Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
Ragam Archives - Page 17 of 19 - DIANNS.ORG

Category: Ragam

KAU MAHASISWA

Penulis: Esa Kurnia A. Aku mencintaimu Indonesiaku Meski warna merah putihmu sudah mengusam Meski warna putih pada benderamu sudah menghitam Dan warna merah pada benderamu telah menghijau   Aku tetap mencitaimu Indonesiaku Meski telah mereka cabik-cabik hijau pegununganmu Meski sudah mereka lahap bukit-bukit kapurmu Meski telah mereka renggut jati diri manusiamu Hai para komprador koorporasi asing Kamu yang lapar akan daging merah segar Masihkan kau merasa nyaman berkeliaran ditengah padatnya beton-beton tinggi itu? Masihkah kau sibuk untuk meminta kebutuhan golonganmu? Masihkah kau berdebat soal benar dan salah atas kepentinganmu?   Sedang, jauh di pedalaman sana Ada anak kecil, ibu...

Read More

Langgas

Penulis: Ganis Harianto Senja mengendap-endap tenggelam Seluk beluk kehidupan mulai berpulang Seakan semua tak lagi terang Mengiringi keheningan malam   Kami masih di tempat, tidak mengumpat Mencari waktu bertukar pendapat Membuat pemikiran bulat Yang digunakan sebagai alat Di sini bukan bui Membatasi waktu sesuka hati Kami butuh inspirasi Agar bisa berprestasi   Saat ini kami terdiam Bisa jadi mencari informasi Menciptakan suatu kondisi Yang tidak lagi kelam   Rekonstruk pemikiran Perubahan peraturan Jangan medali Otak-otak para...

Read More

Tak Ingin Berseragam

Penulis : Dea Kusuma Riyadi “Bapak, Besudut ingin sekolah.” Bapak hanya diam, seakan tak mendengar permintaanku. Ia masih mengumpulkan tanah untuk membuat gundukan di bawah pohon Setubungini. Aku melihat sekeliling, sudah banyak gundukan tanah di sini, tapi Bapak memaksa untuk tetap membuat gundukan baru. Mungkin karena terlalu sulit mencari pohon Setubung baru sehingga ari-ari adik keempatku yang lahir beberapa jam lalu harus dikubur di sini, bersama ari-ariku dan teman-teman sebayaku. “Bapak, Besudut ingin sekolah,” aku masih mencoba membujuk bapak. Namun, sekali lagi ia hanya diam. Ia menghampiri adik ketigaku yang sedang menggigil di gubuk. Memang sudah beberapa hari ini...

Read More

Toni ingin Sekolah, Mbak..

Penulis : Ria Fitriani Ilustrasi oleh : Fadhila Isniana “Mak, apa Mamak bahagia di sini? Apa Mamak merasa nyaman sekarang? Mak, putra Mamak yang paling kecil, si Toni, sekarang dia sudah besar Mak. Dia pernah bilang padaku kalau dia ingin melanjutkan sekolah ke SMA Mak. Dia ingin pintar katanya. Aku tak bisa berkata apa-apa Mak, aku hanya tersenyum sambil menatap lekat cahaya matanya yang teduh itu. Aku tahu Mak, Toni memang anak yang cerdas. Beberapa hari yang lalu dia dengan semangatnya bercerita tentang pemerintahan kita yang tidak memihak rakyat kecil. Saat itu aku bisa melihat cahaya matanya yang berapi-api. Aku tak tahu apa yang dia dapatkan di sekolah, aku juga tak mengerti apa-apa tentang ceritanya Mak, tentang pemerintah, birokrasi, dan lain sebagainya. Mak, aku harap Mamak bahagia. Mamak harus bahagia sekarang. Mamak tak usah khawatir tentang aku, Ayu, Rachmad, dan Toni. Aku sudah mengorbankan segalanya demi mereka Mak, aku ikhlas. Aku bahkan tak lagi memikirkan masa depanku sendiri sekarang. Asalkan adik-adikku itu bisa makan, aku sudah senang. Aku bahagia Mak…” Kata-kataku untuk Mamak menggiringku pada memori lima tahun yang lalu. Ketika angin sore berhembus membelai lembut wajahku, menerpa kerudung hitamku yang lusuh itu. Udara kota yang bercampur polusi adalah makananku sehari-hari. Di sinilah, di tempat ini. Lima kilo meter setidaknya dari gubuk tempatku tinggal bersama keluargaku yang kucintai. Aku berjalan menyusuri tepian jalan, mencoba mencari, menjemput rezeki ilahi. Sebuah...

Read More

Runtuh

Penulis: Zendy Titis Ini otomatis senoktah yang disumbang asa Dihias gelegak angka dan aksara Tapi apa karena ia runtuh tiba-tiba Mungkinble runtuh bernyanyi biadab Dari ruangnya, ingini terbit mentari pagi Yang semangat menyongsong kemudi Dari ruang yang runtuh itu Dari ruang yang diruntuhkan itu!   Bangsamu, Cukup pernah kenal si kancil yang nakal Rumus sederhana imparsial Hafal Pancasila Dan tahu arti kata ‘sekolah’ Meski ‘negeri Cina’ tak pernah berhenti mengiang   Tapi kau makan bangsamu Dan minum dari peluh mata...

Read More