Memerdekakan Pendidikan

Penulis: Muhammad Bahmudah

“School is the advertising agency which makes you believe that you need the society as it is.” -Ivan Illich-

Kutipan di atas diambil dari sebuah buku yang berjudul “Deschooling Society”. Ivan Illich menggertak pendidikan dengan mengkritik pola guna sekolah atas penyadaran terhadap masyarakat. Pandangan Illich menceritakan bahwa sekolah adalah sasaran bagi masyarakat yang dilembagakan, dan menurut beliau penting adanya sebuah konsep “Deschool” atau budaya baru dalam belajar. Lebih kritis lagi, beliau mengejawantahkan bahwa masyarakat tidak perlu sekolah. Namun Illich tidak menganjurkan penghapusan atas sekolah. Akan tetapi, adanya pembatasan terhadap peran sekolah sebagai sebuah lembaga yang cenderung memaksa masyarakat untuk mengikuti polanya. Subjek pendidikan yaitu pendidik dan peserta didik, tidak lepas dari peran penting dalam membentuk pola tersebut.

Pendidikan pada hakikatnya, merupakan sebuah cara untuk menyuplai adanya perubahan sosial dalam masyarakat saat ini. Sehingga proses pendidikan hendaknya membebaskan, serta menempatkan konteks masyarakat dalam menyikapi problem sosial. Nyatanya, peranan pendidikan tidak berjalan demikian. Pendidikan dijadikan sebatas pemahaman dan pengalaman yang nantinya semata-mata hasil dari alat pencetak, yaitu sebuah lembaga pendidikan. Hal ini makin menarik, jika pembahasan kita berlanjut terhadap kondisi pendidikan saat ini.

Pendidikan Hari Ini

Masalah pendidikan sampai hari ini, masih menjadi topik yang selalu dibicarakan. Bahkan narasi-narasi perjuangan untuk pendidikan tetap dijalankan. Meskipun hanya terlihat sebatas momentum 2 Mei, dan hanya sebagian kecil saja yang melakukannya. Saya sepakat, jika pendidikan masih bermasalah. Saya akan lebih memaklumi tingkat kesadaran dalam memperjuangkan pendidikan, meskipun sebatas momentum saja. Tatapi terdapat sesuatu yang janggal. Sebab, kebanyakan orang tidak merasakan adanya masalah. Saya menafsirkan, mungkin pendidikan sudah dianggap ideal. Padahal sangat ironis, ketika kita melihat biaya kuliah yang sangat mahal saat ini. Namun jangan salah menafsirkan, pendidikan dikatakan ideal tidak hanya dalam konteks pendidikan murah saja. Melainkan banyak yang harus dikoreksi dalam konteks pendidikan sekarang, termasuk sistemnya.

Berbicara pendidikan, sejak Indonesia merdeka telah diamanatkan dalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Bahwa negara wajib memberikan mutu pendidikan yang baik. Serta menyelenggarakan sarana pendidikan yang memadai dan dapat dimanfaatkan untuk rakyatnya. Hal tersebut bertujuan mencerdaskan dan mendidik rakyat, guna mewujudkan kualitas kehidupan rakyat yang makmur dan sejahtera. Namun dilihat dari cita-cita negara, belum tercetus kata “tercapai”. Ketika menengok problematika pendidikan yang selalu tampak di Indonesia. Seharusnya kita mempertanyakan, apa yang telah dilakukan negara dalam pendidikan? Selama ini masyarakat menginvestasikan pendidikan sebagai keperluan masa depan. Akan tetapi, masyarakat harus ditempa dengan mahalnya pendidikan di tengah kondisi masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan. Menjadikan negara lalai dalam mempedulikan masyakatnya. Negara menjanjikan akan memberikan kesejahteraan pendidikan. Tetapi kenyataannya tidak. Mungkin kutipan “Orang miskin dilarang sekolah” sudah diamini oleh negara.

Sistem pendidikan hari ini sudah memperlihatkan bahwa yang bisa sekolah hanya orang kaya. Sedangkan orang miskin hanya dapat berpuas hati dengan kalimat “Kalian tidak punya uang, buat apa sekolah”. Pola tersebut tidak akan berubah. Bahwasanya, penindasan akan lebih leluasa dengan adanya lembaga atau dalam dunia pendidikan disebut sekolah. Kita akan diajarkan bersikap konsumtif yang menjauhkan dari serat kritis untuk menyikapi masalah. Sehingga pemikiran Illich akan sangat terlihat korelasinya. Sebenarnya, apakah kita masih butuh sekolah? Tentu kita masih butuh sekolah, semua orang pun butuh sekolah. Tinggal apa yang kita dapatkan dari sekolah yang akan digunakan untuk masyarakat nantinya. Karena itu, dibutuhkan sistem pendidikan yang dapat membebaskan. Juga berkaitan dengan apa yang kita ingin pelajari dan bagaimana bentuk penyampaiannya.

Krisis Moral Pendidikan

Komponen penting pendidikan berkaitan dengan subjeknya. Mengenai siapa yang berperan dalam proses pendidikan tersebut. Subjek tersebut tidak lain adalah guru dengan siswa serta dosen dengan mahasiswa. Mereka adalah pelaku dalam proses pendidikan tersebut. Hal ini perlu, agar kita lebih mengetahui proses pendidikan yang selama ini kita jalani. Oleh karena itu dalam bahasan ini, saya menyebutnya pendidik dan peserta didik agar lebih sederhana dalam penulisan.

Kita harus mengakui bahwa saat di sekolah, kita pernah mencela seorang pendidik karena kita tidak menyukai perilakunya. Tidak suka dalam arti perilaku pendidik yang menyakiti baik secara fisik maupun psikis. Kita harus sepakat bahwa dalam konteks ini pendidik tidak boleh merasa berkuasa. Karena sejatinya pendidik tidak boleh memperlakukan peserta didik sebagai objek pendidikan. Apa yang terjadi selama ini, lekat dengan terbentuknya budaya adanya anggapan bapak dan anak. Bapak sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Budaya tersebut diciptakan, bukan hanya oleh pendidik yang menjalankan proses pendidikan. Tetapi juga orang tua kita. Hal ini dapat diilustrasikan melalui kalimat “Nitip anak kulo nggeh, Pak”, sebatas itu. Proses yang berulang berkali-kali inilah yang menjadi budaya tersebut.

Saya bukan tidak sepakat dengan budaya ini. Sebab budaya ini termasuk salah satu pendidikan moral yang diberikan pendidik, sebagai pengganti peran orang tua di sekolah. Namun yang disayangkan, perilaku yang jauh dari sikap moralis sebagai seorang pendidik masih sering kita jumpai. Anggapan pendidik itu angker, atau bahasa lain killer, dan lain sebagainya memang ada. Hal ini yang saya kritisi. Pada akhirnya peserta didik cenderung terpaksa dalam berproses. Keterpaksaan tersebut merupakan ungkapan untuk menahan rasa takut kepada pendidik. Serta, rasa tidak merdeka dalam melakukan proses pendidikan. Pendidikan nantinya hanya bersifat formalitas, hal ini persis seperti apa yang diungkapkan Illich dalam kritiknya atas pendidikan. Bahwa sekolah akan mengasingkan jauh peserta didik itu sendiri dari dirinya serta lingkungannya.

Ilustrator: Meyulinda Krisnawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *