Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
LPM DIANNS

Author: LPM DIANNS

Teja; Wahyu Kepresidenan

The President Mohammad Sobary Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) 2018 404 halaman ISBN: 978-602-481-031-3 Ada pemimpin yang berjanji, ada pula yang mengingkari. Ada yang mengaku sebagai kawan, tetapi hanya menyangkutkan kita pada ambisi egonya. Beberapa pihak sibuk menentang, sedangkan beberapa lainnya diam menyiapkan perlawanan. Beberapa pihak sibuk menyiapkan barisan dan menjadi garda terdepan, sedangkan yang lainnya diam-diam menyusup dengan bom waktu. Politik bukanlah menjadi semakin gila, melainkan permainannya. Mohammad Sobary mengangkat permainan politik bangsa lewat fiksi bertajuk The President. “Politik Indonesia makin lama makin mirip “lakon dari alam gaib” yang dimainkan di dunia nyata. Bohong, fitnah, iri, dan dengki...

Read More

Memperingati Bulan Kartini, Jaringan Gusdurian Menilik Peran Perempuan dalam Film “Our Mothers’ Land”

Sebagai bentuk penyambutan bulan Kartini, Jaringan GUSDURian Indonesia mengadakan webinar bertema “Kartini Merawat Bumi” pada Jum’at (02/04). Film “Our Mother Land” karya Febriana Firdaus yang di produseri oleh The Gecko Project dan Mongabay digunakan sebagai fokus pembahasannya. Diskusi dalam webinar ini diawali dengan penayangan film “Our Mother Land”. Film ini bercerita tentang perempuan yang mengorganisir serta memimpin suatu gerakan. Gerakan tersebut bertujuan untuk mempertahankan tanah dan kelestarian lingkungan dari para pemodal. Film ini memuat perjalanan Febriana Firdaus, seorang jurnalis independen. Febriana menceritakan perjuangan perempuan di beberapa wilayah konflik yang dihadapkan dengan kekerasan, ancaman penahanan, dan kematian. Ia menyusuri pelosok...

Read More

Meninjau Kembali Hakikat Sekolah

Menggali lebih dalam mengenai hakikat sekolah, Perkumpulan Homeschooler Indonesia (PHI) mengadakan webinar bertema ‘Hidup untuk Sekolah atau Sekolah untuk Hidup’ (07/03). Dalam fokus pembahasannya, mereka menggunakan buku berjudul ‘Sekolah itu Candu’ yang ditulis oleh Roem Topatimasang sebagai bahan diskusi. Khususnya bab pertama dan kedua tentang refleksi sejarah dan hakikat sekolah. Ellen Nugroho, anggota PHI sekaligus moderator, mengawali diskusi dengan memaparkan hasil riset Roem tentang akar kata sekolah. “Sekolah berasal dari bahasa latin skhole, scola, schola yang berarti waktu senggang atau waktu luang,” ungkapnya. Hal ini merujuk pada kebiasaan orang Yunani Kuno yang mempunyai banyak waktu luang. Lalu mereka mengisinya...

Read More

Menilik Nasib Puan Indonesia di Kala Pandemi

Kekerasan terhadap perempuan mengalami peningkatan yang cukup tinggi selama pandemi. Berdasarkan data Komnas Perempuan Indonesia, kekerasan berbasis gender telah meningkat 63% selama masa pandemi Covid-19. Menyikapi hal tersebut, Amnesty Chapter UIN Jakarta mengadakan diskusi via online dengan tajuk Voices and Action of Women During Pandemi pada Jumat malam (12-03). “Hal ini (red: peningkatan kekerasan berbasis gender) merupakan situasi yang cukup memprihatinkan” tegas Nurina Savitri, narasumber dari Amnesty Internasional Indonesia. Sebab menurutnya hak perempuan itu juga merupakan hak mereka sebagai manusia pada umumnya. Oleh karena itu antara laki-laki dan perempuan seharusnya tidak boleh ada pembedaan. “Walaupun memang ada beberapa kondisi...

Read More

Penjara Suara oleh UU ITE

[Riset] Seakan melenceng dari tujuan awal, UU ITE yang seharusnya melindungi hak bersuara diruang maya justru malah menjadi tameng yang menciderai hak kebebasan bersuara. Masalah UU ITE yang terus-menerus bermunculan menyebabkan banyaknya usulan agar pasal-pasal yang dinilai multitafsir direvisi, karena hanya mengantarkan korbannya menuju jeruji besi. Sedikit Lebih Dekat dengan UU ITE Berdasarkan kumparan.com, gagasan adanya UU ITE bermula sekitar awal tahun 2000 saat era Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ketika itu, masih terjadi kekosongan hukum di ranah dunia maya atau cyber. Sehingga 2 perguruan tinggi negeri, Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran, masing-masing menyusun konsep RUU cyberlaw. Unpad...

Read More