Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
Opini Archives - Page 16 of 18 - DIANNS.ORG

Category: Opini

UB, Universitas Terbaik dan Terbesar (?)

Penulis : Putri Tanjung Sari Selamat datang di kampus terbesar dan terbaik, The Big Blue Campus, ungkapan yang diberikan oleh Rektor UB. Pernyataan dalam penyambutan yang diberikan di PK2MU (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Universitas) tersebut menimbulkan tanda tanya besar. Sebab data yang telah ditampilkan pada layar proyektor sedikit tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Terlihat pada jumlah dosen yang mencapai jumlah 1.853 orang dan karyawan yang berjumlah 1.739. Kemudian poin terbaik peringkat I di Indonesia Pelayanan Prima. Pernyataan tersebut tidak sebanding dengan yang dirasakan para mahasiswa yang melakukan login SIAM pada saat KRS berlangsung. Sungguh sangat disayangkan bila yang dimaksudkan dengan kampus terbaik tidak disesuaikan dengan kenyataan yang dirasakan oleh para mahasiswa. Nampak sangat jelas bahwa pernyataan tersebut hanya digunakan sebagai ajang promosi kampus pada mahasiswa baru. Perlu disadari bahwa pernyataan tersebut memiliki pro-contra yang sangat jelas bagi para mahasiswa lama yang mendengarkan dan pada saat itu berada di dalam gedung dengan tugas kepanitiaannya. Lalu pertanyaan-pertanyaan yang selalu berkutat dipikiran para mahasiswa lama tersebut adalah Apakah benar kampus kita merupakan kampus terbesar dan terbaik?, Apakah terbesar dengan hanya jumlah penduduknya saja?, Bagaimana dengan kesejahteraan penduduknya? , Terbaik dalam pelayanan prima yang seperti apa?, sedangkan untuk melakukan login ke SIAM saja sangat susah. Sebaiknya ungkapan yang diberikan oleh Rektor UB tersebut tidak hanya dijadikan untuk ajang promosi kampus saja. Namun, alangkah baiknya jika diwujudkan juga dalam kenyataannya. Agar tidak terkesan hanya...

Read More

Pemimpin dan Gerakan Sosial Jangan Absen

Foto: ANTARA/Eric Ireng/ED/ama/08 Penulis : Pandu Wicaksono Dalam pidato kenegaraan menjelang perayaan HUT Ke-25 RI, 16 Agustus 1970, Presiden Soeharto secara eksplisit menyatakan perang melawan korupsi. Kemudian, 28 tahun setelahnya dominasi Soeharto dijatuhkan oleh rakyat. Akar kemarahan rakyat adalah korupsi yang terinstitusionalisasi secara sistemik dan mengakar yang dilakukan oleh Soeharto dan kroninya pada zaman orde baru. Bahkan, pada pidato tersebut beliau secara jelas menyebutkan bahwa ia siap memimpin langsung perang melawan korupsi. Sungguh ironis. Gerakan demokrasi 1998 membawa harapan baru bagi pemberantasan korupsi dan menjadi prioritas dalam upaya perbaikan bangsa secara komprehensif dan tuntas. Kenyataannya, demokrasi di negara berkembang rentan terhadap praktik korupsi. Yang terjadi justru elite politik memanfaatkan otoritas dan sumber dayanya untuk mengamankan kepentingan pribadi dan loyalitas pengikutnya. Data Bank Dunia (2009) menunjukan bahwa kecenderungan negara berkembang dalam hal pemberantasan korupsi saat ini meningkat signifikan. Namun, proses investigasi, penuntutan, dan penjatuhan hanya menyentuh koruptor kelas bawah dan sulit sekali menyentuh kalangan elit atas (big fishes). Area peradilan yang seharusnya berada dalam koridor hukum kini berubah menjadi area tarik ulur kepentingan para elite kekuasaan. Pemberantasan korupsi sendiri lebih sering diselesaikan dengan metode kompromi politik. Kepentingan penguasalah yang akan menentukan siapa yang akan menjadi target dan tidak menjadi target dalam pemberantasan korupsi. Dengan demikian, pemberantasan korupsi rentan terhadap manipulasi, intervensi, dan tekanan politik. Salah satu faktor yang menyulitkan masyarakat politik mendapatkan politisi dan pimpinannya yang bersih dari korupsi adalah...

