Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
Ragam Archives - Page 6 of 19 - DIANNS.ORG

Category: Ragam

Di Mana Hak Kami?

Kesekian kali ancaman terlontar Nalarpun tak mampu berjalan Egoisme lebih penting daripada nurani Pun tak berhak kau menginjak-injak harapan Apakah ini yang di sebut kebebasan? Apakah ini yang di sebut keadilan? Amanah kau emban tapi tak tersampaikan Kebenaran kau tutupi dengan tameng jabatan Sungguh ironis melihat keadaan ini Diam bukan pilihan Demi hak yang seharusnya didapatkan Meski usulan telah ditolak Hak telah terbabat Dan ancaman tetap mengalir Penulis: Tiara Tyas Ilustrasi: Widya...

Read More

Duka Perempuan dalam Sebuah Kado

Hei,aku punya kado untuk diriku sendiri di hari ulang tahunku ini. Tadi siang aku membelinya di pasar. Bagaimana? Bagus kan dress ini? Aku selalu ingin memakainya. Sedari dulu, aku harus menahan diri dan memilih untuk tidak berani mengenakan pakaian model dress seperti ini, karena takut akan celaan dari orang sekitarku yang masih berpikiran konservatif. “Berpakaianlah yang benar, itu terlalu terbuka. Kamu mau menggoda laki-laki di luar sana?”, “Salahmu berpakaian seperti itu. Mengundang hasrat laki-laki saja!” Itu kata-kata yang sering keluar dari mulut mereka ketika terjadi pelecehan atau kekerasan pada perempuan–aku muak mendengarnya. Masih saja, pakaian perempuan digunakan sebagai alibi atas tindakan mereka itu. Kok terus-terusan perempuan sih yang disalahkan? Rasa-rasanya tubuh perempuan ini dipenjara. Hanya dijadikan objek saja bahkan untuk hal yang sebebas memilih pakaian, masih tetap diatur. Bagiku, ini adalah bentuk ketidakdilan. Ketidakadilan? Iya. Selain perkara pakaian, aku juga punya cerita lain. Dahulu, aku sangat ingin bersekolah di perguruan tinggi. Aku ingin bisa meraih cita-citaku menjadi seorang guru. Sayangnya, aku bukan dari keluarga yang berkecukupan. Sehingga aku harus rela membuang cita-citaku tatkala ibu berkata, “sudahlah nduk, ndak usah. Kami tidak punya uang. Lebih baik kamu belajar memasak saja. Karena kodrat perempuan ujung-ujungnya juga di dapur.” Tentulah aku merasa sedih ketika mendengarnya. Tapi, bagaimanapun aku harus mempertimbangkan kondisi keuangan dalam keluarga, hingga akhirnya memilih untuk bekerja dengan bayaran yang tak seberapa. Lebih sedih lagi ketika dua tahun setelahnya, adik...

Read More

Ratap Anak Ibu Pertiwi

Ibu, Daksaku tak dapat berhenti bergetar Bibirku membiru dingin tak membungkam Terkejut aku ketika melihat sekitar, Bu, rasa-rasanya bola mataku ingin melompat keluar Kerumunan itu berteriak ibu, tengah malam menuju pagi Terkepal tinju-tinju tangan mereka ke arah langit Tak lupa mereka lantangkan ucapan demi ucapan Usir setan tanah! Tanah milik rakyat! Nyanyian senantiasa mengalun di rungu ku malam itu ibu “Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar, bunda relakan darah juang kami, untuk membebaskan rakyat.” Gema gema teriakan terus mengiring derap langkah kerumunan Menyongsong kedepan kerumunan itu, sayup-sayu terdengar “hentikan kesewenang-wenangan!” Bersitatap mereka dengan kerumunan lain, Pakaian seragam dengan sepatu...

Read More

Kesah

Kesah Oleh: Mar “Jangan kau jadi perempuan sesat, menolak menguburkan mayat anak perempuanmu. Kau hanya akan membuatnya menderita!” “Bukan dikuburkan atau tak dikuburkan yang membuatnya menderita, kau tahu itu! Kematian baru bisa diterima si mati setelah segala urusannya selesai, dan untuk anakku, artinya ia harus mendapat keadilannya.” Itulah kalimat terakhir yang dilontarkan ibuku, sesaat sebelum sekelompok orang dusun menarik tubuhnya, mengikat tangannya, dan memasungnya dalam sebuah kandang yang akan jadi penjara seumur hidupnya. Luka dan luka, seakan-akan tak habis-habis ditorehkan dalam tubuh kami. Ibu hanya menuntut keadilan atasku, anak semata wayangnya yang mati dalam keadaan paling mengenaskan yang bahkan...

Read More

Kompor Belakang

Aku yang berdiri disini, tonggak-tonggak kemenangan Berbujuk luka yang sama, kepada kawan Mengorbankan bara-bara kecil untuk melawan Mendirikan tiang-tiang kekuatan Kulilitkan ramuan-ramuan kemenangan Diriku selalu bersama mereka, mereka yang selalu terluka Jika tinggalnya dihisap lintah-lintah darat pemburu dunia Makananku hanya keberanian Obatku hanya bayang-bayang kehancuran Begitu sampai kapanpun aku tetap bersama mereka Bukan seperti cacing-cacing kremi pengkhianat dan berdusta Merangkul seperti kawan ternyata memantau dari belakang tidak akan ada penyesalan, jika ini memang pengorbanan Tubuh ini takkan merasa gagal Jika ini memang untuk tinggalku dan kawan-kawan Komporku selalu menyala dari belakang Penulis: Widya...

Read More