(Malang, 1 Oktober 2026) – Aksi Kamisan yang digelar di kawasan Balai Kota Malang tepat pada tanggal 1 Oktober 2026, sedikit berbeda dengan Aksi Kamisan yang pernah digelar sebelumnya, Kali ini, ratusan massa dari Komunitas Aksi Kamisan bergabung dengan Arek-Arek Malang dan warga sipil lainnya untuk bersama-sama memperingati empat tahun Tragedi Kanjuruhan.

Sekitar pukul 16.00 WIB, massa sudah mulai memadati kawasan Balai Kota Malang dengan memegang berbagai banner dan poster perjuangan. Aksi diawali dengan mengheningkan cipta selama 135 detik sebagai simbol untuk mengenang 135 korban yang meninggal dalam Tragedi Kanjuruhan. Aksi kemudian dilanjutkan dengan rangkaian orasi-orasi untuk memperingati kelamnya Tragedi Kanjuruhan dan menyuarakan tuntutan-tuntutan pertanggungjawaban untuk keadilan bagi para korban. Selain itu, terdapat pula penampilan aksi teatrikal dari Malang Performance Art Community (MAPAC).

“Rangkaian hari ini untuk Aksi Kamisan, sama seperti Aksi Kamisan biasanya. Aksi diam, aksi refleksi, dan orasi, setelah itu mungkin ada doa bersama. Namun dari temen-temen Arek Malang, akan bergeser ke Kanjuruhan untuk melakukan aksi doa bersama di Gate 13 sebagai titik dari Tragedi Kanjuruhan terjadi.” Ujar Muhammad Eko, selaku fasilitator Aksi Kamisan Malang.

Dalam wawancara, Eko juga mengungkapkan bahwa harapannya yang paling penting adalah agar seluruh korban atau keluarga korban dari Tragedi Kanjuruhan segera mendapatkan keadilan yang sepantasnya. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk memaknai bersama aksi ini, serta terus merawat perlawanan sampai kapan pun hingga Tragedi Kanjuruhan memperoleh keadilan.

Keadilan yang Masih Diperjuangkan oleh Keluarga Korban

Empat tahun lalu, tepat pada tanggal 1 Oktober 2022, telah terjadi tragedi kelam di dunia sepak bola. Malam itu, setelah laga Arema FC vs Persebaya, sebanyak 135 orang tewas di Stadion Kanjuruhan. Sejak tragedi tersebut, keluarga korban telah melakukan berbagai upaya untuk memperjuangkan keadilan yang setimpal bagi keluarganya. Akan tetapi, hingga saat ini keadilan tersebut belum pernah diperoleh.

Pemberian santunan dan permohonan maaf semata dari pihak yang bertanggungjawab, tidak serta merta dapat menggantikan pertanggungjawaban hukum yang sepadan atas hilangnya ratusan nyawa dan trauma yang mendalam.

Issa, sebagai salah satu keluarga korban, menegaskan bahwa ada perbedaan mendasar antara santunan dengan pertanggungjawaban hukum yang berkeadilan. Menurutnya, proses peradilan yang telah berjalan pun, terasa janggal dan hasilnya sangat jauh dari rasa kemanusiaan.

“Mereka meminta maaf dan memberikan santunan iya, tapi mereka tidak memberikan sebuah pertanggung jawaban yang pasti.” ujar Issa dalam wawancara. Ia menyoroti adanya ketimpangan kekuasaan yang dihadapi oleh keluarga korban dalam menuntut keadilan, mengingat mereka berhadapan langsung dengan institusi dan aktor penguasa negara.

Kondisi ini kian terasa berat ketika upaya pendampingan maupun bantuan psikologis yang ditawarkan, justru datang dari lembaga yang telah memicu trauma pada korban. Hal ini jelas membuat kepercayaan keluarga korban terhadap proses pemulihan yang diberikan otoritas menjadi semakin terkikis.

Issa mengungkapkan harapan terbesarnya saat ini adalah menjaga solidaritas antarwarga, supporter, dan elemen masyarakat lainnya agar dapat selalu menyuarakan keadilan yang sepantasnya bagi korban Kanjuruhan.

Aksi Kamisan yang jatuh pada 1 Oktober yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila dan empat tahun Tragedi Kanjuruhan, diharapkan dapat menjadi pendorong semangat untuk menolak lupa dan merawat solidaritas. Setiap peristiwa memang memiliki sejarah yang berbeda, tetapi Tragedi Kanjuruhan ini kini telah dimaknai pula sebagai bagian dari gerakan bersama melawan ketidakadilan yang juga dialami berbagai kelompok masyarakat di Indonesia, yang hak-haknya dirampas dengan berbagai cara oleh negaranya sendiri.

 

Reporter: Zaskiya, Aulia

Penulis: Eca

Editor: Eve

Deslay: Gina

Foto: Anisa