Penulis: Satria Utama

“Pramoedya Ananta Toer’s 92nd Birthday”. Begitulah doodle yang diangkat oleh Google pada hari Senin, 6 Februari 2017. Saya pun tidak akan tahu bahwa hari itu adalah hari lahir sosok maestro sastra nusantara, Pramoedya Ananta Toer, jika tidak membuka laman Google. Entah saya yang salah atau ekspansi budaya pop yang menggema dalam beberapa dekade ini. Ya, budaya pop memang sangat menenggelamkan nama besar beliau. Tetapi dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas tentang Kakek Pram dan karya-karyanya. Karena pastinya telah banyak tulisan atau artikel tentang beliau yang telah dirilis bertepatan dengan haulnya. Bukan berarti saya tidak mengagumi sastrawan yang karya-karyanya mirip dengan Maxim Gorky ini. Juga bukan berarti saya mengagumi sosoknya agar dianggap heroik, jika mengingat perkataan salah satu kawan saya. Tetapi karena ada sosok pekerja seni lain yang amat saya kagumi, yang juga berulang tahun pada tanggal tersebut.

Beberapa tahun setelah Eyang Pram lahir. Pada tanggal yang sama, tepatnya 6 Februari 1945, lahirlah seorang seniman besar lain bernama Robert Nesta Marley. Atau yang biasa kita kenal dengan sapaan Bob Marley. Sosok yang bukan hanya sekadar pecandu mariyuana, tetapi lebih dari itu. The Prophet, begitulah sebutan para rastafari untuk ikon “The Song of Freedom” ini. Sosok yang lahir dari seorang budak kulit hitam dari kawasan kumuh di Jamaika. Seperti Nelson Mandela, Bob Marley sangat menentang penjajahan, penindasan, ketidakadilan dan yang paling penting ia sangat menentang salah satu anak haram isme-isme di dunia yang bernama rasialisme. Saat pemuda-pemuda Jamaika memilih untuk mendengarkan musik yang dibawa para imperialis, yang berisi sajak anggur dan rembulan (meminjam istilah Wiji Thukul dalam penggalan salah satu puisinya). Bob Marley lebih memilih sibuk berkarya dengan musik bersyair tema-tema pembebasan.

Ini bisa dilihat dari beberapa lagu yang dibawakan oleh “Sang Nabi”. Dalam penggalan lirik lagu berjudul “Redemption Song” yang berbunyi “emancipate yourselves from mental slavery, none but ourselves can free our minds”. Jika dimaknai, lirik lagu itu merupakan sebuah ajakan untuk memerdekakan diri dari mental budak. Bukan melalui orang lain, tapi melalui pikiran kita sendiri. Karena hakikat manusia adalah bebas dan memiliki kuasa penuh atas dirinya, yang berkeputusan dengan kepalanya sendiri dan berjalan di atas kakinya sendiri.

Begitu pun lagu fenomenalnya “No Woman No Cry” yang disalahartikan bahwa lagu ini untuk seseorang yang sedang patah hati. Padahal sepengetahuan saya, Bob Marley bukanlah seorang penyair salon. Ya, ini juga disebabkan oleh gempuran budaya pop yang mematikan nalar kritis kita, termasuk saya. Padahal lagu yang sakral itu berisikan hiburan dan penguatan kepada kaum wanita akibat kehilangan harga diri, keluarga, dan orang-orang yang dicintai sekitaran hidup mereka. Dengan ritual khas reggae, layaknya sebuah moshing musik punk, mengepalkan tangan sembari berdansa atau berjingkrak, ia dapat menggerakkan lautan manusia dengan cinta yang terdapat pada lagu “One Love”. Ia mendendangkan lagu tentang perdamaian, menceritakan konstelasi politik yang pada saat itu sedang mengalami pertikaian antarkubu politik berbeda. Tak jarang lagu-lagu Bob Marley pun mengusung ajakan revolusioner, semisal seruan perlawanan dalam “Get Up, Stand Up”. Juga lagu “Simmer Down” tentang anak-anak gang yang hidup dalam tawuran dan kekerasan.

Mereka, Pram dan Bob Marley, berekspresi dengan aliran realisme ala mereka. Kedua seniman tersebut berekspresi dengan aliran mereka karena konstelasi sosial dan politik yang tidak stabil. Pram menulis untuk berpihak, sementara Bob Marley bermusik juga untuk berpihak. Bukan berarti saya tidak sepakat dengan aliran ekspresi yang lain, tetapi menjadikan ekspresi itu sebagai sebuah pilihan yang bertanggung jawab terhadap pilihan masing-masing. Begitu kata Jean Paul Sartre jika kita ingin menjadi manusia seutuhnya.

Kita semua tahu bahwa ekspresi seseorang sangat dipengaruhi oleh persepsi. Sementara persepsi sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup. Seperti halnya pemaknaan terhadap sebuah penggaris. Apabila pengalaman hidup orang itu hanya biasa-biasa saja, dia akan mengartikan penggaris sebagai sebuah alat untuk membuat garis lurus. Berbeda dengan orang yang gemar menonton anime atau kartun Jepang. Bisa saja mereka mengartikan penggaris tersebut sebagai sebuah alat pembunuh atau shuriken. Pun juga dalam seni. Karya seorang seniman sangat dipengaruhi oleh kondisi material atau sosial mereka.

Berekspresi seperti murid TK yang secara natural menggambar kondisi nusantara (yang seharusnya), dengan gambar sawah, gunung dan lanskap lain. Ayolah kita berekspresi. Berekspresi dengan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Sesuai dengan konteks kedaerahan masing-masing, karena kita sepakat tidak ada yang absolut di dunia ini. Entah itu berekspresi lewat musik, teks atau imaji. Kita sepakat bahwa wujud pasti musnah. Pram dan Bob adalah wujud, dan mereka sudah musnah. Tetapi tidak dengan bara semangat mereka yang kita warisi. Itu juga menjadi perjuangan kita selanjutnya untuk menghormati kedua almarhum legendaris tersebut.

Karena saya meyakini tidak ada kata terlambat, maka sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun, Eyang Pram dan Om Bob.