Penulis: Iko Dian Wiratama

Judul Buku : Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis

Pengarang : David Harvey

Penerbit : Penerbit Resist, Yogyakarta

Tahun terbit : Januari 2009

Jumlah halaman : xi + 371 hal.

Problematika yang terjadi di dunia hari ini adalah hasil dari bagaimana dunia ini bekerja.  Ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di dunia ini tidak terjadi begitu saja. Praktik kapitalisme masih terus berlanjut dan Neoliberalisme disebut-sebut sebagai kelanjutannya. Sudah banyak kiranya yang coba menelaah bagimana neoliberalisme memberi dampak dalam perjalanan ekonomi-politik hari ini. Salah satu buku yang turut serta dalam menelaah Neoliberalisme adalah buku karya David Harvey yang berjudul Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis. Dari judul buku kita dapati kata di cover buku yang sudah tidak asing lagi yaitu Neoliberalisme. Kata ini sebagai jalan masuk untuk menyelami buku ini. Sebagian besar orang menyingkat Neoliberalisme dengan kata neolib. Kata “neolib” mungkin sudah tidak asing lagi bagi mereka yang menyukai pembahasan ekonomi secara makro. David Harvey menulis buku ini karena melihat beberapa kajian neoliberalisme yang masih umum dan buku ini ditulisnya dengan harapan dapat mengisi kekosongan kajian neoliberalisme.

Buku ini merupakan salah satu buku yang membahas mengenai Neoliberalisme secara kritis. Pembahasannya dimulai dari sejarah runtutan munculnya neoliberalisme dan bagaimana neoliberalisme di negara-negara, serta dampaknya hingga alternatif-alternatif selain neoliberalisme. David Harvey mencoba untuk menelisik lebih dalam dari pembahasan umum kedalam latar belakang neoliberalisme dan bagaimana kemudian neoliberalisme ini berkembang hingga mendunia ia mengistilahkannya dengan sebutan “drama ekonomi politik”.

Sepanjang saya mengetahui Neoliberalisme dalam teorinya dimaksudkan untuk mampu membuka kesempatan kepada semua orang dengan memberi kebebasan. Namun apabila  melihat praktiknya yang terjadi malah justru menampakkan monopoli untuk kekuasaan kelas elit tertentu sehingga terlihat kesenjangan teori dan praktiknya.

David Harvey dalam bukunya berargumen bahwa neoliberalisme memang tidak terlalu efektif dalam merevitalisasi akumulasi kapital pada level global, tetapi sangat berhasil dalam memulihkan atau malah justru membangun kekuasaan elit ekonomi (seperti di Rusia dan Cina). Terjadi banyak pengaturan di negara-negara seperti Amerika, Inggris, Cina, bahkan hingga Afrika Selatan dalam menjustifikasi kekuasan menggunakan neoliberalisme. Anggapan mengenai neoliberal yang membuka akses kebebasan individu dan kesetaraan dalam persaingan, nampaknya hanya sebuah utopia saja, yang terjadi hanyalah penciptaan kekuasaan kelas elit.

Periode antara tahun 1970-1980 merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah neoliberalisme, karena ada beberapa peristiwa yang terjadi berkaitan dengan berkembangnya neoliberalisme. Pada tahun 1978, Negara Cina membuka keran bagi masuknya dinamika kapitalis, yang mana merupakan langkah pertama Cina yang Harvey sebut sebagai meliberalisasikan ekonomi komunis. Mulai tahun 1979, Magareth Thatcher dan Ronald Reagan mengawali proses menuju Neoliberal atau negara-pasar. Margaret Thatcher dilantik sebagai Perdana Menteri di Inggris. Dalam ucapannya yang terkenal, tertulis dalam bukunya David Harvey, ‘tak ada masyarakat itu karena yang ada hanyalah individu laki-laki dan wanita-wanita’. Dengan kata lain tidak adanya solidaritas sosial yang hanya adalah kepentingan individu, hak milik pribadi.  Satu tahun setalahnya Ronald, Reagan terpilih menjadi presiden Amerika Serikat, yang kemudian merevitalisasi ekonomi AS yang bertujuan untuk membatasi kekuatan buruh serta meliberalisasi kekuasan lembaga keuangan.

Nafas neoliberalisme yang embrionya dari liberalisme berkeinginan untuk membebaskan warga negara tidak hanya membebaskan para usahawan borjuis yang memiliki harta benda dari konsep negara yang berperilaku seperti pembantu rumah tangga (nany state). Seperti yang dikatakan juga oleh mantan Menteri Kerjasama Pembangunan Internasional Jerman dan salah satu tokoh sentral Partai Sosial Demokrat (SPD) Erhard Eppler ‘Negara yang Dipereteli‘ dalam tulisan nya Neoliberalisme membawa pasar sebagai titik awal berangkatnya, dan mengurutkan nilai sesuatu, termasuk negara, dalam ukuran-ukuran yang didasarkan pada pelayanan yang dapat diberikannya kepada pasar. Seorang sejarawan bernama  Philip Bobbitt juga menyebutkan dalam buku yang ditulisnya, The Shield of Achilles: War, Peace and the Course of History bahwa tipe negara pada abad ke-21 adalah tipe ‘negara-pasar (market-state). Negara-pasar menawarkan kesempatan, kesempatan dalam segala bentuk. Instrumen terbaik untuk menjalankan kesempatan itu adalah pasar.

