Fotografer dan Narasi : Bimo Adi Kresno

Pukul tujuh pagi, suara tiupan peluit tak terduga berbunyi nyaring dari dalam pos jaga palang pintu rel kereta api. Keluarlah seorang petugas yang menjaga salah satu pos nomor 73  di Perlintasan Jalan Kereta Api (PJL)  kawasan Pasar Kebalen. Namanya Yulianto, biasa disapa dengan panggilan Pak Yan. Tegur sapa pertama disambut dengan keluarnya nada tinggi, “Awas hati-hati” membuat kesan tegas melekat pada pria yang menginjak usia 53 tahun.

Selesainya pluit itu bergetar, Pak Yan mulai memainkan tombol pada mesin di dalam pos untuk mulai menurunkan palang pintu. Dengan perlahan sambil menunggu para pengguna jalan yang nekat menerobos sela-sela pintu itu. Bercampur dengan suasana pasar pagi disekitarnya seketika sedikit bubrah. Becak yang semula terparkir di atas rel, mulai disisihkan oleh si empunya. Suasana kemudian berubah sedikit sesak di bibir jalan. Pak Yan mengaku setiap kereta yang melewati kawasan ini tidak dalam kecepatan penuh. Menilik kawasan Kebalen merupakan kawasan pemukiman padat yang menempati bahu rel kereta.

Sudah 8 tahun pria asli Buring, Malang ini menggeluti pekerjaan menjaga palang besi itu. Senin hingga Jumat ia biasa mendapatkan shift pagi. Dimulai dari pukul 07.30 hingga 13.30. Dalam satu hari dibagi dalam 3 shift. 2 Shift lainnya dimulai pada pukul 13.30 hingga 21.30 dan yang terakhir dari pukul 21.30 hingga pukul 07.30. Tak jarang pula ia mendapatkan shift malam. Sebelum beralih untuk tugasnya kini, ia dulunya bagian dari cleaning service PT. Kereta Api Indonesia ( PT. KAI). Hampir dalam kurun waktu 8 bulan, hari-harinya selalu dilewatkan dengan perbaikan rel dan gerbong kereta. Dari rel di daerah Kepanjen hingga Kota Baru sempat ia susuri kala itu. Ia mengaku lewat kesigapan yang ia punya mejadi salah satu modal untuk bertahan hingga sekarang. Mulailah ia bercerita bagaimana kesan pengalaman dalam pekerjaannya. “Perlu konsentrasi tinggi, tidak boleh melamun dan tetap fokus,” ujarnya. Tanggung jawab yang cukup besar ini berkaitan dengan keselamatan dan kelancaran kereta api. Namun terkadang ia berpikir di usianya yang sudah menjajaki setengah abad, tak menutup kemungkinan ia bisa diberhentikan dari pekerjaannya. “Umur saya paling tua diantara para penjaga pos lainnya,” ujarnya. Disisi lain kehidupan pribadinya yang tak berumah tangga, ia mengambil pesan bahwa untuk kedepannya mampu tercukupi.

Ia membawa prinsip walaupun sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam kesendirian, namun setiap yang ia kenal merupakan teman yang bisa jadikan sebagai modal sosial. “Jadi orang jangan sombong, biasa sendiri namun ketika bertemu dengan orang lain, kita menjadi teman,” kata terakhir yang ia ucapkan.