Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
Ragam Archives - Page 18 of 19 - DIANNS.ORG

Category: Ragam

Ilusi Demokrasi

Penulis : Ganis Harianto Muncul sudah dua buah nama Yang memimpin satu tahun ke depan Terpilih karena suara mahasiswa Dipercaya untuk kesejahteraan Memang tidak mudah Tak semudah mengedipkan mata Membuat pikiran gundah Di kala mendengar dialektika mereka Layaknya rapat paripurna Mencari titik tengah untuk dieksekusi Namun siapa mengira? Ternyata sudah berkongsi! Hey… Iya, kamu… Dimana posisimu? Mencari solusi? Hmmm… Atau mungkin Hanya bisa mengklarifikasi Mulut-mulut kami para...

Read More

Hancurkan Oligarki

Penulis : Ganis Harianto Terkuak sudah wangi melati Ketertundukan luka sebuah peristiwa Terasa geram tak mau lari Karena sebuah retorika Bungkam belum tentu diam Diam mungkin mempersiapkan Revolusi dalam pendidikan Yang tidak mudah digenggam Swasta telah mendominasi Mengerubungi pihak aparatur negeri ini Yang beralasan memperbaiki Namun tak perduli pada konstitusi Kaum muda dipenjara Dalam gelombang liberalisasi Hmmmmm… Putaran otak melaju Sungguh, sudah sangat terasa Tidak… Ini tidak bisa Karena tidak sesuai Dengan ontologi Ki Hajar Dewantara Karena kita telah terjebak dalam jeratan oligarki Hingga kita tidak mampu berdikari Bangkit! Bukan lagi waktunya berbisik Jangan takut kita diusik Jika bisa balik menggigit Diam kau! Para koalisi korupsi Yang hanya bisa membebani Dengan tradisi oligarki Satu suara kami lantang Hancurkan...

Read More

PRASETYA BASUKARNA (Jalan Pengabdian Sang Putra Dewa Surya)*

Penulis : R.Seta Panggala (Budayawan) Basukarna atau yang lebih dikenal dengan nama Adipati Karna, kakak tertua Pandawa, lahir dari seorang putri raja (Dewi Kunti). Ia lahir dari mantra suci yang disebut Aji Dipa, pemberian Resi Druwasa. Basukarna lahir atas anugerah Dewa Surya, lalu dibuang dan ditemukan oleh seorang kusir kuda bernama Adirata. Sang anak dari Dewa Surya tumbuh menjadi pribadi yang otodidak, berani karena benar, berjuang sendiri tanpa mengandalkan bantuan keluarganya, dan kesatria yang tahu membalas budi. Di dalam hatinya, timbul rasa rela berkorban demi menangnya kebenaran meskipun mengorbankan jiwa dan nama baiknya. Pada saat tumbuh besar, dia terikat karena janji setianya pada para Kurawa karena Prabu Suyudana (kakak tertua Kurawa) mengangkatnya sebagai Bupati, dengan syarat dia harus berjanji untuk setia pada Kurawa. Basukarna pun menyanggupinya karena kagum pada kebaikan para Kurawa yang berani mengangkatnya, yang hanya seorang putra kusir kuda, menjadi seorang Bupati di daerah bagian Ngastina bernama Ngawangga. Basukarna tidak tahu bahwa itu sebenarnya adalah akal-akalan Kurawa. Pihak Kurawa melihat Basukarna sebagai seorang kesatria pilih tanding yang bisa diandalkan. Sehingga, kurawa berkeinginan agar Basukarna ada di pihak Kurawa dengan cara memberi jabatan pada Basukarna sebagai Bupati di daerah Ngawangga agar nantinya Basukarna akan memihak Kurawa sebagai senjata untuk melawan Pandawa. Jikalau, Pandawa sebagai pewaris yang sah menuntut haknya atas tahta Ngastina dari Kurawa. Setelah sekian lama, Basukarna yang telah bergelar Adipati Karna mulai menyadari kebusukan Kurawa dan...