Penyebaran neoliberalisme ke seluruh dunia makin intensif, terutama ketika pada tahun 1989 negara-negara donor berkumpul di Washington, D.C. dan menghasilkan apa yang oleh John Williamson disebut “Washington Consensus”. Kesepakatan ini kemudian dipakai sebagai credo oleh Bank Dunia dan IMF (International Monetary Fund) yang mensyaratkan setiap negara yang ingin mendapat fasilitas pinjaman dari kedua lembaga tersebut harus terlebih dahulu menyepakati menerapkan “kebijakan ekonomi liberal” yang meliputi reformasi kebijakan fiskal, suku bunga yang ditentukan pasar, perdagangan bebas, pasar bebas, privatisasi, deregulasi, nilai tukar mata uang yang berbasis pasar.

Fenomena dari Neoliberalisme ini sebenarnya sangat berada didekat kita seperti maraknya privatisasi bayangkan saja bagaimana ketika nanti berdiri perusahaan swasta listrik, air, dan perkeretaapian yang mereka saling berkompetisi, yang akan terjadi adalah banyak pipa dan tiang-tiang listrik dimana-mana. Institusi penting seperti kesehatan dan pendidikan akan berubah menjadi bisnis kesehatan dan bisnis pendidikan. Kritik terhadapap maraknya privatisasi juga dilontarkan Erhard Eppler dalam bukunya ‘Melindungi Negara dalan Ancaman Neoliberal’ terjadi dengan mengambil contoh dibeberapa negara-negara seperti  pengalaman Inggris dan Jerman, Eppler menyatakan bahwa privatisasi jasa pelayanan kereta api telah mengakibatkan rendahnya mutu pelayanan (jadwal sering terlambat, fasilitas toilet yang buruk, dll.). Sementara itu privatisasi penyediaan air bersih di Bolivia mengakibatkan naiknya harga langganan air yang mengakibatkan penduduk beramai-ramai melakukan demonstrasi memprotes pihak pengelola, Bechtel Corporation, yang mengharuskan perusahaan tersebut menarik diri. Di Amerika Serikat, pengelolaan penjara oleh pihak swasta telah meningkatkan secara signifikan jumlah penghuni penjara dan jangka waktu penahanan karena pihak pengelola berkepentingan untuk memperbesar omset dengan cara memasukkan orang sebanyak-banyaknya dan memperpanjang masa penahanan setiap terpidana. Sementara itu di Amerika Serikat, Eropa dan Afrika, privatisasi sektor keamanan, yakni dibukanya kesempatan bagi sektor swasta untuk menyediakan perlidungan keamanan, telah menambah komplikasi perdagangan senjata ilegal, penyelundupan dan konflik di negara-negara rawan konflik.

Buku ini menurut saya memiliki keluasan dalam uraiannya ditambah tampilan-tampilan data sebagai pendukung argumentasi David Harvey. Keluasan pembahasannya nampak terlihat dari latar belakang neoliberalisme itu sendiri dan beberapa contoh negara yang mengamini neoliberalisme. Semakin dalam dan jauh lembaran-lembaran buku dilalui, tidak hanya pengetahuan yang bertambah tetapi justru semakin banyak meninggalkan keheranan bercampur pertanyaan bahwa disadari atau tidak, apa yang coba untuk dibedah David Harvey mengenai Neoliberalisme dapat menjadi suatu pandangan yang cukup jelas bagaimana dunia hari ini bekerja. Bagi yang tertarik dan ingin menambah wawasan mengenai neoliberalisme maka buku ini cocok menjadi salah satu bacaan untuk melengkapi pemahaman neoliberalisme.

Kehidupan menjadi seperti ajang grand prix, sehingga orang-orang merasa semua harus bersaing dan tidak jarang justru saling menyalahkan dan menjatuhkan agar menang dalam persaingan. Berbanggalah mereka yang tercepat yang dapat meninggalkan yang lainnya. Sekarang semuanya menjadi persoalan dagang, untung rugi dan jual beli. Dari situ kita bisa lihat bagaimana euforia ’become entrepreneur’. Hari ini banyak orang ingin menjadi pengusaha, karena ada sebuah anggapan dimasyarakat bahwa pengusaha adalah model manusia sejati. Pasar bebas sebagai rayuan palsu dan globalisasi sebagai penutup manisnya. Pada gilirannya pelan-pelan menjauhkan kemiskinan dari masalah sosial menjadi masalah individu, karena gagal mengubah dari aset menjadi laba. Kehidupan akan menjadi terasa sepi yang nampak ramai hanyalah sebuah persaingan.

Di akhir buku ini ada sebuah pembahas menarik mengenai alternatif-alternatif yang dilakukan dalam mengurangi hegemoni neoliberalisme. Alternatif yang muncul dapat berupa teoretis ataupun praktis. Harvey berkata dalam bukunya “semakin neoliberalisme dipahami sebagai suatu retorika utopian yang gagal, dan tak lebih sebagai topeng untuk menutup-nutupi proyek pembangungan, kembali kekuasaan yang berkuasa, semakin kuat basis bagi munculnya kembali gerakan-gerakan massa, yang menyuarakan tuntutan-tuntutan egalitarianisme politik dan keadilan ekonomi”. Harapan tentang adanya kehidupan sosial yang jujur dan adil nampaknya akan selalu menggema untuk memerangi nafsu jahat kekuatan pasar.