Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
Cerpen Archives - Page 8 of 10 - DIANNS.ORG

Category: Cerpen

Ice Cream, I Scream

Penulis : Mechelin Dirgahayu Sky Akhir September 2015. Musim panas tahun ini semakin membakar kulit-kulit manusia. Suhu udara sudah tidak terkontrol lagi. Panasnya matahari tidak lagi hanya membakar kulit, tapi mengukus ruangan-ruangan. Sampai-sampai mendidihkan isi kepala. Ah, sebenarnya bukan hanya karena musim panas dan teriknya matahari saja. Tapi, tugas pembuatan antologi yang setiap tahun rutin anak sastra kerjakan yang membuat kepala rasanya mau meledak. Kelas sastra mempunyai agenda rutin di setiap tahunnya, termasuk membuat antologi. Sayangnya tahun kemarin senior mereka tidak membuat antologi dan memilih mengundurkan diri sebelum didemisioner. Kelas sastra selalu dianggap sebelah mata. Setiap tahun saja pengikutnya...

Read More

Ranu dan Elang (Pelarian)

Penulis : Ria Fitriani Aku terus berjalan, menyusuri belantara yang sunyi dan sepi. Disini aku merasa tenang dan mungkin bahagia, daripada harus berada disekitar keramaian yang lalu lalang. Disana penuh kepalsuan. Ada yang tertawa sampai terbahak-bahak, ada yang menangis terisak-isak. Ada yang tidur diranjang yang lembut dan hangat, ada yang menggigil kedinginan di kolong jembatan sambil mengais sisa-sisa makanan yang terbuang. Di negeriku yang indah ini, ada berjuta kisah sedih tentang manusia-manusia terbuang. Dan aku, manusia yang bodoh ini, hanya mampu melihat tanpa bisa berbuat. Andai saja aku punya secuil keberanian untuk memperjuangkan nasib mereka. Andai saja… Disinilah aku...

Read More

Gadis Senja Bangkok

Penulis: Mechelin D. Sky Di balik senja dengan warna jingga kemerahan, ku temukan dirimu berbalut cahaya yang membutakan mata. Rambutmu berkibar berhembus angin menyejukkan diriku. Wanginya manis, semanis musim panas. Siluet tubuhmu terlukis indah. Aku memang sering bilangnya semenjak bertemu denganmu. Tapi, kali ini aku harus pergi. Bisakah kita berjumpa lagi? Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku akan ikut dalam perjalanan yang tak terduga dan penuh pelajaran keluar dari Negaraku, indonesia. Aku akan selamat gunung-gunung, bukit-bukit, laut, museum, dan tempat bersejarah. Entah kemana saja, asal negara yang belum pernah ku kunjungi. Kali ini jariku menunjuk sebuah negara yang ada di bola dunia. Ah, lebih tepatnya ibu kota negara tersebut. Jariku menunjuk Bangkok...

Read More

Tak Ingin Berseragam

Penulis : Dea Kusuma Riyadi “Bapak, Besudut ingin sekolah.” Bapak hanya diam, seakan tak mendengar permintaanku. Ia masih mengumpulkan tanah untuk membuat gundukan di bawah pohon Setubungini. Aku melihat sekeliling, sudah banyak gundukan tanah di sini, tapi Bapak memaksa untuk tetap membuat gundukan baru. Mungkin karena terlalu sulit mencari pohon Setubung baru sehingga ari-ari adik keempatku yang lahir beberapa jam lalu harus dikubur di sini, bersama ari-ariku dan teman-teman sebayaku. “Bapak, Besudut ingin sekolah,” aku masih mencoba membujuk bapak. Namun, sekali lagi ia hanya diam. Ia menghampiri adik ketigaku yang sedang menggigil di gubuk. Memang sudah beberapa hari ini...

Read More

Toni ingin Sekolah, Mbak..

Penulis : Ria Fitriani Ilustrasi oleh : Fadhila Isniana “Mak, apa Mamak bahagia di sini? Apa Mamak merasa nyaman sekarang? Mak, putra Mamak yang paling kecil, si Toni, sekarang dia sudah besar Mak. Dia pernah bilang padaku kalau dia ingin melanjutkan sekolah ke SMA Mak. Dia ingin pintar katanya. Aku tak bisa berkata apa-apa Mak, aku hanya tersenyum sambil menatap lekat cahaya matanya yang teduh itu. Aku tahu Mak, Toni memang anak yang cerdas. Beberapa hari yang lalu dia dengan semangatnya bercerita tentang pemerintahan kita yang tidak memihak rakyat kecil. Saat itu aku bisa melihat cahaya matanya yang berapi-api. Aku tak tahu apa yang dia dapatkan di sekolah, aku juga tak mengerti apa-apa tentang ceritanya Mak, tentang pemerintah, birokrasi, dan lain sebagainya. Mak, aku harap Mamak bahagia. Mamak harus bahagia sekarang. Mamak tak usah khawatir tentang aku, Ayu, Rachmad, dan Toni. Aku sudah mengorbankan segalanya demi mereka Mak, aku ikhlas. Aku bahkan tak lagi memikirkan masa depanku sendiri sekarang. Asalkan adik-adikku itu bisa makan, aku sudah senang. Aku bahagia Mak…” Kata-kataku untuk Mamak menggiringku pada memori lima tahun yang lalu. Ketika angin sore berhembus membelai lembut wajahku, menerpa kerudung hitamku yang lusuh itu. Udara kota yang bercampur polusi adalah makananku sehari-hari. Di sinilah, di tempat ini. Lima kilo meter setidaknya dari gubuk tempatku tinggal bersama keluargaku yang kucintai. Aku berjalan menyusuri tepian jalan, mencoba mencari, menjemput rezeki ilahi. Sebuah...

Read More