit (Tuhan), ia akan menegur Penciptanya karena tidak menyediakan cukup bukti akan eksistensi-Nya.

Russell adalah seorang yang agnostik saat menuangkan pemikirannya ke dalam setiap tulisan hariannya. Agnostik adalah orang yang berpikir bahwa mungkin mengetahui kebenaran dalam masalah-masalah seperti Tuhan dan kehidupan akhirat, masalah yang menjadi perhatian setiap agama. Apakah agnostik itu ateis? Tidak. Agnostik berbeda dengan ateis, dan berbeda pula dengan orang yang beragama. Ateis dapat mengetahui bahwa Tuhan itu tidak ada. Agama dapat mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Sedangkan agnostik adalah menunda keputusan. Mengatakan bahwa tidak ada dasar yang mencukupi untuk menerima atau menolak. Agnostik tidak menerima “otoritas” seperti hukum Tuhan dimana orang beragama menerimanya. Tentu saja ia akan berusaha mengambil pelajaran dari kebijaksanaan orang lain, tetapi ia akan memilih untuk dirinya sebagai orang-orang yang ia anggap bijak. Konsep kebaikan dan kejahatan tidak didasarkan pada perintah Tuhan, Nabi, atau motivasi hari akhir. Tidak juga pada hati nurani. Melainkan pada empati. Konsep empati ia terapkan untuk mendorong orang-orang yang putus asa tidak dengan dalil-dalil, melainkan dengan sebuah logika sederhana: “Saya akan mendorong orang yang putus asa dengan menunjukkan sesuatu yang bisa ia capai. Pada diri kita terdapat sesuatu yang bisa dilakukan, dan kita akan menjadi lebih baik dengan melakukannya. Tidak perlu melibatkan agama. Selalu ada banyak hal yang perlu Anda kerjakan. Misalkan ia berupa kebaikan Anda sendiri. Anda makan pagi tetapi Anda tidak peduli pada agama. Jika Anda peduli pada orang lain Anda akan membutuhkan sangat sedikit agama untuk menyediakan mereka makan pagi. Selalu ada sesuatu yang bisa Anda lakukan untuk orang lain, dan saya memasukkan Anda di dalamnya. Anda tidak memerlukan agama untuk mengetahui hal ini, Anda hanya membutuhkan tindakan rasional atas apa yang mungkin” (halaman 120).

Apakah agnostik berpikir bahwa sains dan agama tidak mungkin berdamai? Jawabannya tergantung pada apa yang dimaksud dengan agama. Jika agama berarti semata-mata sistem etika, ia bisa didamaikan dengan sains. Jika agama berarti sistem dogma, dianggap sebagai benar dan tidak bisa dipertanyakan, ia tidak kompatibel dengan semangat sains, yang tidak menerima fakta tanpa bukti, dan juga berpegang bahwa kepastian seratus persen hampir tidak pernah bisa dicapai.

Russell sangat terkesan oleh Tiongkok dan sikap santai rakyat Tiongkok pada agama. Misalnya, ia terkesan oleh kenyataan bahwa Konfusianisme yang berkuasa lebih menaruh perhatian pada etika daripada dogma. Sikap yang toleran ini sangat berbeda dengan agama pada umumnya yang menekankan dogma dan keyakinan yang benar. Agama-agama pribumi yang diwariskan dari zaman kuno berbeda dari agama-agama sejarah– agama-agama besar dunia seperti Budhisme, Islam, Kristen, dan Marxisme– (Sosialisme Marxian diyakini secara luas dan kuat akan menjadi agama dalam satu atau dua ribu tahun). Agama pribumi tidak bisa dibandingkan karena mereka terbatas pada satu kebudayaan dan hanya diwariskan dari generasi ke generasi. Tetapi masing-masing agama besar mengklaim bahwa hanya ajarannya saja yang benar dan semua ajaran lain sesat. Masing-masing ingin menyebarkan ajarannya ke seluruh belahan dunia. Bagi masyarakat China sulit memahami bahwa keragaman agama tidak bisa hidup berdampingan, karena di China, Budhisme, Konfusianisme, dan kredo-kredo lain bisa dipeluk secara bersamaan dan masing-masing toleran pada yang lain. Tetapi di belahan bumi lainnya, menganggap agama mereka mempunyai kebenaran mutlak sesudah mereka meyakininya. Agama-agama asing ditolak, dan sebagai akibatnya agama-agama yang bersaing tidak bisa hidup berdampingan. Dari sifat intoleran itu banyak perang disebabkan oleh agama yang doktrinnya dijalankan secara keras, sehingga tidak mengizinkan toleransi atas agama saingannya. Ketika tujuan sudah ditetapkan maka cara-cara untuk mencapainya bisa tidak mengindahkan moral. Jadi cara-cara yang menindas digunakan dengan hasil-hasil yang tidak baik. Itulah yang disebut dogmatis, yang berarti percaya pada doktrin mengharuskan seseorang melaksanakannya, tidak hanya meyakininya sebagai teori.

