Memasuki pertengahan tahun, tandanya ribuan institusi pendidikan tinggi di seluruh Indonesia akan menyambut tahun ajaran baru, tak terkecuali UB. Belasan ribu mahasiswa baru dari puluhan kota di seluruh Indonesia akan tumplek blek dalam masa orientasi Universitas maupun Fakultas. Sayangnya, hajatan tahunan ini selalu saja menimbulkan perdebatan panjang yang tak kunjung usai. Mulai dari isu politisasi kegiatan, transparasi anggaran, hingga yang terparah adalah adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh senior kepada juniornya.

Sejak zaman saya Maba hingga sekarang, setiap mahasiswa yang coba saya tanyakan pendapatnya mengenai keefektifan pelaksanaan Ospek atau PKK MABA, kebanyakan dari mereka bilang, acaranya nggak penting, buang-buang waktu, dan tidak terlihat di mana letak manfaatnya. Malah tidak sedikit yang bilang, acara tersebut cuma jadi ajang perpeloncoan semata. Jangan salahkan saya, itu pendapat mereka. Dan kalau ingin melempar pertanyaan itu ke saya pun, maka secara tegas saya bilang, acara seperti demikian cuma menjadi wadah pengkerdilan mahasiswa. Boleh setuju boleh tidak. Bagi mereka yang pro dengan kebijakan ini, silakan saja. Yang jelas dari dahulu saya tidak setuju. Ketika tiga tahun lalu saya menjadi Maba pun, saya tidak mengikuti kegiatan ini secara penuh hingga akhirnya saya tidak diluluskan. Walaupun begitu, saya merasa baik-baik saja sampai sekarang. Tidak ada sesuatu yang kurang.

Lahirnya keputusan DIRJEN DIKTI No. 38 tahun 2000 tentang Pengaturan Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru pun berangkat dari evaluasi pelaksanaan Ospek atau sejenisnya yang sebelumnya dilakukan oleh sebagian besar perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dalam keputusan itu dijelaskan bahwa, pelaksanaan Ospek menimbulkan pemborosan biaya, tenaga dan waktu, serta membahayakan keselamatan fisik dan psikis mahasiswa baru. Parahnya dalam beberapa kasus, dampak dari Ospek menyebabkan mahasiswa meninggal dunia. Untuk itu, saat ini kegiatan di lingkungan pendidikan tinggi hanya boleh dilakukan dalam rangka kegiatan akademik dan dilaksanakan oleh pimpinan perguruan tinggi. Selain itu, dalam keputusan yang sama juga disebutkan, menghapus segala kegiatan acara penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi.

Tentunya keputusan DIKTI di atas menjadi angin segar bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia, terutama bagi mereka para mahasiswa baru. Tapi apakah setelah adanya keputusan ini tingkat kekerasan dari senior kepada junior benar-benar hilang? Nyatanya tidak. Hampir setiap tahun, laporan mengenai tindak kekerasan di saat pelaksanaan Ospek selalu saja ada. Alasannya sederhana yaitu, menyiapkan mental yang kuat. Tradisi senioritas seakan menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan. Ya, budaya ini terus membumi.

Saya ingat sekali, kutipan Paulo Freire dalam bukunya yang berjudulPendidikan Kaum Tertindas. Ia mengatakan, pendidikan itu haruslah berdasar pada pendekatan dialogis. Bukannya seperti mengisi sebuah gelas kosong yang menyampingkan aspek dialogis. Jelas sekali, tidak ada aspek dialogis dari kegiatan Ospek. Jika ada pun, ruangnya hanya sedikit dan kecil sekali. Sisanya hanya diisi oleh ketakutan junior terhadap senior. Selain melanggengkan budaya senioritas, Ospek juga melahirkan budaya takut salah. Padahal, dalam belajar, melakukan kesalahan merupakan sebuah hal yang biasa. Mereka dituntut menjadi pribadi yang patuh terhadap segala instruksi. Tidak peduli instruksi tersebut benar atau salah. Disadari atau tidak, hal ini akan menyemai bibit-bibit baru senioritas. Mereka yang saat ini menjadi junior, akan menumpahkan dendamnya ketika menjadi senior. Dan terus begitu dari tahun ke tahun. Tentunya jika dibiarkan terus menerus akan menjadi ironi bagi wajah pendidikan kita.

