Kata hoaks sudah tidak asing lagi di telinga setiap manusia. Saya pun menafsirkannya sebagai berita yang tidak benar atau berita palsu yang dipelintir kebenarannya—yang jelas tidak dapat dipercaya. Meriahnya media sosial saat ini menyebabkan berita hoaks menyebar luas di dunia. Bahkan penyebaran informasinya terdapat dalam berbagai konteks seperti; politik, kesehatan, hingga kranah privat. Adanya fitur like, share, hashtag, dan lainnya malah membuat berita-berita itu menjadi cepat viral. Sesekali saya menemui berita hoaks, saya tahu itu hoaks karena mencoba untuk tidak menelannya mentah-mentah dan mengklarifikasi kebenarannya dulu dari sumber berita yang lebih terpercaya. Namun, tidak sedikit juga masyarakat di luar sana yang dengan gampangnya memakan berita-berita itu tanpa memikirkannya ulang.

Baru-baru ini saya ketahui bahwa hoaks, manipulasi, dan fake news tidak dapat dipisahkan dari era sekarang yang dikenal dengan istilah ‘post-truth.’ Di berbagai media disebutkan bahwa belakangan ini post-truth menjadi istilah yang marak terdengar dalam keseharian. Frasa ini mulai populer di tahun 2016-an, saat Donald Trump berusaha memperebutkan posisi presiden AS. Walaupun sebenarnya istilah post-truth sudah ada jauh sejak tahun 1992. Steve Tesich yang pertama mengenalkannya dalam esainya pada harian The Nation. Tesich menuliskan tentang kerisauannya terhadap pemerintah atau politisi yang sengaja memainkan opini publik dengan mengesampingkan fakta dan data yang objektif.

Sekarang ini, banyak masyarakat Indonesia yang memercayai bahwa virus Covid-19 hanyalah teori konspirasi saja. Menurut mereka, virus Covid-19 tidak benar-benar ada atau akalan kelompok elite saja. Teori konspirasi tentang Covid-19 bahkan menyeret nama Bill Gates sebagai penciptanya. Hal itu disebabkan karena Bill Gates sempat memperkirakan munculnya virus baru saat diwawancara oleh pengguna Reddit pada beberapa waktu silam. Diduga Bill Gates yang akan membuat vaksinnya dengan microchip agar dapat mengontrol populasi global. Teori konspirasi ini menjadi laku di masyarakat karena informasi tersebut cepat dan mudah dipahami. Selain itu, mereka dibuat candu oleh keseruan untuk menerka-nerka motif yang tidak pasti atau cocoklogi. Ketidakpastian sendiri sangat lekat dengan kehidupan kita sebagai manusia. Konsep ini dijelaskan oleh Baudrillard sebagai konsep hiperrealitas. Hiperrealitas berarti realitas asli menyatu dengan realitas buatan dan tidak dapat dibedakan. Karena adanya campur aduk suatu fakta dan sesuatu yang tidak fakta namun seolah-seolah menjadi kebenaran. Informasi-informasi itu akan menggantikan realitas sebenarnya menjadi ilusi kebenaran. Ilusi kebenaran inilah yang kemudian disebut post-truth.

Opini yang dikembangkan post-truth ini akan mempengaruhi persepsi dan menjadikan masyarakat yakin bahwa itu adalah kebenarannya, padahal belum tentu. Post-truth terbentuk melalui argumen yang sebetulnya belum tentu benar dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.  Nalar wajar itu akan menjadikan suatu argumentasi yang mudah diterima dan diamini oleh masyarakat karena dirasa relatable atau dekat dengan stereotype-stereotype yang pernah ada. Dalam pendek kata, post-truth adalah kebohongan yang menjadi kebenaran.  Kebohongan-kebohongan itu akan diolah menjadi suatu penyeragaman di pola pikir masyarakat yang dianut sebagai kebenaran.

Keadaan ini yang akhirnya menjadi bahan bakar menyebarnya hoaks. Masyarakat yang tidak kritis akan menelan mentah-mentah hoaks tersebut tanpa mengklarifikasinya terlebih dahulu. Bahkan banyak orang yang langsung memencet tombol like, retweet, dan share.  Masih hangat juga di kepala saya soal kasus #JusticeforAudrey yang akhirnya malah menjadi prank nasional. Kasus yang ramai diperbincangkan pada tahun 2018 ini berawal dari sebuah utas di twitter yang mengabarkan tindakan perundungan siswa SMP di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Bahkan kabarnya korban juga ditusuk kemaluannya oleh pelaku. Anak perempuan itu dibela secara massa, hashtag #JusticeforAudrey menjadi trending di twitter hingga ada petisi untuk menghukum pelaku. Para pelaku juga terkena cyberbully, mereka dihakimi oleh netizen dan disebarkan akun sosial medianya. Menurut saya, kala itu netizen yang menghujat pelaku cuma  memberi makan ego mereka. Hanya untuk melampiaskan kemarahan mereka, bully dibalas dengan bully. Ternyata semua itu hanyalah hoaks, kejadiannya tidak benar-benar persis seperti yang diceritakan di utas tersebut. Setelah diselidiki, memang terjadi perkelahian antara para pelaku dan korban, tapi tidak terjadi pengeroyokan, juga tidak ada kronologi bahwa pelaku menusuk kemaluan korban. Itulah mengapa kita harus berhati-hati mengelola informasi dari internet, terutama sosial media.

Literasi Media

Menurut saya, sekiranya penting untuk resisten terhadap pengaruh post-truth juga hoaks dan berita palsu lainnya dengan kemampuan berpikir secara kritis, memverifikasi ulang, dan menganalisis kembali kevalidan suatu berita. Kemampuan berpikir kritis itu sebenarnya akan tumbuh melalui literasi. Dimulai dari kesadaran untuk selalu mengklarifikasi suatu informasi yang terdapat di media juga sikap awas untuk memandang berbagai bentuk informasi.

Literasi media ini penting untuk dipahami dan diimplementasikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebenarnya pemerintah sudah berusaha untuk melakukan langkah program pendidikan literasi . Karena dulu ketika SMA, saya sempat merasakan jam literasi yaitu 45 menit sebelum pelajaran pertama dimulai . Para siswa diharuskan untuk membaca buku atau artikel selama jam literasi. Eh akan tetapi itu hanya berjalan setahun atau dua tahun saja. Menurut saya pemerintah perlu meningkatkan konten dan keseriusannya untuk menumbuhkan semangat literasi media di masyarakat. Hal ini dilakukan untuk menghadapi gempuran informasi di keramaian sosial media agar tidak mudah terjerumus dalam post-truth. Sependek pengetahuan saya, literasi media akan menjadi alat kontrol untuk membentengi masyarakat atas segala informasi yang disediakan media. Karena sejatinya, tidak ada yang sepenuhnya bisa dipercaya dari media.

 

Penulis: Rose Diana

Editor: wadimor

Desain grafis: Benediktus Brian