Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
Beranda Archives - Page 6 of 58 - DIANNS.ORG

Category: Beranda

Cara Ini Bisa Jadi Alternatif Kamu dalam Memperingati Hari Pahlawan

Cara Ini Bisa Jadi Alternatif Kamu dalam Memperingati Hari Pahlawan Meski tak termasuk ke dalam salah satu hari libur nasional, tetapi peringatan atas peristiwa kepahlawanan tak boleh sampai dilupakan. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, tanggal 10 November akan selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan setiap tahunnya. Tanggal ini dipilih untuk mengenang sekaligus memperingati peristiwa heroik arek-arek suroboyo dalam pertempuran melawan sekutu guna mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di Kota Surabaya pada rentang waktu 29 Oktober — 10 November 1945. Peringatan ini dimulai pada era kepemimpinan Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Pada tahun ini, Bangsa Indonesia akan memperingati hari pahlawan untuk yang ke-65 kalinya terhitung sejak keputusan presiden tersebut dikeluarkan. Tentunya, ragam sekali cara yang bisa dilakukan untuk memperingati peristiwa tersebut. Beberapa diantaranya adalah dengan melakukan upacara bendera, menggelar doa bersama, dan masih banyak lainnya. Tapi, bagaimana jadinya kalau hari pahlawan diperingati dengan berjalan-jalan di Kota Surabaya? Ya, Kota yang dikenal dengan julukan Kota Pahlawan tersebut nyatanya menyajikan banyak destinasi wisata, tak terkecuali destinasi wisata edukasi yang menyangkut perjalanan bangsa Indonesia. Salah satu destinasi wisata edukasi sejarah yang bisa kamu kunjungi di Kota Surabaya dalam rangka memperingati hari pahlawan adalah Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember. Monumen Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember merupakan dua destinasi wisata pertama yang terletak di satu komplek yang sama dengan luas lahan mencapai...

Read More

Dua Tahun Pasca Tragedi Kanjuruhan, Duka Masih Menyelimuti Keluarga Korban

Malang – 1 Oktober 2024, sayup doa terdengar dari depan pintu gate 13 Stadion Kanjuruhan. Doa bersama yang ditujukan bagi para korban Tragedi Kanjuruhan juga diharapkan dapat menggugah hati nurani bagi semua elemen, sekaligus sebagai salah satu bentuk protes terhadap keadilan yang belum didapatkan hingga saat ini. Terhitung dua tahun dari Tragedi Kanjuruhan, jawaban tuntutan demi tuntutan yang dilayangkan masih abu-abu. Layangan tuntutan kepada Bareskrim, DPRD komisi tiga, Komnas HAM, hingga Kedutaan Besar cenderung mandek. “Enggak ada, nihil. Di sana itu ke Komnas HAM, ke Kedubes, ke Bareskrim semuanya enggak ada sampai sekarang. Dulu waktu ke Jakarta, waktu ke...

Read More

AKSI SIMBOLIK MENGENANG SEPTEMBER HITAM DI BRAWIJAYA

  Senin (30/09/2024), Gerbang Soekarno-Hatta Universitas Brawijaya (UB) telah dipadati oleh sejumlah masa aksi yang mengikuti “Seremonial September Hitam dan Malam Renungan Peringatan Tragedi Kanjuruhan” yang diinisiasi oleh Kementerian Aksi dan Propaganda Eksekutif Mahasiswa (EM) UB. Aksi simbolik ini berlangsung dari pukul 20.00 WIB hingga pukul 21.30 WIB. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari ketua pelaksana yang kemudian dilanjut dengan meneriakkan orasi seputar pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang telah terjadi. Menurut Auvel, selaku ketua pelaksana aksi ini menjelaskan bahwa mulanya seremonial September hitam ini akan diselenggarakan dengan kegiatan seremonial festival. Namun, karena terdapat beberapa kendala pada akhirnya hanya dilakukan dengan aksi simbolik pada malam ini yang dilengkapi dengan beberapa rangkaian kegiatan lain yaitu ziarah ke makam munir dan pemasangan poster propaganda di sejumlah titik di UB sebelum dilaksanakannya aksi ini. Beberapa tragedi pelanggaran HAM di bulan September yang diperingati dalam aksi ini yaitu Pembunuhan Munir, Tragedi Tanjung Priok, Tragedi Semanggi 2, Kekerasan terhadap Aksi Reformasi Dikorupsi, Pembunuhan Salim Kancil, Peristiwa 30 September, Pembunuhan Pendeta Yeremia dan Kekerasan terhadap Keluarga Rempang. Aksi ini juga digelar untuk merenungkan kembali tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober tepat dua tahun yang lalu. Berikutnya, kegiatan ditutup dengan pembacaan doa dilanjut penyalaan lilin serta peletakan bunga mawar untuk para korban tragedi. Pelaksanaan kegiatan Seremonial September Hitam ini tak semata-mata demi mengingat rangkaian pelanggaran HAM yang telah terjadi. Kegiatan ini juga berlangsung untuk menuntut...

