Setiap tahunnya di tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai salah satu momentum refleksi atas lahirnya Boedi Oetomo pada tahun 1908. Jika kita membedah sejarah secara mendalam, gerakan kebangkitan nasional lahir dari ruang-ruang kelas. Kehadiran para intelektual muda STOVIA yang sadar akan ketertindasan bangsanya membuktikan satu hal: pendidikan adalah pemantik utama kesadaran nasional. Kebangkitan bangsa pada dasarnya adalah transformasi pola pikir dari terjajah menjadi merdeka, dari apatis menjadi bergerak.

Lebih dari seabad kemudian, di tengah kompleksnya dinamika globa di tahun 2026 ini, hubungan antara pendidikan dan kebangkitan nasional tetap tidak terpisahkan, bahkan menjadi semakin krusial. Tetapi, fenomena pendidikan kita hari ini dihadapkan pada tantangan realitas sosial yang kompleks. Di satu sisi, kita melihat perkembangan teknologi yang sudah masif penggunaanya dalam dunia pendidikan, sebut saja penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) hingga metode pembelajaran digital melalui platform digital. Disisi lain, kita masih menyaksikan jurang ketimpangan kualitas pendidikan antara kota besar dan daerah pelosok di Indonesia, krisis karakter dan moral di kalangan pelajar, hingga persoalan kesejahteraan guru yang belum sepenuhnya tuntas. Kebangkitan nasional yang selalu digaungkan tidak akan pernah mencapai puncaknya jika pendidikan masih belum merata, dan sekolah hanya berfokus untuk menciptakan lulusan tanpa memperhatikan karakter dan moral peserta didiknya. Perlu kita sama sama pahami bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kita gunakan untuk mengubah dunia.

Oleh karena itu, memaknai Hari Kebangkitan Nasional di era modern yang menuntut kita untuk menata ulang arah pendidikan nasional. Kita tidak boleh lagi terjebak dalam paradigma bahwa sekolah sekadar pabrik penghasil lulusan yang kurang secara moral dan etika. Pendidikan harus dikembalikan pada pembentukan karakter bangsa yang berlandaskan nilai nilai moral yang luhur serta penguasaan sains teknologi yang berdaya saing agar kita tidak sekadar menjadi konsumen global. Maka dari itu untuk mewujudkan cita-cita besar diperlukan sinergi antar aktor yang harus bergerak selaras.

Pemerintah sebagai pemegang regulasi berperan sebagai kunci utama kebangkitan lewat jalur pendidikan, peran pemerintah dalam menyediakan akses, keadilan, dan mutu pendidikan atau sebagai fasilitator utama sangat penting untuk memastikan keadilan struktural dan tercapainya kualitas pendidikan yang mumpuni. Peran ini diwujudkan melalui beberapa langkah strategis diantaranya seperti pemerataan Infrastruktur dengan Membuka akses pendidikan yang setara, memastikan anak-anak di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) mendapatkan fasilitas digital dan fisik yang layak selanjutnya melalui peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, dengan menjamin kesejahteraan guru secara berkeadilan dan mumpuni dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan penguatan karakter siswa karena tidak ada pendidikan yang berkualitas tanpa guru yang sejahtera dan bermotivasi tinggi. Kemudian harus dilakukan reformasi kurikulum berorientasi pada karakter dan moral, hal ini dapat dilakukan dengan mengintegrasikan literasi digital dengan penanaman nilai-nilai luhur Pancasila secara aplikatif, sehingga generasi muda siap bersaing global tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Tidak hanya peran pemerintah, peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Kebangkitan moral bangsa dimulai dari lingkup terdekat, tempat nilai-nilai kejujuran, empati, dan disiplin ditanamkan sejak dini. Tanpa fondasi karakter yang kuat dari lingkup terkecil yakni rumah, institusi pendidikan formal hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara akademis namun miskin etika. Oleh karena itu, investasi moral dari lingkup terkecil yakni keluarga jauh lebih menentukan arah masa depan bangsa.

Selanjutnya peran masyarakat juga sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, masyarakat tidak boleh menjadi penonton pasif yang menyerahkan seluruh urusan pendidikan kepada sekolah atau negara. Pendidikan sejatinya akan berkembang dan berdampak jika ada sinergi serta integrasi pada tiga pilar yakni, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Masyarakat perlu menghidupkan kembali ruang-ruang belajar komunitas, taman bacaan, serta gerakan kepemudaan yang edukatif. Kesadaran kolektif akan pentingnya dunia pendidikan adalah bentuk nyata gotong-royong di era modern. Perlu dipahami pula bahwa ketika pemerintah menetapkan sistem dan menyediakan fasilitas yang adil dan memadai, masyarakat tentu saja harus menyambutnya dengan partisipasi aktif dan pengawasan yang kritis, dengan begitu pendidikan akan menjadi motor penggerak kebangkitan yang sangat efektif.

Sebagai penutup, perlu kita pahami bersama bahwa hari ini, tugas kita adalah memastikan bahwa pendidikan tersebut tidak hanya memerdekakan pikiran, tetapi juga memajukan martabat bangsa. Melalui sinergi yang kokoh antara kebijakan pemerintah yang berpihak pada rakyat dan kesadaran kolektif masyarakat dalam mendidik generasi penerus, Hari Kebangkitan Nasional akan terus hidup sebagai pilar utama yang menjadi penguat bangsa Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan berdaulat penuh.

Penulis: Nayla

Editor: Eca

Deslay: Kayes