Jika esensi dari kegiatan Ospek adalah mengenalkan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru, maka program atau cara yang digunakan selama ini nyatanya masih jauh panggang dari api. Pihak kampus pun, seharusnya mengontrol penuh kegiatan ini, bukankah jika ada kabar buruk terkait pelaksanaan Ospek yang malu institusinya juga?

Pengalaman Ospek

Hari pertama mengikuti kegiatan ini, saya dan ribuan mahasiswa lainnya sudah dihadapkan pada sekumpulan orang berlabel penegak kedisiplinan, yang pada jaman saya selalu menunjukan gaya arogannya, memasang pandangan awas jika ada mahasiswa baru yang melintas di depannya, dan seakan-akan siap sedia menghardik apabila ada mahasiswa yang membangkang terhadap segala peraturan yang sudah dibuat. Mereka tidak segan untuk mempermalukan mahasiswa baru yang dianggap salah di depan banyak orang. Bentakan dan teriakan sudah menjadi ciri khas mereka. Dan sayangnya mereka adalah mahasiswa, yang katanya kaum intelektual. Ironi, bukan?

Hal seperti ini, jauh dari pandangan saya mengenai kehidupan mahasiswa ketika saya masih menempuh bangku sekolah, yaitu para mahasiswa berparas tegas, berambut gondrong, mengenakan jeans belel, dan selalu memperjuangkan keadilan untuk mereka yang tertindas, khususnya rakyat kecil. Ketika mengetahui kondisinya tidak sama sesuai dengan apa yang dibayangkan, maka saya memutuskan untuk keluar (tidak mengikuti kegiatan) hingga akhir. Menurut saya hanya itu cara yang tepat untuk melawan, tidak terlihat, tapi sebenarnya itu salah satu bentuk pemberontakan terhadap sistem yang ada.

Mudahnya, daripada diinjak-injak, lebih baik saya keluar. Dan saya pikir hal tersebut menjadi solusi terbaik saat itu. Bagi mereka yang merasa menjadi objek tulisan ini, mungkin akan terasa panas di kuping. Tapi, cobalah terbuka dan temukan esensi dari pendidikan yang membebaskan.

Seperti korupsi yang sudah dianggap budaya dalam birokrasi oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Senioritas pun telah dianggap sebagai budaya yang harus terus dilestarikan. Membenarkan yang keliru hanya akan melahirkan kekeliruan yang berkepanjangan. Jika inputnya salah, apalagi outputnya. Saya pikir, di sini cukup jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi.

Lucunya, kegiatan ini tidak pernah diketahui sejauh mana tingkat keberhasilannya. Indikatornya apa, diukur menggunakan apa, dan banyak pertanyaan lainnya. PKK MABA, Krida Mahasiswa, atau nama lainnya, letak perbedaannya hanya pada namanya. Formatnya selalu sama, ada yang dikerdilkan dan ada yang mengerdilkan.

Kehidupan Kampus

Untuk sekadar mengenalkan kehidupan kampus, sebenarnya dapat menggunakan banyak cara yang lebih memanusiakan manusia. Bukan dengan menggunakan cara-cara yang tidak selayaknya. Salah satunya adalah menjadwalkan jurusan atau Prodi untuk mengikuti sosialisasi yang diselenggarakan oleh pihak Fakultas, baik meliputi sosialisasi akademis atau yang berhubungan dengan kegiatan kemahasiswaan itu sendiri.

Selain melakukan pemantauan, pihak pimpinan fakultas juga diharapkan bisa benar-benar efektif membantu mahasiswanya dalam mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan, agar kedepannya mahasiswa ini paham arah gerak kehidupan kampus.

Sejatinya tujuan kegiatan ini tidak hanya mengenalkan mahasiswa baru pada kegiatan kampus, tapi juga menjadi pintu gerbang dalam menanamkan nilai kemajemukan sebagai pondasi awal menjadi seorang intelektual. Sebenarnya kita semua tahu apa yang kita tidak kehendaki, tetapi pemaksaan terhadap nilai-nilai yang tidak dikehendaki itu sendiri tidak memberikan bentuk-bentuk positif di masa depan.

Metode lawas yang saat ini masih berlaku, sudah saatnya diubah!

Penulis : Pandu Wicaksono