Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
LPM DIANNS

Author: LPM DIANNS

Negara yang Tidak Pernah Gagal Mematahkan Hati, Krisis Pandemi, dan Kekuatan Solidaritas

Berdasarkan peta sebaran yang dipublikasikan oleh pemerintah provinsi Jawa Timur, Malang sekarang berada dalam zona merah dengan 5 kasus positif COVID-19. Di Indonesia sendiri terhitung per 27 Maret dilaporkan lebih dari 1000 kasus COVID-19 dengan angka kematian mencapai 9,3%. Peningkatan angka ini bisa jadi tidak akan melambat dalam waktu dekat. Himbauan untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah digalakan sedemikian rupa. Tapi pertanyaannya, siapa saja yang bisa benar-benar tinggal di rumah? Ada mitos yang menyatakan bahwa penyakit menulari siapapun, tidak pandang bulu. Tentu saja, virus tidak memlilih inangnya. Ia menyebar dan menjangkiti siapapun yang bisa dijangkau secepat angin. Virus...

Read More

Mengutuk Tindak Kekerasan terhadap Si Kiting

  Seorang anggota dari LPM Progress Universitas Indraprasta (Unindra) Jakarta yang bernama Achmad Rizky Muazam (biasa dipanggil Kiting), mengalami peanganiaayaan oleh beberapa kader HMI Komisariat FTMIPA Unindra pada Minggu (22/3). Penganiaayaan tersebut dikarenakan naiknya opini “Sesat Berpikir Kanda HMI dalam Menyikapi Omnibus Law,” yang ditulis oleh ARM di web LPM Progress. Opini yang berisi kritik terhadap HMI Komisariat FTMIPA Unindra itu ditulis lantaran adanya pernyataan Konferensi Pers dari Ketua dan kader HMI Komisariat Persiapan FTMIPA Unindra. Dalam Konferensi Pers itu mereka menyatakan dukungan terhadap DPR untuk mengesahkan RUU sapu jagat atau yang sering dikenal Omnibus Law. Dalam siaran pers...

Read More

Di Mana Hak Kami?

Kesekian kali ancaman terlontar Nalarpun tak mampu berjalan Egoisme lebih penting daripada nurani Pun tak berhak kau menginjak-injak harapan Apakah ini yang di sebut kebebasan? Apakah ini yang di sebut keadilan? Amanah kau emban tapi tak tersampaikan Kebenaran kau tutupi dengan tameng jabatan Sungguh ironis melihat keadaan ini Diam bukan pilihan Demi hak yang seharusnya didapatkan Meski usulan telah ditolak Hak telah terbabat Dan ancaman tetap mengalir Penulis: Tiara Tyas Ilustrasi: Widya...

Read More

Duka Perempuan dalam Sebuah Kado

Hei,aku punya kado untuk diriku sendiri di hari ulang tahunku ini. Tadi siang aku membelinya di pasar. Bagaimana? Bagus kan dress ini? Aku selalu ingin memakainya. Sedari dulu, aku harus menahan diri dan memilih untuk tidak berani mengenakan pakaian model dress seperti ini, karena takut akan celaan dari orang sekitarku yang masih berpikiran konservatif. “Berpakaianlah yang benar, itu terlalu terbuka. Kamu mau menggoda laki-laki di luar sana?”, “Salahmu berpakaian seperti itu. Mengundang hasrat laki-laki saja!” Itu kata-kata yang sering keluar dari mulut mereka ketika terjadi pelecehan atau kekerasan pada perempuan–aku muak mendengarnya. Masih saja, pakaian perempuan digunakan sebagai alibi atas tindakan mereka itu. Kok terus-terusan perempuan sih yang disalahkan? Rasa-rasanya tubuh perempuan ini dipenjara. Hanya dijadikan objek saja bahkan untuk hal yang sebebas memilih pakaian, masih tetap diatur. Bagiku, ini adalah bentuk ketidakdilan. Ketidakadilan? Iya. Selain perkara pakaian, aku juga punya cerita lain. Dahulu, aku sangat ingin bersekolah di perguruan tinggi. Aku ingin bisa meraih cita-citaku menjadi seorang guru. Sayangnya, aku bukan dari keluarga yang berkecukupan. Sehingga aku harus rela membuang cita-citaku tatkala ibu berkata, “sudahlah nduk, ndak usah. Kami tidak punya uang. Lebih baik kamu belajar memasak saja. Karena kodrat perempuan ujung-ujungnya juga di dapur.” Tentulah aku merasa sedih ketika mendengarnya. Tapi, bagaimanapun aku harus mempertimbangkan kondisi keuangan dalam keluarga, hingga akhirnya memilih untuk bekerja dengan bayaran yang tak seberapa. Lebih sedih lagi ketika dua tahun setelahnya, adik...

Read More

Ratap Anak Ibu Pertiwi

Ibu, Daksaku tak dapat berhenti bergetar Bibirku membiru dingin tak membungkam Terkejut aku ketika melihat sekitar, Bu, rasa-rasanya bola mataku ingin melompat keluar Kerumunan itu berteriak ibu, tengah malam menuju pagi Terkepal tinju-tinju tangan mereka ke arah langit Tak lupa mereka lantangkan ucapan demi ucapan Usir setan tanah! Tanah milik rakyat! Nyanyian senantiasa mengalun di rungu ku malam itu ibu “Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar, bunda relakan darah juang kami, untuk membebaskan rakyat.” Gema gema teriakan terus mengiring derap langkah kerumunan Menyongsong kedepan kerumunan itu, sayup-sayu terdengar “hentikan kesewenang-wenangan!” Bersitatap mereka dengan kerumunan lain, Pakaian seragam dengan sepatu...

Read More