Mini Art Malang (MAM) 2022 akhirnya diselenggarakan kembali untuk tahun ketiga. Pameran ini berlangsung dari tanggal 3-12 September 2022.Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang membebaskan para seniman menggunakan media apa saja, MAM tahun ini lebih berfokus pada teknik modern drawing. Selain pameran seni lukis, MAM juga diselingi dengan kegiatan bedah buku dan pemutaran film.

Mini Art Malang yang pertama itu membebaskan seniman menggunakan media apa saja, bisa karya lukisan, instalasi, karya fotografi, ataupun karya patung. Nah pada Mini Art Malang ketiga ini sendiri lebih ke drawing,” ucap lek Budi, kurator acara MAM. Beliau juga menambahkan bahwa seniman bisa memaknai drawing secara baru, seperti menggunakan kawat dan benang. Terdapat pula karya drawing menggunakan media tradisional, seperti pensil, krayon, dan pena.

Acara ini melibatkan 124 seniman dengan 240 karya yang dipamerkan. Setiap seniman yang diundang dikasih jatah maksimal tiga karya untuk dikumpulkan. Namun, rata-rata seniman mengumpulkan dua karya untuk dipamerkan. Menariknya, menurut Lek Budi, acara ini tidak mengambil keuntungan. Namun, dirinya mempersilahkan jika ada kolektor yang tertarik untuk membeli karya lukisan yang dipamerkan di acara ini.

Seniman-seniman yang terlibat di dalam pameran ini kebanyakan diundang dari Jawa Timur dan sebagian dari Jogja. “Kalau dari Jawa Timur ini dari Malang Raya, yang banyak dari kota Malang, Kab. Malang, Batu, lalu dari Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Tulungagung, Magetan, Lumajang, dan Banyuwangi. Jadi, hampir seluruh kota Jawa Timur ada yang mewakili di pameran ini. Lalu ada beberapa seniman yang dari Jogja,” ucapnya.

Selain berbeda dari segi bentuk karya, MAM tahun ini juga mengusung tema yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. MAM tahun ini bertajuk PAINT IT B(L)ACK. Maksudnya mengingatkan kita kembali ke lukisan yang menggambarkan warna hitam atau warna kelam. Tema ini direspons oleh seniman dengan lukisan seperti gunung meletus, badai, dan ada juga yang menggambarkan karena ulah manusia itu tentang perang. Ada juga karya-karya abstarksi, salah satunya karya yang judulnya cheerfull, dimana karya tersebut menggambarkan bagaimana kehidupan kita setelah pandemi.

Meskipun sempat terkendala saat pengumpulan karya, pameran ini tetap berjalan dengan antusiasme yang tinggi dari warga Malang. Sejak pameran ini dibuka sampai tanggal 10 September, jumlah pengunjungnya sudah mencapai 2000-an orang.

Ifta, salah satu pengunjung pameran, menyebutkan jika jarang sekali ada pameran-pameran kesenian di Malang seperti Mini Art Malang ini. Dirinya datang ke acara Mini Art Malang ini untuk menyelesaikan tugas apresiasi seni yang diberikan oleh gurunya. Ifta berpendapat dengan adanya acara ini dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai seni. Ifta juga menyebutkan bahwa antusiasme warga Malang terhadap adanya Mini Art Malang ini sangat tinggi. “Teman-teman saya sendiri juga sudah banyak yang datang ke sini,” ucapnya.

Penulis: Annas Tasya Kesuma dan Vera Putri

Editor: Pahlevi Aulia Rahman