[Kabar Kampus] Balutan Anti Radikalisme dalam Raja Brawijaya 2018

Reporter: Evryta Putri dan Niqita Shalzabilla

Pada Selasa, 14 Agustus 2018, Universitas Brawijaya (UB) mengadakan Rangkaian Jelajah Almamater (Raja Brawijaya) 2018 yang diikuti oleh mahasiswa baru (Maba) dari program Sarjana Strata 1 (S1) dan Diploma 3 (D3). Upacara ini diadakan di Lapangan Rektorat UB. Rektor UB, Nuhfil Hanani membuka upacara Raja Brawijaya tahun 2018 dengan pemukulan gong dan penyematan jas almamater kepada perwakilan maba. Setelah upacaraselesai, maba dimobilisasi menuju Gedung Samantha Krida (Sakri), Gelanggang Olahraga (GOR) Pertamina, dan UB Sport Center (UBSC) untuk diberikan beberapa materi. Salah satu materinya mengenai anti radikalisme.

Materi mengenai anti radikalisme menghadirkan pemateri yang berasal dari anggota TNI yaitu Brigjen Haryanto. Diawal materi, beliau menyampaikan tentang keadaan geografis dan pluralisme yang ada di Indonesia yang menjadi akar munculnya isu radikalisme. Ia berpendapat hal ini yang dapat memecah keanekaragaman bangsa.  “Waspadailah radikalisme, karena radikalisme satu tahap akan menjadi terorisme. Yang dapat dilakukan secara kelompok maupun individu. Akar penyebab radikalisme itu sendiri adalah pengaruh paham, modernisasi, ketidakadilan, kesejahteraan, dan lain-lain,” tutur beliau. Beliau pun juga menambahkan bahwasanya radikalisme merupakan satu tahap menuju terorisme. Sementara Muhammad Nur Fauzan selaku Presiden Eksekutif Mahasiswa (EM) UB menuturkan, “Orang dapat memandang radikalisme berbeda-beda bisa dipandang secara positif dan negatif tergantung dari sudut pandang orang masing-masing.”

Menurut Ketua Pelaksana Raja Brawijaya 2018, Ariz Pratama dengan adanya materi anti radikalisme ini diharapkan mahasiswa bisa memahami radikalisme sehingga berguna dalam kegiatan kampus. “Karena radikal itu bisa diartikan berbeda-beda, bisa positif dan negatif. Dan pemahaman ini yang harus kita pahami bersama,” lanjut mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) tersebut.  Pemahaman berbeda justru didapat oleh Maba bernama Janpia Hezkiel Mbj Nahor atau yang akrab disapa Kiel dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang mempunyai pandangan berbeda setelah mendapat materi anti radikalisme. Dimana dia menuturkan bahwa radikalisme itu berbahaya dan perlu diantisipasi, “ Kembali lagi ke diri kita untuk menolak karena seperti yang sudah dijelaskan radikalisme itu sangat berbahaya dan mengancam kesatuan NKRI,” tambahnya.

Ariz Pratama menuturkan bahwa materi anti radikalisme ini mengacu dari pandangan pemerintah yang memandang sebuah hal yang mengancam, sehingga dimasukkan dalam kegiatan Rangkaian Raja Brawijaya yang mengacu pada Peraturan Rektor Nomor 66 Tahun 2011  yang berdasarkan Kemenristekdikti.  “Hal ini murni dari atas (rektorat) sedangkan kami sebagai panitia pelaksana ya melaksanakannya,” tuturnya, saat ditemui awak LPM DIANNS di Gedung Sakri. Muhammad Nur Fauzan pun menambahkan bahwa materi anti radikalisme yang dihasilkan melalui pertemuan Focus Group Discussion (FGD) oleh pihak rektorat dan mahasiswa.

Selain materi tentang anti radikalisme, dalam kegiatan ini juga diisi dengan materi mengenai kemahasiswaan, akademik dan kuliah umum yang menghadirkan bintang tamu Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia,  Susi Pudjiastuti. Beliau memberikan general studium yang membahas surplus demografi dan kemaritiman di Gedung Sakri yang kemudian ditayangkan secara live streaming  di GOR Pertamina dan UBSC.

Ada sesuatu yang berbeda diakhir upacara pembukaan Raja Brawijaya yaitu adanya koreografi Tampah Mob. Tampah adalah perabot rumah tangga yang dibuat dari anyaman bambu yang biasanya berbentuk bulat untuk membersihkan beras. Dalam Tampah Mob ini menampilkan tujuh formasi diantaranya adalah logo UB, tulisan UB, Asian Games, logo difabel, logo Pramuka, Aryastya 56 dan membentuk angka 73. Dalam masing-masing formasi memiliki makna yang berbeda-beda yaitu seperti Asean Games yang mana Indonesia tahun ini menjadi tuan rumah, logo Pramuka karena hari ini merupakan peringatan Hari Pramuka, Aryasatya 56 merupakan angkatan mahasiswa tahun ini, sedangkan angka 73 bermakna memperingati Dirgahayu Indonesia ke 73 tahun.

Tahun ini, UB menerima maba sebanyak 11.700 yang mana lebih banyak dari tahun lalu yang hanya berjumlah sekitar 10.000. Jumlah tersebut sudah termasuk dalam 500 Maba dari UB Kediri. Kuota yang disediakan dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sebanyak 30 %, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) sebanyak 40% dan Jalur Mandiri sebanyak 30%.

Fotografer: Dika Widiananta