Dikatakan bahwa agama mempunyai kegunaan lain, yaitu memajukan moralitas. Moralitas dapat meningkatkan kebahagiaan manusia. Apakah agama membantu meningkatkan kebahagiaan manusia? Russell berpikir bahwa tidak bisa diingkari bahwa agama memberi sumbangan besar bagi sejarah dan mungkin terus memberi sumbangan di masa mendatang. Semua agama, kecuali agama yang mempunyai kecenderungan revolusioner, cenderung mempertahankan status quo dengan mendorong pengendalian pribadi dan pengabdian untuk masyarakat. Jika agama mengajarkan kehancuran, maka ia akan tersingkir. Karena agama membantu mempertahankan tatanan sosial, memungkinkan orang menikmati hidup yang lebih bahagia. Sayangnya, harga yang harus dibayar dari manfaat ini terlalu mahal. Pertama, diperlukan banyak pengorbanan untuk membangun institusi yang kuat untuk menjamin tatanan sosial. Di zaman barbar, manusia dikorbankan untuk Tuhan dan juga benar sekarang ini banyak aspek kebahagiaan dikorbankan sia-sia. Kedua, karena agama bertujuan mempertahankan institusi sosial yang ada, ia mengajarkan sifat konservatif yang menolak setiap inovasi kelembagaan atau gagasan-gagasan baru. Jika tujuan agama adalah menjaga stabilitas sosial, maka ide-ide baru akan dikorbankan, dan karenanya kemajuan menjadi terhambat. Sehingga di masa mendatang sulit mengatakan bahwa kebahagiaan itu meningkat. Di bawah sistem keagamaan yang kaku, perkembangan individu pun terhambat. Agama yang bersifat menindas ini akan menjadikan mereka sulit berkembang dalam keahlian mereka secara bebas. Oleh karenanya, Russell menyatakan bahwa peradaban suatu bangsa jelas akan mundur di bawah penindasan agama.

Russell berpikiran bahwa agama tidak bermanfaat bagi moralitas. Pertama, karena kepercayaan pada agama tidak seluruhnya didasarkan pada fakta, sehingga palsu. Kedua, mereka yang mempunyai sikap religius tidak bersedia berpegang pada kepercayaan lain selain agamanya, atau mereka menjalani kebiasaan buruk berupa sikap tidak tulus dan tidak konsisten dengan berpegang pada kepercayaan yang mereka ketahui sebagai palsu.

Russell berpikiran bahwa kekurangan agama berasal dari sikap penentangannya yang konservatif atas pemikiran dan gagasan baru. Dan agama selalu membuat penilaian semata-mata menurut keinginan manusia, mengganti bukti obyektif dengan perasaan subyektif. Sebagai akibatnya, agama menciptakan dunia yang penuh dengan Tuhan-tuhan, semakin dalam orang percaya pada agama, semakin banyak Tuhan ada.

Russell pun menyatakan bahwa agama, terutama dan sebagian besar, didasarkan pada rasa takut. Rasa takut adalah dasar dari segalanya, rasa takut akan yang misterius, rasa takut akan kekalahan, rasa takut akan kematian. Dan rasa takut adalah induk dari kekejaman. Karenanya tidak heran kalau agama dan kekejaman berjalan beriringan. Ini karena rasa takut menjadi dasar dari keduanya. Di dunia ini kita mulai memahami sesuatu dan menguasainya dengan bantuan sains, yang secara bertahap melawan ajaran yang dogmatis. Sains bisa membantu manusia menghilangkan ketakutan dimana manusia hidup di dalamnya. Sains dan hati manusia bisa mengajari, untuk tidak lagi mencari dukungan semu, tidak lagi mencari “sekutu di langit”, tetapi melihat pada upaya kita sendiri di bawah langit untuk menjadikan dunia ini sebagai tempat yang cocok ditinggali. Dunia membutuhkan hati dan pikiran yang terbuka, dan keduanya bisa dicapai bukan melalui sistem yang kaku, baik lama atau baru.