Penulis: Satria Utama

Judul: Diskursus

Penulis: Niccolo Machiavelli

Penerjemah: Yudi Santoso dan Sovia VP

Penerbit: Narasi dan Pustaka Promethea

Halaman: 452 halaman

Ukuran: 16 cm x 24 cm

Paling orang mengenal Niccolo Machiavelli hanya dari membaca The Prince atau yang dalam bahasa Italia Il Principe (Sang Pangeran). Ini menjadi batu sandungan terbesar untuk mengenal Machiavelli. Karena sederhananya, dalam The Prince yang cukup singkat itu, pemikiran Machiavelli dikenal sebagai pemikiran politik yang jahat. Sedangkan, dalam karyanya yang lain, yaitu The Discourses (Diskursus), tampaklah ia sebagai republikan. Demikian pun, diskursus memuat ide politik Machiavelli lebih kaya. Boleh dikatakan, Diskursus adalah testamen politik Machiavelli yang terlengkap. Jika buku The Prince besar karena intensitasnya, Diskursus besar karena bermacam macam kandungan di dalamnya. Jika nama The Prince besar karena buku ini memberikan gambaran tentang tata kekuatan pemerintahan, Diskursus besar karena memberikan kesatuan dalam negara. Terakhir, kalau nama The Prince besar karena sifat polemisnya, Diskursus besar karena keseimbangannya.

Selama ini muncullah yang mengatakan bahwa Machiavelli merupakan pelopor ilmu politik modern yang amoral, karena dicurigai menganut paham politik menghalalkan segala cara. Lebih lanjut, istilah Machiavellianisme dikonotasikan sebagai segala pikiran, sikap, dan tindakan kotor dan kejam dalam ranah politik. Salah kaprah kepada Machiavelli dan pemikirannya ini yang disebabkan oleh kekeliruan dalam pengertian Machiavelli, terutama mengenai karyanya, sang pangeran. Dalam karya tersebut, Machiavelli mengungkapkan. Yang ada pada waktu itu. Machiavelli segala hal yang nyata pada zamannya tersebut, dan bukan apa yang ideal atau ideal yang dia inginkan, yang harus dilakukan oleh para penguasa. Hal nyata yang oleh Machiavelli dalam buku itu, memang sering kejam dan amoral. Akan lah yang ia ungkapkan itu adalah sebuah bintang politik yang terjadi di zaman Machiavelli, namun bukan merupakan pemikiran politik Machiavelli. Oleh karena itu, merupakan kesimpulan yang terburu-buru jika dibilang Machiavelli sebagai politikus kotor, dan Machiavellianisme sebagai aliran penghalal segala cara.

Begitulah, sesungguhnya Machiavelli adalah sosok yang cukup kompleks dan problematis. Pada satu kesempatan ia tampak sebagai pembela autokrasi, sementara pada saat yang lain ia tampak sebagai republikan. Lebih lanjut lagi manakala orang mengetahui Machiavelli mengerjakan kedua buku itu dalam waktu yang bersamaan. Draft awal The Prince ditulis pada tahun 1513, dan sebagian dari Diskursus juga telah ditulis, atau telah dibangun tahun itu juga. Dia merevisi The Prince pada tahun 1516 sambil mengerjakan Diskursus. Machiavelli biasa dianggap sebagai pembela, baik autokrasi maupun republik. Hal itu semua tergantung pada kasusnya. Namun, Machiavelli sudah terlanjur dikenal sebagai penganjur autokrasi yang menghalalkan segala cara termasuk melalui kekerasan, tipu daya,

Dalam pandangan Machiavelli, negara tidak boleh dilihat melalui kaca mata etis, dengan kaca mata medis. Pada saat itu, Italia sedang menderita dan daya, sedangkan Florence dalam bahaya besar. Untuk itu negara harus dibuat menjadi kuat bukan dengan pendekatan etis. Rakyat yang berkhianat harus diamputasi sebelum menginfeksi rakyat yang lainnya. Machiavelli melihat politik seperti kondisi medan perang yang harus ditaklukkan. Ia juga membagi tatanan kehidupan sipil dan politik menjadi yang minimal dan yang penuh yang memengaruhi kehidupan bersama.

Tatanan konstitusional yang minimal adalah dengan subyek hidup dengan aman, diatur oleh pemerintah yang kuat, yang senantiasa mengawasi perkembangan bangsawan dan rakyatnya, namun diimbangi dengan mekanisme hukum dan institusional lainnya. Sedangkan tatanan konstitusional yang penuh dengan tujuan tatanan politik untuk kebebasan masyarakat yang diciptakan oleh partisipasi dan interaksi antara kaum bangsawan dan rakyat.

Selama karirnya sebagai sekretaris dan diplomat pada Republik Florence, Machiavelli pengalaman di lingkungan inti pemerintahan Perancis yang menurut pandangannya adalah model konstitusional minimal. Machiavelli melihat kerajaan Perancis dan Rajanya memiliki dedikasi terhadap hukum. Dia menyatakan bahwa kerajaan Perancis merupakan kerajaan yang pada saat itu paling baik pengaturan hukumnya. Raja Perancis dan para bangsawan yang berkuasa dikontrol oleh aturan hukum yang dilaksanakan oleh. Oleh karena itu, kesempatan adanya tindakan tirani yang tak terkendali dapat dihindari.

Hal bagusnya penataan dan isi hukum dalam rezim yang demikian, menurut pandangan Machiavelli, hal tersebut tidak sesuai dengan kebebasan masyarakat. Sepanjang ada kehendak publik untuk mendapatkan kebebasannya, raja yang tidak dapat memenuhinya harus ada apa yang bisa membuat mereka menjadi bebas. Dia menyimpulkan beberapa individu yang menginginkan kebebasan hanya untuk dapat mengungguli yang lain. Kematian, sebagian besar korban rakyat mengandung antara kebebasan dan keamanan, adalah identik. Namun ada juga yang menginginkan kebebasan untuk tujuan hidup dengan aman.

Machiavelli kemudian menyatakan bahwa rakyat hidup dengan aman tanpa alasan lain dibandingkan dengan rajanya yang terikat hukum guna memberikan keamanan bagi seluruh rakyat. Karakter kepatuhan terhadap hukum dari rezim Perancis. Meski demikian, dalam situasi tertentu keamanan tidak boleh dicampuradukkan dengan kebebasan. Inilah batasan aturan dari monarki, bahkan untuk kerajaan yang paling baik, tidak akan menjamin rakyatnya dapat diperintah dengan tenang dan tertib.

Sumber gambar: www.amazon.com