Kategori: Foto

Fotografer: Bimo Adi Kresno Tari Jarik sedang dilenggokan oleh anak-anak dari salah satu sanggar yang berasal dari Solo. Berbagai sanggar tari lain yang berasal dari Jogja dan Jakarta ikut menampilkan berbagai macam tarian tradisonal dari berbagai daerah di Indonesia. Pagelaran ini dikemas dalam acara Semarak Budaya Indonesia yang dihelat di Teater Terbuka, Taman Balekambang, Kota Solo, pada hari Jumat dan Sabtu, 29-30 Juli...

Read More

Ikrar Sumpah Pemuda

Joko-Roro Malang membacakan ikrar sumpah pemuda di Pendapa Bupati Kepanjen Malang pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-87, Rabu (28/10). Upacara tersebut diikuti oleh siswa-siswi dari Kabupaten Malang beratribut pakaian khas daerah sebagai simbol bahwa pemuda Indonesia bertekad untuk bersatu diantara keberagaman suku, agama, budaya Indonesia yang ada melalui ikrar sumpah pemuda. (Fotografer: Fakhrul...

Read More

Harmonisasi Hubungan Manusia dan Alam Dalam Pandangan Fenomenologi

Penulis : Danar Yudhitya P. Sumber foto : www.tempo.co Dewasa ini, kondisi alam memperlihatkan keadaan yang semakin kritis dengan munculnya kerusakan berkepanjangan karena eksploitasi manusia yang tiada henti. Eksploitasi tersebut bermula dari pola pikir mengenai penaklukan alam yang telah dibawa oleh manusia sejak zaman purba. Bahkan di saat ini, seringkali manusia mengatasnamakan kemajuan untuk membenarkan tindakannya dalam merusak ekosistem. Contoh kecilnya, sistem pertanian modern yang menggunakan pestisida dan pupuk artifisial yang menyebabkan terganggunya kegemburan tanah. Bentuk lain perusakan alam yang secara masif, terstruktur dan sistematis banyak dilakukan oleh para cukong korporasi.  Fenomena kerusakan alam Indonesia Jika mengacu pada Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah, relasi manusia dengan alam tak lebih baik keadaannya. Kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan merupakan realitas perusakan alam yang tak bisa dipungkiri. Pembakaran tersebut merupakan kegiatan pembersihan lahan (Land Clearing) gambut yang dilakukan oleh korporasi dengan tujuan untuk ditanami tumbuhan kelapa sawit yang merupakan salah satu komoditi terbesar dalam ekspor Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) Riau mencatat, pada tahun 2012 jumlah lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 2.372.402 hektar atau seperempat dari luas wilayah Riau. Jumlah tersebut tentu terus akan bertambah. Untuk lahan gambut di Riau hanya mencapai 5 hektar, sedangkan lahan yang dikelola masyarakat sebesar 1350 hektar. Dengan pembanguan pabrik berskala besar tersebut pasti akan menimbulkan kerusakan tanah, air dan udara di lingkungan sekitar. Hal serupa juga dilakukan oleh PT. Tirta Wahana Bali Internasional...

Read More

Upacara PKKMU Universitas Brawijaya 2015

Penyematan ID card kepada perwakilan mahasiswa baru sebagai tanda penerimaan mahasiswa baru angkatan 53 tahun 2015 oleh Rektor Universitas Brawijaya, Ir. M. Bisri. (Fotografer: Ganis Harianto) Baliho bertuliskan ucapan selamat dan sukses PKK MABA UB 2015 diterbangkan di atas langit UB sebagai tanda dibukanya masa orientasi mahasiswa baru 2015. (Fotografer: Rahma Agustina) Aksi Paper Mop di lapangan rektorat Universitas Brawijaya (UB) oleh mahasiswa baru 2015. Mahasiswa baru berbaris dengan membawa kertas berwarna biru, kuning, merah dan putih menyusun pola tulisan “UB 1” dan bentuk Bendera Merah putih di sepanjang jalan di sekitas bundaran UB. (Fotografer: Muhammad Bahmudah) Pembukaan acara PKKMABA UB 2015 diisi oleh penampilan marching band internal Universitas Brawijaya. (Fotografer: Rahma Agustina) Mahasiswa Baru 2015 sedang mengumpulkan tugas kepada salah seorang panitia sesaat setelah upacara pembukaan PKKMU 2015 usai pada Selasa, (1/9). (Fotografer: Resti Syafitri...

Read More

Pawai Ogoh-Ogoh Memperingati 9 Tahun Bencana Lumpur Lapindo

Fotografer: Ganis Harianto Fotografer: Resti Syafitri Andra Fotografer: Resti Syafitri Andra Fotografer: Resti Syafitri Andra Fotografer: Khoirul Anwar Fotografer: Khoirul Anwar Fotografer: Khoirul Anwar Deskripsi: Memperingati 9 tahun bencana alam lumpur lapindo, warga korban lapindo melakukan aksi pawai Ogoh-Ogoh dan Festival Pulang Kampung. Warga yang tergabung Perkumpulan Perempuan Korban Lapindo Ar-Rohmah ??, Paguyuban Ojek Portal Titik 21, Sanggar Al Fath, dan masyarakat sipil berjalan kaki mengarak ogoh-ogoh yang terus Aburizal Bakrie dari Taman Eks Pasar Lama Porong menuju Portal Titik 21 Lumpur Lapindo Sidoarjo Jumat Kemarin (29/5). Ogoh-ogoh berbentuk Bakrie yang tangan terikat roda itu dibuat besar setinggi tiga meter. Ogoh-ogoh Bakrie digotong belasan warga menuju Portal Titik 21, kemudian pasung pada sebuah tiang. Selesai mengarak ogoh-ogoh Bakrie menuju Portal Titik 21 Lumpur Lapindo, acara dilanjutkan dengan Festival Pulang Kampung. Acara ini diawali dengan menebar bunga pada ogoh-ogoh Bakrie, kemudian dilanjutkan dengan orasi dan pembacaan puisi dari warga. Menurut Harwati, Ketua Koordinator Perkumpulan Perempuan Korban Lapindo Ar-Rohma, ogoh-ogoh Bakrie yang besar ini memiliki makna tidak bisa membantu warga korban lumpur lapindo karena pemerintah dinilai tidak dapat menahan Bakrie yang besar ??. Ogoh-ogoh ini memang pemiliknya Lapindo Bakrie sangat besar agar tidak bisa menyentuh. Buktinya sudah 9 tahun tidak bisa membantu, ungkap Harwati. Dengan adanya acara peringatan 9 tahun bencana lumpur Lapindo, warga berharap pihak Pemerintah maupun Bakrie selaku pemilik perusahaan, segera menyelesaikan soal gantirugi yang bersisa 80%. Warga menuntut pemerintah menepati janji untuk segera menyelesaikan...

Read More