Foto dan Narasi: Khoirul Anwar, Resti Syafitri A., dan Ganis Harianto

Memperingati 9 tahun bencana alam lumpur lapindo, warga korban lapindo melakukan aksi pawai Ogoh-Ogoh dan Festival Pulang Kampung. Warga yang tergabung Perkumpulan Perempuan Korban Lapindo Ar-Rohmah ??, Paguyuban Ojek Portal Titik 21, Sanggar Al Fath, dan masyarakat sipil berjalan kaki mengarak ogoh-ogoh yang terus Aburizal Bakrie dari Taman Eks Pasar Lama Porong menuju Portal Titik 21 Lumpur Lapindo Sidoarjo Jumat Kemarin (29/5). Ogoh-ogoh berbentuk Bakrie yang tangan terikat roda itu dibuat besar setinggi tiga meter.

Ogoh-ogoh Bakrie digotong belasan warga menuju Portal Titik 21, kemudian pasung pada sebuah tiang. Selesai mengarak ogoh-ogoh Bakrie menuju Portal Titik 21 Lumpur Lapindo, acara dilanjutkan dengan Festival Pulang Kampung. Acara ini diawali dengan menebar bunga pada ogoh-ogoh Bakrie, kemudian dilanjutkan dengan orasi dan pembacaan puisi dari warga.

Menurut Harwati, Ketua Koordinator Perkumpulan Perempuan Korban Lapindo Ar-Rohma, ogoh-ogoh Bakrie yang besar ini memiliki makna tidak bisa membantu warga korban lumpur lapindo karena pemerintah dinilai tidak dapat menahan Bakrie yang besar ??. Ogoh-ogoh ini memang pemiliknya Lapindo Bakrie sangat besar agar tidak bisa menyentuh. Buktinya sudah 9 tahun tidak bisa membantu, ungkap Harwati.

Dengan adanya acara peringatan 9 tahun bencana lumpur Lapindo, warga berharap pihak Pemerintah maupun Bakrie selaku pemilik perusahaan, segera menyelesaikan soal gantirugi yang bersisa 80%. Warga menuntut pemerintah menepati janji untuk segera menyelesaikan ganti rugi jatuh tempo pada 26 Juni mendatang dan mengambil alih mengenai gantirugi karena menurut warga pihak Lapindo tidak dapat menyelesaikan masalah mereka.

Pemerintah segera mengambil alih pembayaran korban lumpur dan tidak memperpanjang waktu karena kita sudah lelah 9 tahun hidup tidak jelas. Jadi saya harap korban lumpur tetap berdoa jangan patah semangat perjalanan kita masih panjang. Pungkas Harwati

Sudah sembilan tahun semburan lumpur PT. Lapindo Brantas masih menyisakan luka bagi korban lumpur. Salah seorang korban lumpur Lapindo, Khoirun Naimah (23), belum resmi gantirugi dari pemerintah. Untuk membangun rumah kembali, dia harus bekerja keras dengan biaya sendiri. “Sampai sekarang saya belum mendapatkan bantuan sepersen pun dari pemerintah.” Ungkap Naimah.