Penulis: Esa Kurnia A

Konon, di Kepulauan Solomon, ada sebuah tradisi yang tidak termasuk para menunya untuk meneriaki sebuah pohon besar. Dikisahkan dalam sebuah cerita, ada sebuah pohon besar, berakar kuat, dan sulit ditebang bahkan dengan menggunakan kapakuhnya. Pada saat itu, para warga Salomo tidak menebang pohon besar tersebut, meluncur mereka bermaininya beramai-ramai kemudian mulai mencaci maki pohon tersebut; Meneriaki dengan kata-kata negatif dan kasar ke pohon itu setiap hal. Setelah 40 hari pohon itu pun layu, mengering, dan akhirnya pun mati.

Cerita diatas mengisyaratkan kepada kita bagaimana lingkungan eksternal memiliki pengaruh dan dampak besar terhadap perkembangan mental dan psikis individu. Pada zaman modern, batasan-batasan lingkungan eksternal menjadi sangat bias. Hampir seluruh kalangan masyarakat, termasuk remaja dan anak-anak kini dapat mengakses informasi dengan cepat dan mudah. Dari banyaknya jenis media massa, televisi merupakan media massa paling “populer” di indonesia. Hal ini menurut Effendi, tokoh ilmu komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (FIKOM UNPAD), karena televisi berbeda dengan media massa lainnya.Unsur Visual Melalui Gambar Bergerak dan Audio Suguhan Program yang Ada di Televisi menjadi Lebih Menarik

Di balik kemenarikannya tersebut, televisi sebagai media massa notabene dapat menjadi perangkat sosial yang sangat berpengaruh terhadap kecerdasan dan kesehatan sosial masyarakat. Lie (2004) menyatakan, media massa seperti televisi kini menjadi sumber belajar utama di tengah keluarga modern. Posisi keluarga, sekolah, dan tetangga telah tergeser, tergantikan oleh media massa. Sayangnya, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada tahun 2015 declaring yang disuguhkan dari pelbagai program dan stasiun televisi di indonesia masih jauh di bawah standar yang ditetapkan. Rata-rata penilaian KPI jatuh pada angka 2,5 hingga 3,00, sedangkan batas yang ditetapkan KPI adalah 4.00. Imbas paling besar dari hal tersebut, tentu saja oleh remaja dan anak-anak. Anak-anak adalah kelompok audien yang paling rentan akan terkena dampak negatif dari televisi. Hal ini, karena seperti apa yang dikatakan Giles dalam teori imitasi, anak adalah kelompok yang sangat mudah meniru apa yang ada di lingkungannya.

Saat ini hampir seluruh keluarga di Indonesia memiliki televisi sebagai salah satu media hiburan bagi keluarga. Hampir 24 jam setiap hal tayangan televisi seperti sinetron, berita, religius, dan komik menggempur kehidupan anak-anak. Di satu sisi, dalam penelitian Gushevilati (2011) disebutkan tingkat komposisi antara hiburan dan edukasi untuk acara dan program anak di indonesia tidak berimbang. Lihat saja, pelbagai suguhan media seperti iklan di media visual, cara berpakaian, hingga alat permainan kerap dibentuk sambil menikmati orang dewasa. Bahkan, acara televisi nasional pun tidak ada yang layak dikonsumsi untuk anak-anak. Sinetron yang diperuntukan untuk dunia anak kerap di-plintir sedang mengadakan setting orang dewasa. Berdasarkan survey yang dilakuakan KPI pada tahun 2011 menyatakan,

Carut Marut Dunia Anak

Masa kanak-kanak adalah fase dimana seorang anak sedang mengerjakan dasar-dasar perilaku sosial melalui penyerapan atas bencana lingkungan yang ada di sekitarnya. Secara terstruktur, pada usia 7-12 tahun, menurut ilmu neurobehavior, manusia usia emas (keemasan), dimana dasar sebuah perilaku manusia dibentuk. Perilaku seseorang didasari oleh sistem memori yang direkam di dalam otak manusia, sehingga penyerapan informasi dari lingkungan eksternal tentu saja sangat mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak di kemudian hari.

