Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
LPM DIANNS, Author at DIANNS.ORG - Page 6 of 19

Author: LPM DIANNS

Bertuhan Tanpa Agama : Bertrand Russel Tentang Agama, Filsafat, dan Sains

Oleh : Hendra Kristopel Judul : Bertuhan Tanpa Agama Penulis : Bertrand Russell Penerjemah : Imam Baehaqi Penerbit : Resist Book Halaman : 321 halaman Ukuran : 14 cm x 21 cm Pada masa Renaissance (pencerahan) dan setelahnya, mulai banyak bermunculan pemikiran-pemikiran skeptis terhadap agama yang sebelumnya dirasakan sangat membelenggu kehidupan manusia. Bertrand Russell termasuk ke dalam kelompok pemikir bebas yang terus menulis masalah agama. Agama adalah salah satu pokok masalah dari tulisan-tulisan awal dalam buku rahasia harian yang mulai disimpan ketika ia berusia 17 tahun. Sepanjang hidupnya, Russell mendekati agama sebagai seorang filosof, sejarawan, kritikus sosial, dan individu....

Read More

Handono : Setiap Level Pengaruhi Masalah Pangan

Reporter : Bimo Adi K. Malang, DIANNS – Berbicara masalah pangan akan merujuk pada pembahasan yang luas. Berdasarkan komoditi, tidak hanya beras saja, tetapi (sembilan bahan pokok) sembako dan varian beras itu sendiri juga akan mengurai permaslaahan yang kompleks. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Dosen Sosial Ekonomi Pertanian, Setiyo Yuli Handono, saat menjadi salah satu pemantik diskusi publik bertajuk “Masalah Pangan Masalah Siapa?” yang digelar oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Canopy, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya (FP UB). Diskusi yang digelar di Panggung Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM) FP UB pada tanggal 2 Juni 2016, pukul 19.00 WIB tersebut, Handono memaparkan fakta...

Read More

Celoteh

Penulis: Ryu/Administrasi Publik 2014 “Nyatanya tidak demikian!”, sergahku pada diri sendiri Kau pikir perut akan kenyang dengan makan pasir?? “Goblok!!” dadaku sesak penuh emosi Kau ini badut atau apa? Perutmu terlalu buncit untuk bisa memeluk kami Janganian memeluk, melirik pun tak sudi Rupanya kau untung banyak sejak merebut lahan kami Kau tukar puluhan petak sawah kami dengan ratusan ribu saja Kau dirikan dinding-dinding beton berlapis baja Kau bilang mau mengikuti tuntutan zaman Apa kau sudah edan? Besok apa yang kami makan?? Ingin kusumpal mulut kotormu itu dengan segumpal tanah lumpur, Tuan Sebab terlalu muak kami dengan narasi kapitalismu Maka...

Read More

Kini Kita Sudah Semakin Berjarak

Penulis: Iko Dian W/Administrasi Bisnis 2015 Lebih dulu mana antara pembangunan, alam, atau manusia? Lalu, manakah yang akan berakhir lebih dulu: manusia, pembangunan, atau alam? Atau bahkan semuanya memulai dan berakhir secara bersama-sama. Ya, pertanyaan sederhana bermunculan seiring dengan perubahan-perubahan yang ada. Perjalanan dimulai bukan “dari mana” tapi “apa sebenarnya”, itu saja. Perubahan tak jauh kaitannya dengan kata “kreativitas”, dan di dunia ini hanya manusia yang memiliki kemungkinan untuk kreatif yang bisa mewujudkannya. Melihat hal ini, secara terpaksa kita harus menyelam ke dalam filsafat antropologi. Ketika seorang bayi manusia dilahirkan, dia belum menjadi apa-apa. Kata kaum eksistensialis: “Ketika kau...

Read More

Murka Sang Ibu Pertiwi

Penulis: Ganis Harianto/ Administrasi Publik 2012 Senandung senyumnya bergulir lama sudah Tak ada kata berucap Tentang apa yang dirasakan Terpendam syahdu kasih sayang Layaknya dekap bidadari suci Perlahan menghampiri Menghampiri kami tiada henti Namun kai ini ia meronta Kala lelah tak kunjung reda Dimana-mana ada tumpukan bata Hingga tak kuat lagi raganya Menahan jajaran kubus dan persegi di tubuhnya Namun kali ini ia menghujat Kala kemarahannya meletup Tubuhnya luka dicabik Hingga tak kuat lagi raganya Menahan perih tiap keruk butir di tubuhnya Namun kali ini ia berteriak Kala kesaktiannya memuncak Sekujur tubuhnya penuh lubang Hingga tak kuat lagi raganya...

Read More