Read More

Perempuanku

1943 Aku tak pernah hina seperti yang selalu kautuduhkan padaku. Ingin rasanya kusumpal mulutmu dengan serbet lusuh berlumuran muntahku. Tidakkah kau sekali saja mengerti? Oh, bukan mengerti. Itu masih terlalu jauh. Tidakkah sekali saja terlintas dipikiranmu tentangperilaku busukmu padaku? Kau terang-terangan menjarah harga diriku. Kau perlakukan aku tak ada harganya demi mengenyangkan nafsumu yang liar dan serakah ketika kukatakan tak mau. Manusia ataukah binatang kau itu sejatinya? Bahkan mungkin binatang lebih mulia daripada kau. Iblis pun mungkin lebih mulia daripada kau! Ketika aku meraung-raung kesakitan kau malah mengisap dalam-dalam puntung rokok yang menyala sambil tertawa riang menyaksikanku kesakitan. Aku ini si pesakitan. Tidakkah pernah kau melihatku sebagai manusia yang juga sama sepertimu? Mulanya berjam-jam. Aku menunggu sesuatu entah apapun itu menjemputku dan menjauhkanku dari tempat yang mulai kucurigai ini. Kemudian menjadi berhari-hari. Seorang berseragam mendekatiku yang gemetar di pojokan kamar. Perlahan dia menyentuh bibirku yang memucat. Kuhempaskan tangannya kemudian ia membalas lebih keras. Masih kucoba memberontak dan melindungi diriku yang kekuatannya tak sampai setengah dari kekuatan lelaki berseragam tadi. Ia malah balik menyerangku. Akupun tak berdaya dan menuruti kemauannya. Tolol. Sungguh tolol. Aku hanya mampu menggulirkan air mata. Lelaki berseragam sama silih berganti mendatangiku. Dari berhari-hari menjadi berbulan-bulan. Aku sekarang mengerti. Manusia-manusia berseragam yang tak berperikemanusiaan itu telah memperkerjakanku sebagai Jugun Ianfu, wanita jalangnya. Bah, masih mending dipekerjakan, tapi aku telah diperdayakan alias diperbudak alias diperbinatangkan. Apakah di luar...

Read More

Hatiku Disana, Bukan Disini

Secercah harapan muncul, matahari pagi merona tersenyum begitu anggunnya. Kapas putih melayang indah di langit. Membentuk deretan benda yang sebentar berubah mengikuti pola pemikiranku. Menyaksikan kuasa Tuhan di dataran permadani hijau ini menggambarkan kenyamanan penuh optimisme yang melahirkan sebuah kenyataan hidup begitu indah. Udara masih sangat bersahabat begitu tertib masuk dan keluar dari paru-paru. Sungguh membuat nyaman segalanya. Saat akhir pekan inilah selalu kusempatkan untuk menyandarkan tubuhku sejenak. Istirahat dari lelahnya berpetualang mencari pengalaman baru setiap hari. Hanya di hari ini. Minggu yang indah, minggu yang sempurna, minggu yang sejuk, namun juga minggu yang kosong. Lekukan bibirku sekejap berubah menjadi perahu terbalik. Aku terhenyak saat pikiranku menyapa minggu yang kosong. Tarikan napas panjang bergelut dengan nuraniku. Kosong dan gelap. Mataku menyapu alam sekitar, sejak dua tahun lalu tak ada yang berubah dari tempat ini. Hijau berbintik merah karena diantara rumput terdapat bunga mawar merah yang tumbuh dengan cantiknya. Mengisyaratkan sebuah lukisan Tuhan Yang Maha Agung. Hanya saja langit berbisik merdu kepadaku. Telinga ini seakan menangkap dengan jelas gaung yang diteriakkan oleh pengisi alam. Kebersamaanku dengannya hanya sebentar. Katanya “hatiku disana bukan disini”. Air mata meleleh jatuh menuruni mulus melewati pipi. Dan kata-kata itulah yang saat ini dibisikkan lagi oleh langit. Akankah mereka menginginkan aku untuk jatuh pada sakit yang kurasakan dulu. “Sudah cukup kau melampiaskan semua kekecewaanmu terhadapku”. Aku terdiam, suara berat laki-laki di samping seakan mengiris tajam pendengaranku....

Read More