Berdasarkan penelitian dari University of Washington, Seattle, Amerika Serikat dalam jurnal Pediatricts, menyatakan tayangan televisi dapat mempengaruhi pola pikir anak. Media menjadi medium yang menentukan pola pikir anak ke depannya. Besarnya pengaruh media media dalam membangun pola pikir dan perilaku anak membuat peminat. KPI sebagai lem-baga negara bagian ber-dasarkan Undang-Undang 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran berkewajiban untuk memperbaiki tata program percikan program televisi yang sekiranya kurang memiliki bobot acara. Hal ini membawa dampak yang ada pada televisi bagi anak amat tinggi.

Bukan hanya di Indonesia, di Negara India, studi Yohan Goonasekera, seorang Psikolog Sri Lanka terhadap anak tayangan yang berdampak media dapat secara otomatis dapat memengaruhi kemampuan skolastik -potensi atau bakat- menginduksi sikap pasif, melambung kebiasaan membaca, mengurangi aktivitas fisik, dan relasi interpersonal anak Dengan lingkungan-nya. Selain itu, televisi juga disinyalir meng-aksentuasi dalam komunikasi antara anak dan orang tua. Di Indonesia, perilaku anak dalam menonton televisi dapat menyebabkan ke-tergantungan semakin tinggi terhadap media. Hal ini terlihat melalui data yang dikeluarkan oleh UNICEF (Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa Bangsa bekerja untuk hak anak, kelangsungan hidup, pengembangan dan perlindungan anak) pada tahun 2007,

Pada penelitian lain, yang dilakukan oleh AC Nielsen pada tahun 2011 menunjukkan, dalam seminggu, anak-anak Indonesia menghabiskan waktu untuk menonton televisi sebanyak 30-35 jam, atau 1560-1820 selam selam. Angka ini jauh lebih besar daripada jumlah jam belajar di sekolah dasar yang tak lebih dari 1000 jam per tahun. Sementara, waktu yang dihabiskan untuk belajar tak lebih dari 11.000 jam saja. Semakin tinggi tingkat ketergantungan anak terhadap televisi tentu akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak.

Belum lagi dewasa ini suguhan program televisi untuk anak sudah selayaknya untuk dikritisi. Mulai dari sinetron, kartun, dan acara berbau mistis yang bisa merusak pola pikir anak usia dini. Nyatanya, program sinetron penuh dengan nuansa percintaan, perkelahian, dan seks yang tentu tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Selain itu, jumlah program acara anak kian meningkat, banyak program anak belum memiliki kualitas dan bobot yang baik. Sebuah acara penelitian dan advokasi media anak catatan, saat ini jumlah acara televisi untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar mencapai 80 judul setiap minggu, yang ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Lenyap, dalam seminggu hanya ada 168 jam. Artinya, porsi tayangan program anak di televisi sudah berlebihan.

Melihat hal tersebut, sebuah studi tentang dampak media perlu terus dikaji oleh lembaga pemerhati pada bidang ini. KPI sebagai lembaga yang ditunjuk oleh negara dalam hal penyiaran media massa memiliki peran strategis dalam penyelesaian masalah ini. Ketegasan dan perbaikan pada indikator penilaian kelayakan sebuah program televisi. Selain itu, tayangan tayangan televisi pada waktu-waktu tertentu perlu diperhatikan, sehingga tayangan televisi menjadi lebih tertata. Pranata keluarga sebagai lingkungan terdekat anak perlu melakukan strategi yang mampu mengubah anak dari kecanduan akan televisi. Misalnya, dengan mengarahkan anak kepada hal-hal yang sedang edukatif. Anak dididik untuk menghargai waktu dan pola pembelajaran dibentuk menyenang-kan.