Reporter: Ria Fitriani dan Attiyah Rahma

Acara Kampung Budaya ke-3 yang diselenggarakan oleh Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB) tampak ramai dipadati pengunjung pada Jumat siang (27/11). Acara yang diselenggarakan di Gedung Samantha Krida (Sakri) ini mengusung tema Traditional Go International dan bertujuan untuk mengenalkan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap berbagai macam kesenian dan budaya daerah di Indonesia kepada para pengunjung. Kampung Budaya kali ini diselenggarakan selama dua hari yaitu dari hari Kamis (26/11) hingga hari Jumat (27/11).

Acara pembukaan diawali dengan pawai budaya pada hari Kamis pkul 13.00 WIB dengan rute keliling kampus UB dilanjutkan dengan melewati Jalan Veteran hingga Jalan Panjaitan. Lalu peserta kembali ke masing-masing stan pameran. Kampung Budaya ditutup dengan acara peragaan busana yang dipakai oleh maskot masing-masing Forum Daerah (forda) dan pengumuman pemenang stan terfavorit versi pengunjung.

Menurut Cashley Jarel selaku Ketua Pelaksana (Kapel) Kampung Budaya 2015 acara kampung budaya kali ini memiliki keunikan tersendiri yang disajikan oleh para pesertanya. Ada 5 orang yang berada di setiap stan, dimana satu atau dua orang diantaranya menjadi maskot daerah masing-masing. Maskot ini memakai kostum pakaian adat daerah yang menjadi ciri khas daerah mereka. Sedangkan tiga yang lain merupakan guide masing-masing daerah yang menggunakan tiga bahasa yang berbeda yaitu Bahasa daerah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris,  jelas mahasiswa yang juga tergabung dalam Forum Mahasiswa Jakarta (FORMAJA) ini.

Penggunaan Bahasa Inggris ini merupakan perwujudan dari tema acara tersebut yaitu Traditional Go International, yang bukan hanya mengenalkan budaya daerah Indonesia kepada masyarakat nasional saja namun juga internasional. Pemaparan tersebut terbukti dengan adanya pengunjung asing yang datang untuk menyaksikan acara tersebut.

Kampung budaya tahun ini

Menurut Cashley, dari segi tujuan, kampung budaya tahun ini memiliki perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun pertama tujuannya untuk mewadahi teman-teman yang tergabung dalam forum-forum daerah (forda) untuk mengenalkan budaya daerahnya, tahun kedua untuk melestarikan kebudayaan yang mereka miliki, dan yang ketiga untuk lebih mempopulerkan kebudayaan Indonesia kepada masyararakat luar negeri, ujar Casley. Dia menambahkan hingga Jumat siang, jumlah pengunjung sudah mencapai angka 2500 orang  yang berasal dari kalangan mahasiswa UB sendiri dan masyarakat umum.

Terdapat 42 forda dari 19 provinsi di Indonesia yang terdaftar sebagai peserta pada acara kampung budaya ini. Empat forda diantaranya tergabung menjadi dua grup sehingga hanya terdapat 39 stan kebudayaan. Cashley menambahkan bahwa mereka yang tergabung dalam forda-forda ini bukan hanya berasal dari kalangan mahasiswa UB saja namun juga dari universitas lain di Kota Malang diantaranya adalah UNISMA, UM, UMM.

Setiap forda yang mengikuti rangkaian acara ini menampilkan kesenian daerah mereka masing-masing. Penampilan tersebut dapat berupa tarian daerah maupun kesenian yang lainnya. Selain itu setiap stan membuat mading 3D yang mencirikan daerah msing-masing. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian pengunjung sehingga nantinya bersedia memberikan suara dalam voting pemilihan forda dan mading 3D terbaik. Pemenang akan diumumkan pada acara puncak bersama dengan penampilan fashion show para maskot dari masing-masing forda.

Salah satu forda yang mengikuti acara ini adalah forda Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, yang terdiri dari beberapa perguruan tinggi di Kota Malang. Mereka yang tergabung dalam forda ini berasal dari Universitas Brawijaya (UB), Univesitas Islam Malang (UNISMA), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan perguruan tinggi yang lain. Nur Eni Sukuji, salah satu guide forda ini mengatakan bahwa keikutsertaaan mereka dalam acara kampung budaya tersebut merupakan kali yang pertama. Ini yang pertama bagi kami, karena forda ini juga baru tebentuk, jadi tahun lalu belum ada,ujar mahasiswa asal UNISMA tersebut.

Keunikan yang ditawarkan forda Penajam Paser Utara ini terdapat pada pakaian adat dan makanan khas daerah Kalimantan Timur. Nama pakaian adat yang dipakai oleh kaum lelaki adalah Sapak sedangkan untuk perempuan adalah Taak. Ciri yang menonjol dari pakaian adat buatan tangan ini adalah terdapat manik-manik hampir di seluruh bagian. Untuk makanan khas daerahnya, mereka membawa kerupuk amplang asli buatan daerahnya. Selain itu mereka juga menampilkan tarian adat Enggang yang merupakan tarian khas Suku Dayak sebagai kesenian daerahnya.

Para pengunjung yang datang mengabadikan momen tersebut dengan berfoto ria bersama para maskot bukan hanya yang berasal dari daerah mereka namun juga daerah lain. Salah satu pengunjung yang datang dalam perhelatan tersebut, Lutfi Oktaviatul Marwa, mengaku tertarik pada salah satu kebudayaan yang ditonjolkan oleh forda Lampung karena keunikan budayanya. Ia juga mengatakan bahwa acara tersebut cukup menarik antusiasnya untuk mengenal berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia. Acaranya cukup bagus ya. Banyak kebudayaan daerah yang berkumpul menjadi satu dan menjadi Bhineka Tunggal Ika. Dengan acara ini kita jadi mengenal ciri khas berbagai daerah yang ada di Indonesia, ungkap mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2015.

Namun Lutfi menyayangkan daerah asalnya, Kediri, tidak terdaftar dalam acara tersebut karena belum memiliki forum daerah. Dia berharap kedepannya semakin banyak lagi forda di UB mengingat mahasiswa UB sendiri berasal dari berbagai suku bangsa.Ya kalau bisa kedepannya nanti bisa diperbanyak lagi daerahnya. Soalnya kan nusantara ini kaya sekali budayanya. Bahkan ada pula mahasiswa yang berasal dari luar negeri yang mungkin bisa juga ciri khas daerahnya ditampilkan disini,tambah Lutfi.