Read More

AKSI SIMBOLIK MENGENANG SEPTEMBER HITAM DI BRAWIJAYA

Senin (30/09/2024), Gerbang Soekarno-Hatta Universitas Brawijaya (UB) telah dipadati oleh sejumlah masa aksi yang mengikuti “Seremonial September Hitam dan Malam Renungan Peringatan Tragedi Kanjuruhan” yang diinisiasi oleh Kementerian Aksi dan Propaganda Eksekutif Mahasiswa (EM) UB. Aksi simbolik ini berlangsung dari pukul 20.00 WIB hingga pukul 21.30 WIB. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari ketua pelaksana yang kemudian dilanjut dengan meneriakkan orasi seputar pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang telah terjadi. Menurut Auvel, selaku ketua pelaksana aksi ini menjelaskan bahwa mulanya seremonial September hitam ini akan diselenggarakan dengan kegiatan seremonial festival. Namun, karena terdapat beberapa kendala pada akhirnya hanya dilakukan...

Read More

Pancasila di Era Digital: Relevan atau Kuno?

Di tengah derasnya arus digital, kita kerap bertanya-tanya, apakah Pancasila yang lahir dalam perjuangan kemerdekaan, masih relevan di era teknologi modern? Ataukah ia hanya sekadar peninggalan kuno yang sulit disesuaikan dalam kenyataan digital saat ini? Di balik kebingungan ini, Pancasila sesungguhnya bukanlah dokumen yang kaku atau terbelenggu oleh zaman. Nilai-nilainya yang abadi—keadilan, kemanusiaan, dan persatuan—sangat relevan dalam menghadapi tantangan besar di era digital Warisan Sejarah, Kompas Masa Kini Pancasila dirumuskan dalam situasi yang penuh tantangan—penjajahan, perpecahan, dan kemiskinan. Namun, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya melampaui batas waktu. Sebagai pedoman, Pancasila tertanam kuat pada semangat persatuan, keberagaman, dan keadilan sosial. Meskipun lahir dalam konteks perjuangan fisik, intisari dari nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan dapat diterapkan di dunia yang kini Di era digital saat ini, teknologi telah merombak cara kita berinteraksi, bekerja, bahkan berpikir. Media sosial memudahkan penyebaran informasi, namun juga menjadi medan subur bagi hoaks, kebencian, dan radikalisme. Polarisasi masyarakat semakin menguat, merusak rasa persatuan yang dulu begitu terjaga. Ancaman terhadap nilai-nilai Pancasila tidak lagi datang dalam bentuk penjajah fisik, melainkan dalam bentuk disinformasi Survei literasi digital generasi muda Indonesia menunjukkan fakta yang menarik. Banyak dari mereka yang masih rentan terhadap informasi palsu dan propaganda di media sosial. Penggunaan platform digital oleh kelompok radikal untuk merekrut anggota baru, terutama anak muda, menjadi ancaman nyata bagi persatuan bangsa. Selama pandemi, peningkatan jumlah hoaks dan kebencian menjadi bukti nyata betapa nilai-nilai Pancasila...

Read More