Pemilihan Mahasiswa Raya (PEMIRA) Universitas Brawijaya yang diselenggarakan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 17 dan 18 FIA UB pada Rabu (16/12) sempat tertunda beberapa saat, hal ini terjadi karena adanya berbagai kesalahan teknis dan gangguan sistem E-Vote yang baru pertama kali diterapkan oleh PPTI UB.

Gangguan pada saat proses Pemira ini terjadi karena gangguan pada sistem E-Vote yang menyebabkan proses voting tertunda beberapa saat. Gangguan tersebut terjadi di hampir seluruh TPS yang ada, tanpa terkecuali di TPS FIA. Lambatnya koneksi ke server menjadi penyebab gangguan sistem E-Vote. Di bilik dua TPS 18 (Bisnis FIA), E-Vote bahkan sempat tidak dapat digunakan sama sekali. Jadi memang terjadi keterlambatan hampir diseluruh fakultas, tadi itu ada masalah koneksi ke server pusat lambat, tiba-tiba di tengah jalan error, bahkan di bilik dua TPS bisnis itu tidak nyala sama sekali, ujar Kevin selaku kapel panlok FIA.

Adanya berbagai gangguan teknis pada pemira kali ini sangat disayangkan oleh berbagai pihak. Dengan adanya gangguan sistem ini sebetulnya kita cukup kecewa dengan kinerja dari PPTI dan PSIK karena yang bertanggung jawab dari pengoprasian sitem ini adalah pihak PPTI dan PSIK, keluh salah seorang saksi dari calon DPM UB.

Karena adanya keterlambatan waktu buka TPS dan berbagai masalah lainnya, akhirnya melalui rapat antara Wakil Rektor III (WR III) dengan DPM, Panlok, Panwas, dan unsur panitia lainnya akhirnya diambil keputusan diberikannya waktu tambahan dua jam. Dari yang awalnya proses registrasi ditutup pukul 15:00 WIB dan sistem dimatikan pukul 16:00 WIB, diubah menjadi registrasi ditutup jam 18:00 WIB dan sistem dimatikan pukul 18:30 WIB. Namun karena sebelumnya sistem diseting hanya sampai pukul 16:00 WIB akibatnya ada waktu istirahat selama 30 menit untuk restart dan update sistem sehingga TPS akan kembali dibuka pukul 16:30. Kita baru mendapat kabar dari WR III bahwa pemira 2015 di tambah waktunya hingga jam 18:30, namun akan ada break 30 menit untuk restart dan update sistem, jadi kita mulai lagi jam 16:30, ujar Eka, tim teknis Panlok FIA.

Selain diatas, yang dikeluhkan oleh para mahasiswa adalah minimnya sosialisasi. Hal itu menggakibatkan banyak mahasiswa yang kurang mengerti dengan sistem E-vote itu sendiri Kalo dapet sosialisasi sih belum, bahkan hari ini pemirapun saya baru tau kemarin karena memang gak ada sosialisasi, ke kelas kamipun gak ada, ungkap Daud, salah satu mahasiswa FIA.

Penggunaan E-Vote kali ini adalah yang pertama kali dilakukan di UB, selain UB sebelumnya sudah ada beberapa perguruan tinggi yang menggunakan sistem ini dalam Pemira, seperti UI dan ITS. Sistem E-vote memiliki keunggulan, salah satunya lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan kertas sebagai surat suara. Selain itu sistem ini juga meminimalisir kesalahan data serta dapat menghemat waktu dan biaya. Proses penghitungan suara yang sebelumnya memakan waktu yang lama, dengan sistem ini dapat di lakukan dalam waktu singkat, dan hasilnya dapat langsung diketahui.

Namun harus diakui bahwa sistem E-Vote yang diterapkan pada pemilwa tahun ini masih bermasalah, mulai masalah koneksi dengan server, error yang tiba-tiba, hingga komputer pada bilik suara yang sama sekali tidak bisa digunakan. Seharusnya untuk tahun depan ada koordinasi lebih lanjut antara panitia teknis dengan panitia pelaksana, sehingga tidak ada lagi kesalahan seperti ini, dan sistempun saya rasa harus segera diperbaiki, ujar salah seorang saksi calon DPM UB.

Reporter : Hayu Primajaya