Sekitar 500 massa aksi menyerukan 2 Tahun Rezim Prabowo Gibran yang digelar di Gedung Balai Kota Malang pada Rabu, 21 Oktober 2026. Aksi ini menyerukan perbaikan ekonomi rakyat, pembangunan persatuan nasional, serta perlawanan terhadap militerisme dan oligarki. Aksi ini disampaikan sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memberikan dampak nyata terhadap kesusahan masyarakat, terutama dalam penanganan bencana, kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga persoalan agraria dan pangan. Dalam aksinya, massa membelakangi gedung DPR dan Balai Kota sebagai simbol ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintah.

“Hari ini, fokus daripada gerakan masyarakat dan gerakan mahasiswa adalah membangun kesadaran. Itu kemudian yang sudah kita tajuk dan suarakan hari ini, agar setidaknya suarakan kedaulatan sampai dengan selamat karena kedaulatan rakyat tidak hanya sampai di sini saja. Tetapi permasalahan yang ada di setiap lapisan elemen masyarakat bisa disampaikan dengan baik”

Arief menegaskan bahwa gerakan dibangun tidak semata-mata berorientasi pada pengerahan massa, tetapi juga pada membangun kesadaran. Ia menambahkan bahwa kedaulatan rakyat tidak berhenti pada pelaksanaan aksi, tetapi juga pada upaya persoalan yang dihadapi seluruh lapisan masyarakat dapat disampaikan dengan baik. Dengan demikian, gerakan ini diharapkan dapat membuka ruang masyarakat untuk berpartisipasi menyikapi persoalan publik.

Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu juga berencana melanjutkan konsolidasi menjelang 28 Oktober untuk menentukan langkah penyikapan berikutnya. Namun, Arief menyatakan bahwa hingga wawancara berlangsung, belum ada keputusan final mengenai eskalasi aksi pada tanggal tersebut. Konsolidasi lanjutan akan dilakukan dengan melibatkan berbagai elemen mahasiswa dan kolektif masyarakat untuk memperluas kampanye publik.

 

Reporter: Gina

Penulis: Eve

Editor: Niken

Foto & deslay: Wanda & Shafa