Reporter: Khoirul Anwar dan Nuris Ajizah

Malang, dianns.org – Upaya Dekanat Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) program aplikasi baru (prodi) baru menuai. Tiga prodi baru yang mendapatkan izin masuk. Ketiga prodi tersebut adalah Administrasi Pemerintahan, Perencanaan Pembangunan, dan Bisnis Internasional. Fakultas melalui ketua prodi (kaprodi) bersikukuh dinyatakan tetap usahakan izin produ ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) tahun ini.

Proses menunggu surat ijin itu sudah berlangsung selama beberapa tahun. Banyak peraturan dan kebijakan Dirjen Dikti yang berubah dengan pihak fakultas menyesuaikan dengan kebijakan yang baru. Di sisi lain, Dikti terus saja mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru. Hal ini yang kemudian dianggap salah satu penghambat turunnya izin prodi. Seperti yang dijelaskan oleh Yusri Abdillah, Kaprodi Bisnis Internasional, yang sedang dalam proses penyelesaian baru ini karena cepatnya perubahan kebijakan Dikti terkait peraturan izin prodi. Yusri juga menilai hal itu itu inkonsistensi Dikti dalam pembuatan kebijakan.

Kami sudah melakukan pengajuan izin berulang kali. Tapi, Dikti Buatlah kebijakan baru yang kemudian kita untuk menyesuaikan dengan kebijakan itu. Belum lagi sebelumnya sudah lama berjalan, sudah ada lagi kebijakan baru. Inilah yang terjang dan bisa dikatakan kebijakan Dikti yang kurang konsisten, tambah Yusri Abdillah saat ditemui di ruangannya.

Perubahan kebijakan yang sering terjadi sebagai bentuk ketidakkonsistenan Dirjen Dikti. Namun, hal tersebut tetap tidak berhenti usaha pihak fakultas untuk tetap berjuang mendapat izin penyelenggaraan prodi. Usaha secara formal masih ditempuh, terbukti dengan pihak fakultas tetap mengajukan proposal. Pada bulan April lalu pihak fakultas sudah melakukan pengajuan proposal kembali.

Tidak cukup pada jalur formal, usaha informal juga dilakukan fakultas. Salahkan, menunjuk dan memberangkatkan dosen ke salah satu universitas di Australia dengan tujuan membangun kerja sama dan untuk menunjukkan kesungguhan pihak fakultas terhadap prodi ini.

Kami memberangkatkan Pak Iqbal (salah satu dosen FIA) ke Australia untuk bekerja sama, di Canberra University salah satunya. Hal ini juga diharapkan bisa membantu (bila diperlukan samanya tercapai). Saya juga tetap ikut berusaha membantu saya tidak lagi sebagai sekretaris Prodi Bisnis Internasional, imbuhnya Yusri.

Perombakan Sistem

Tidak jauh berbeda dengan Yusri, menurut dosen Jurusan Administrasi Publik, Andhyka Muttaqin, yang mengajar di Prodi Administrasi Pemerintahan itu menjelaskan tentang hambatan yang sedang berlangsung oleh perombakan sistem dengan adanya kebijakan baru dari pemerintah tentang pembentukan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) yang sekarang menaungi perguruan tinggi.

Dari segi kebijakan berubah-ubah memang, apalagi sekarang masa transisi. Saat ini, Perguruan tinggi di bawah Kemenristek. Semua data di perguruan tinggi harus masuk ke Kemenristek yang dulunya ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan itu menguras energi banget, kata Andhyka.

Perombakan sistem ini menimbulkan konsekuensi terhadap perombakan sistem data. Adanya data yang tidak sesuai dengan yang ada di Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) juga dianggap memengaruhi perizinan ini. Maka, fakultas juga saat ini berusaha berbenah dalam melakukan sistem data yang terintegrasi. PDPT kita masih kacau. Saat ini kita berusaha membenahinya. Dari data ke era digital itu sebab perombakan data luar biasa, pungkasnya.

Pihak fakultas menyatakan segala bentuknya secara formal sudah siap untuk kemudian menunggu hasil dari Dirjen Dikti. Saat ini, Universitas Brawijaya merupakan salah satu institusi perguruan tinggi yang cukup banyak. Sedikitnya ada sembilan belas prodi baru yang buka pada tahun ajaran baru tahun ini. Di FIA sendiri, salah satu prodi baru yang baru dibuka tahun ini adalah Prodi Administrasi Pendidikan.