Malang, dianns.org – Universitas Brawijaya (UB) kembali membuka penerimaan calon mahasiswa baru melalui jalur Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD) pada tahun 2013. Program SPKPD tahun ini merupakan yang kedua kalinya setelah tahun lalu resmi dibuka. UB menjadi satu-satunya universitas yang membuka jalur penerimaan mahasiswa khusus bagi penyandang disabilitas. Selain melalui jalur SPKPD, mahasiswa difabel juga dapat mendaftarkan diri melalui jalur reguler. Dari hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui SPKPD, terdapat 22 Mahasiswa Baru dan terdapat tiga mahasiswa difabel yang masuk melalui jalur reguler. Para mahasiswa difabel tersebar di beberapa fakultas, antara lain FIA, FIB, FH, FISIP, FAPET, FEB, dan PTIK. Untuk di FIA sendiri terdapat tiga mahasiswa difabel yang ketiganya menempuh jurusan Ilmu Perpustakaan. Ketiganya memiliki keterbatasan pendengaran (Tuna Rungu).

Nantinya, saat mengikuti kegiatan PK2MABA sampai dengan selesai Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) menyediakan relawan untuk mendampingi mereka. PSLD juga menyediakan pendamping pada saat Proses Belajar Mengajar (PMB). Disampaikan pihak PSLD UB, Ulfa, pendampingan ini tergantung pada kebutuhan mahasiswa yang bersangkutan, misal untuk Tuna Rungu di dalam kelas akan disediakan interpreter.

Dalam programnya, pelayanan PSLD mengusung konsep semangat inklusi (tidak membedakan antara mahasiswa yang normal dengan mahasiswa berkebutuhan khusus). Dengan adanya program ini mereka mendapat bobot pelajaran yang sama, tugas yang sama, dan hukuman yang sama pula bila melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah mahasiswa berkebutuhan khusus tersebut memerlukan pendamping sesuai dengan kebutuhan khususnya, untuk mendampingi atau memberi tutorial mengerjakan tugas mereka. Pendampingan sendiri dilakukan selama tiga semester, diharapkan selama pendampingan tiga semester, di semester keempat para mahasiswa difabel bisa mandiri dalam mengerjakan tugas-tugasnya.

Mahasiswa difabel di FIA juga mengikuti kegiatan PK2MABA, ketiganya yang berasal dari satu jurusan yang sama yaitu Ilmu Perpustakaan didampingi oleh satu orang pendamping. Salah satu hak Maba difabel adalah mendapatkan pendampingan pada saat perkuliahan, mengerjakan tugas kuliah, PK2MABA, dan mengurus administrasi perkulihan.

Uci, selaku pendamping yang mendampingi tiga mahasiswa difabel di FIA mengaku merasa kesulitan saat melakukan komunikasi pada ketiga mahasiswa tersebut, dikarenakan bahasa isyarat yang digunakan oleh ketiganya berbeda di setiap daerah. Alhasil dia harus menggunakan tulisan untuk berkomunikasi dengan mereka.

Untuk Ormawa di tingkat fakultas, PSLD berkerjasama dengan masing-masing ketua pelaksana dan panitia di semua fakultas untuk membicarakan bagaimana agar tidak ada diskriminasi antara mahasiswa berkebutuhan khusus dengan mahasiswa lain pada umumnya dan agar para mahasiswa difabel mendapat pendamping sesuai dengan kebutuhannya masing masing.

Tahun ini PSLD memiliki 32 pendamping, 17 pendamping untuk angkatan 2012 dan 15 untuk angkatan 2013. Rekrutmen untuk pendamping sendiri dilakukan setiap tahun. Para pendamping baru yang terpilih akan mengikuti pelatihan selama dua hari mencakup bagaimana cara mendorong kursi roda, bagaimana mendampingi Tuna Netra, bagaimana belajar bahasa isyarat dan bagaimana mendampingi Tuna Rungu. Selain melakukan pelatihan mereka juga akan diajak untuk melakukan penelitian terhadap disabilitas.

Reporter: Choirul Umam dan Chandra Eka Prasetya