Read More

DPR RI, Peringkat Keempat Gaji Parlemen Terbesar se-Dunia

Sumber : Mediamegapolitan.com Begitu terhormat dan istimewanya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang duduk di gedung mewah Senayan, Jakarta. Di tengah maraknya korupsi dan skandal yang menyangkut beberapa anggota dewan, Indonesia justru masuk peringkat teratas dengan gaji anggota DPR paling besar di dunia. Peringkat ini disusun bukan berdasar jumlah tetapi berdasar perbandingan gaji dengan pendapatan per kapita penduduk. Data gaji anggota DPR itu dirilis oleh Independent Parliamentary Standards Authority (IPSA) dan Dana Moneter Internasional (IMF). Data ini juga dimuat majalah Economist edisi 20-26 Juli 2013. Nigeria menjadi negara yang memiliki gaji anggota DPR paling besar di dunia, yaitu 116 kali lipat dari pendapatan per kapita penduduknya. Disusul negara Kenya dengan pendapatan anggota DPR-nya 76 kali lipat dari pendapatan per kapita warga Kenya per tahun. Peringkat ketiga Ghana dengan pendapatan anggota legislatifnya 30 kali lipat lebih besar dari pendapatan per kapita penduduk Ghana. Selanjutnya Indonesia berada di peringkat keempat dengan jumlah gaji anggota DPR-nya 18 kali lipat dari pendapat per kapita rata-rata penduduk Indonesia. Mengutip dari merdeka.com, seorang anggota DPR yang duduk di kursi legislatif itu setiap bulannya mendapatkan gaji pokok sebesar Rp 15.510.000. Sementara mereka juga masih mendapatkan tunjangan listrik Rp 5.496.000, tunjangan aspirasi Rp 7.200.000, tunjangan kehormatan Rp 3.150.000, tunjangan komunikasi Rp 12 juta, dan tunjangan pengawasan Rp 2.100.000. Apabila ditotal, jumlah bersih yang diperoleh seorang anggota DPR tiap bulan yakni Rp 46.100.000. Sehingga setiap tahunnya para...

Read More

Belajar Sepakbola

Tiga klub papan atas BPL menyambangi Indonesia tahun ini. Arsenal, Liverpool, dan Chelsea secara berturut-turut menjalani tur pra musimnya di Indonesia sebelum kick off perdana BPL Agustus nanti. Ketiganya hadir di bulan Juli. Momen langka ini bisa dijadikan momentum berharga bagi Timnas Indonesia untuk meramu tim yang tepat sebelum kualifikasi Piala Asia melawan China pada tanggal 15 Oktober. Sementara bagi pendukung ketiga klub di atas, kedatangan tim idola mereka bisa menjadi pemuas dahaga sajian yang sebelumnya hanya bisa dinikmati di layar kaca. Indonesia Dream Team Melawan Arsenal Saya tertegun melihat pertandingan Indonesia Dream Team melawan Arsenal beberapa waktu lalu. Dari layar kaca, saya melihat tidak ada ruang kosong di dalam stadion yang tidak disesaki. Setidaknya itu yang saya lihat malam itu. Sayang memang, dalam pertandingan tersebut Indonesia terlalu bermurah hati kepada Theo Walcott cs dengan membiarkan tujuh gol masuk tanpa balas. Walaupun bertajuk pertandingan persahabatan, hasil malam itu nampaknya membuat Jacksen F Tiago tidak bisa tidur nyenyak. Waktu persiapan yang sedikit ditambah sejumlah pemain kunci yang tidak dapat bermain bisa dijadikan alasan logis untuk menjawab hasil yang mengecewakan itu. Secara kualitas dan kapasitas pemain, Indonesia memang berada jauh di bawah pemain Arsenal. Tapi dengan jumlah gol yang masuk ke gawang Kurnia Meiga seakan menegaskan mengalahkan Arsenal memang masih harus masuk dalam stok mimpi tim impian Indonesia. Jika tahun depan Arsenal datang kembali ke Indonesia, hal pertama yang harus ditentukan...

Read More

DISMAnagement

Memasuki pertengahan tahun, tandanya ribuan institusi pendidikan tinggi di seluruh Indonesia akan menyambut tahun ajaran baru, tak terkecuali UB. Belasan ribu mahasiswa baru dari puluhan kota di seluruh Indonesia akan tumplek blek dalam masa orientasi Universitas maupun Fakultas. Sayangnya, hajatan tahunan ini selalu saja menimbulkan perdebatan panjang yang tak kunjung usai. Mulai dari isu politisasi kegiatan, transparasi anggaran, hingga yang terparah adalah adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh senior kepada juniornya. Sejak zaman saya Maba hingga sekarang, setiap mahasiswa yang coba saya tanyakan pendapatnya mengenai keefektifan pelaksanaan Ospek atau PKK MABA, kebanyakan dari mereka bilang, acaranya nggak penting, buang-buang waktu, dan tidak terlihat di mana letak manfaatnya. Malah tidak sedikit yang bilang, acara tersebut cuma jadi ajang perpeloncoan semata. Jangan salahkan saya, itu pendapat mereka. Dan kalau ingin melempar pertanyaan itu ke saya pun, maka secara tegas saya bilang, acara seperti demikian cuma menjadi wadah pengkerdilan mahasiswa. Boleh setuju boleh tidak. Bagi mereka yang pro dengan kebijakan ini, silakan saja. Yang jelas dari dahulu saya tidak setuju. Ketika tiga tahun lalu saya menjadi Maba pun, saya tidak mengikuti kegiatan ini secara penuh hingga akhirnya saya tidak diluluskan. Walaupun begitu, saya merasa baik-baik saja sampai sekarang. Tidak ada sesuatu yang kurang. Lahirnya keputusan DIRJEN DIKTI No. 38 tahun 2000 tentang Pengaturan Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru pun berangkat dari evaluasi pelaksanaan Ospek atau sejenisnya yang sebelumnya dilakukan oleh sebagian besar perguruan tinggi...

Read More