Ibu, Daksaku tak dapat berhenti bergetar

Bibirku membiru dingin tak membungkam

Terkejut aku ketika melihat sekitar,

Bu, rasa-rasanya bola mataku ingin melompat keluar

Kerumunan itu berteriak ibu, tengah malam menuju pagi

Terkepal tinju-tinju tangan mereka ke arah langit

Tak lupa mereka lantangkan ucapan demi ucapan

Usir setan tanah!

Tanah milik rakyat!

Nyanyian senantiasa mengalun di rungu ku malam itu ibu

“Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar, bunda relakan darah juang kami, untuk membebaskan rakyat.”

Gema gema teriakan terus mengiring derap langkah kerumunan

Menyongsong  kedepan kerumunan itu, sayup-sayu terdengar “hentikan kesewenang-wenangan!”

Bersitatap mereka dengan kerumunan lain, Pakaian seragam dengan sepatu boot besar

Namun tiba-tiba jeritan kesakitan ku dengar, aku tak mengerti, ada apa ibu?

Kenapa mereka berteriak kesakitan begitu?

Kenapa gelora teriakan dan nyanyian tadi tergantikan

“jongkok jongkok !”  hanya itu yang menggema kemudian

Tak sanggup, tatapan ku teralih,

Menatap getir puing-puing  kaca dan tembok rumah yang berserakan

Ibu, entah kenapa hatiku ikut hancur bak kaca yang tak lagi bisa disatukan

Rasa-rasanya aku sedang mencecap akhir kenangan-kenangan ku yang akan hilang

Serasa tamanku yang asri ini akan hilang dalam satu kedip mata saja

Teman-temanku, masihkah esok kita berlari mengejar serangga di selokan?

Melihat reruntuhan rumah kalian rasanya tak kan ada lagi kita yang bersepeda kesekolah

Ah aku menyesal, harusnya kuikuti pertemuan kita di rumah baca seminggu yang lalu

Jika kutahu minggu ini bahkan yang kulihat hanya rak buku kayu kosong tak berisi

Ibu, meski rumah kita masih kokoh disudut kiri sebelah sana, tapi tak dapat kupungkiri

Ketakutan rumah itu ikut hancur terus membayangi

Kopi hitam pahit buatan ibu, kemana lagi kan kita jajakan kalau bukan didepan rumah?

Tak terbendung lagi getar daksaku tatkala kulihat besi besar berwarna kuning dengan capit seperti lobster

Memasuki lapangan dan terus berjalan menimbulkan bunyi derit yang memekakkan telinga

Bu, apa aku juga akan meratap, digusur dan kehilangan rumahku?

 

Penulis: Rifqah Dita

Cover: Wadimor