Penulis: LPM DIANNS

Kampung 3G (Glintung Go Green)

Reporter: Dinda Indah dan Bimo Adi Glintung Go Green (3G), merupakan sebutan kampung yang bernuansa hijau asri, berada di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Belimbing, Kota Malang, tepatnya RW 23. Nuansa ini didukung oleh tanaman hidroponik yang menghiasi sepanjang jalan perkampungan. Selain itu, kebersihan pemandangan perkampungan dan jalan yang terjaga, buat kesan lingkungan hidup yang sehat. Gerakan tersebut digagas oleh ketua RW, Bambang Irianto. Ia menuturkan pertama kali mengusung gerakan ramah lingkungan, karena kampung yang sekarang asri, dahulu kerap dilanda banjir dan kesehatan warga yang rentan akan penyakit degeneratif hingga menimbulkan angka kematian warga. Pertama kali gerakan ini disosialisasikan tidak banyak warga yang mendukung. Untuk membangun kesadaran warga dalam mendukung gerakan ini tidak mudah, banyak kendala yang ditemui. Misalnya, dana untuk menanam yang dipermasalahkan warga. Namun, Ketua RW kampung ini memiliki cara yang jitu untuk mengajak warganya menghijaukan lingkungan, yaitu dengan tidak memberikan layanan administrasi kepada warga yang tidak mau menanam tanaman di rumahnya. Contoh, setiap warga yang meminta surat untuk perkawinan, diberikan syarat wajib menanam satu tanaman di lingkungan rumahnya. Selain itu membawa dua buah botol bekas yang menjadi syarat warga dalam pengambilan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Ada banyak langkah yang diambil untuk menghijaukan kampung ini, seperti mengoptimalkan fungsi decomposer untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk, memperbanyak lubang biopori agar air terserap maksimal, dan mengurangi penggunaan listrik. Selain itu, di kampung ini juga ada bank sampah. Sehingga sampah-sampah non–organik sisa kegiatan rumah tangga...

Read More

Gedung Baru FIA UB: Sarana dan Prasarana Belum Merata

Reporter : Antonius Bagas dan Helmi Naufal Malang, DIANNS – Terhitung sejak Senin, 20 Februari 2017, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) telah memfungsikan Gedung E yang merupakan gedung baru di FIA. Meski fisik luar bangunan selesai dibangun dan gedung sudah digunakan pada hari pertama perkuliahan semester genap, namun ketersediaan sarana dan prasarana masih belum merata. Hingga hari ketiga kuliah masih ditemukan beberapa kekurangan terkait ruang kelas. Beberapa kelas masih belum dilengkapi proyektor dan wifi router. Ditemui pula ruang kelas yang jadwal penggunaannya bertabrakan. Kantin dan minimarket yang merupakan rencana awal, sampai hari ini masih belum terealisasi. Begitu...

Read More

(tunggu dan) dengarkan ceritaku

Penulis: Christine (perpisahan) katamu, hidup tak pernah kehabisan cerita. Ia selalu mengerami masalah-masalah yang tak pernah gagal menetas. seiring bertambahnya umur, ia tumbuh, sengaja tersesat, lalu-lalang, kesana, kesini, dan tidak sengaja mempertemukan kita. aku dan kau akan saling melihat, mendengar, meraba simpati, empati, jatuh hati lelah, muak, jengah, nyinyir dan diam-diam menasihati. (pertemuan) akhirnya, aku masih menjadi matamu yang menabung cerita kepedihan petani, pelayan, pembantu, pemulung, pengamen, pengemis, pengamat, dan pemimpi yang ingin kuliah setinggi-tinggi...

Read More

Ekspresi, Imaji, dan Seni Pembebasan

Penulis: Satria Utama “Pramoedya Ananta Toer’s 92nd Birthday”. Begitulah doodle yang diangkat oleh Google pada hari Senin, 6 Februari 2017. Saya pun tidak akan tahu bahwa hari itu adalah hari lahir sosok maestro sastra nusantara, Pramoedya Ananta Toer, jika tidak membuka laman Google. Entah saya yang salah atau ekspansi budaya pop yang menggema dalam beberapa dekade ini. Ya, budaya pop memang sangat menenggelamkan nama besar beliau. Tetapi dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang Kakek Pram dan karya-karyanya. Karena pastinya telah banyak tulisan atau artikel tentang beliau yang telah dirilis bertepatan dengan haulnya. Bukan berarti saya tidak mengagumi sastrawan yang karya-karyanya mirip dengan Maxim Gorky ini. Juga bukan berarti saya mengagumi sosoknya agar dianggap heroik, jika mengingat perkataan salah satu kawan saya. Tetapi karena ada sosok pekerja seni lain yang amat saya kagumi, yang juga berulang tahun pada tanggal tersebut. Beberapa tahun setelah Eyang Pram lahir. Pada tanggal yang sama, tepatnya 6 Februari 1945, lahirlah seorang seniman besar lain bernama Robert Nesta Marley. Atau yang biasa kita kenal dengan sapaan Bob Marley. Sosok yang bukan hanya sekadar pecandu mariyuana, tetapi lebih dari itu. The Prophet, begitulah sebutan para rastafari untuk ikon “The Song of Freedom” ini. Sosok yang lahir dari seorang budak kulit hitam dari kawasan kumuh di Jamaika. Seperti Nelson Mandela, Bob Marley sangat menentang penjajahan, penindasan, ketidakadilan dan yang paling penting ia sangat menentang salah satu...

Read More

Sajak Tembok Tua

Oleh : Wasesa Rizky Apa itu kekuasaan? Apa itu keadilan? Mengapa berisik sekali orang-orang ini? Tembok tua nan gagah menjulang di depanku. Menyombongkan kekuatannya. Angkuh akan besar dirinya dan betapa aku tidak berarti di depannya. Kau tahu? Sekali tendang mampus kau! Kau tinggi namun rapuh. Kau besar namun ringkih. Lihat dirimu! Membusuk oleh zaman. Ditinggalkan, diasingkan. Berdiri tegap sendirian di antara padat rerumputan. Tak acuh! Namun kenapa kau masih mengagungkan dirimu? Apa kau berkuasa? Apa kekuasaanmu? Lihat dirimu! Serat jamur dan akar lumut mengerogoti setiap inci dari badanmu. Semut pun enggan membuat pelabuhannya di dirimu. Tapak cicak pun tak membekas di permukaan. Namun kenapa kau masih bicara keadilan? Apa yang kau berikan? Apa yang kau hidupi? Apa keadilanmu? Kau cuma omong kosong! Matilah kau ditelan...

Read More