Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
Ragam Archives - Page 17 of 19 - DIANNS.ORG

Category: Ragam

Tak Ingin Berseragam

Penulis : Dea Kusuma Riyadi “Bapak, Besudut ingin sekolah.” Bapak hanya diam, seakan tak mendengar permintaanku. Ia masih mengumpulkan tanah untuk membuat gundukan di bawah pohon Setubungini. Aku melihat sekeliling, sudah banyak gundukan tanah di sini, tapi Bapak memaksa untuk tetap membuat gundukan baru. Mungkin karena terlalu sulit mencari pohon Setubung baru sehingga ari-ari adik keempatku yang lahir beberapa jam lalu harus dikubur di sini, bersama ari-ariku dan teman-teman sebayaku. “Bapak, Besudut ingin sekolah,” aku masih mencoba membujuk bapak. Namun, sekali lagi ia hanya diam. Ia menghampiri adik ketigaku yang sedang menggigil di gubuk. Memang sudah beberapa hari ini...

Read More

Toni ingin Sekolah, Mbak..

Penulis : Ria Fitriani Ilustrasi oleh : Fadhila Isniana “Mak, apa Mamak bahagia di sini? Apa Mamak merasa nyaman sekarang? Mak, putra Mamak yang paling kecil, si Toni, sekarang dia sudah besar Mak. Dia pernah bilang padaku kalau dia ingin melanjutkan sekolah ke SMA Mak. Dia ingin pintar katanya. Aku tak bisa berkata apa-apa Mak, aku hanya tersenyum sambil menatap lekat cahaya matanya yang teduh itu. Aku tahu Mak, Toni memang anak yang cerdas. Beberapa hari yang lalu dia dengan semangatnya bercerita tentang pemerintahan kita yang tidak memihak rakyat kecil. Saat itu aku bisa melihat cahaya matanya yang berapi-api. Aku tak tahu apa yang dia dapatkan di sekolah, aku juga tak mengerti apa-apa tentang ceritanya Mak, tentang pemerintah, birokrasi, dan lain sebagainya. Mak, aku harap Mamak bahagia. Mamak harus bahagia sekarang. Mamak tak usah khawatir tentang aku, Ayu, Rachmad, dan Toni. Aku sudah mengorbankan segalanya demi mereka Mak, aku ikhlas. Aku bahkan tak lagi memikirkan masa depanku sendiri sekarang. Asalkan adik-adikku itu bisa makan, aku sudah senang. Aku bahagia Mak…” Kata-kataku untuk Mamak menggiringku pada memori lima tahun yang lalu. Ketika angin sore berhembus membelai lembut wajahku, menerpa kerudung hitamku yang lusuh itu. Udara kota yang bercampur polusi adalah makananku sehari-hari. Di sinilah, di tempat ini. Lima kilo meter setidaknya dari gubuk tempatku tinggal bersama keluargaku yang kucintai. Aku berjalan menyusuri tepian jalan, mencoba mencari, menjemput rezeki ilahi. Sebuah...

Read More

Runtuh

Penulis: Zendy Titis Ini otomatis senoktah yang disumbang asa Dihias gelegak angka dan aksara Tapi apa karena ia runtuh tiba-tiba Mungkinble runtuh bernyanyi biadab Dari ruangnya, ingini terbit mentari pagi Yang semangat menyongsong kemudi Dari ruang yang runtuh itu Dari ruang yang diruntuhkan itu!   Bangsamu, Cukup pernah kenal si kancil yang nakal Rumus sederhana imparsial Hafal Pancasila Dan tahu arti kata ‘sekolah’ Meski ‘negeri Cina’ tak pernah berhenti mengiang   Tapi kau makan bangsamu Dan minum dari peluh mata...

Read More

Sebenarnya, Rindu

  Penulis: Dea Kusuma Riyadi Ilustrasi Oleh Ria Fitriani Semilir angin Bulan Januari membelai lembut wajahku yang nampak menua. Dinginnya menyejukan kumisku yang mungkin lebih mirip Pak Raden, salah satu teman Si Unyil di tontonan favoritku semasa kecil dulu. Ada aroma tanah basah di setiap hembusannya. Daun-daun nampak tersenyum manis dengan warnanya yang hijau, langit pun terasa damai dihiasi mendung-mendung putih yang nampak berbaris. Sebuah rasa syukur yang luar biasa membuncah di dadaku. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku melihat alam seindah ini. Duniaku hanya sebatas ruang pengap bertembok kusam dengan barisan besi di bagian depan, ya setidaknya begitulah untuk beberapa tahun belakangan ini. Seorang wanita yang semakin rapuh dimakan usia nampak sedang memberi makan ayam-ayam yang ia pelihara di samping rumah, beberapa meter di depanku. Langkahnya nampak lebih lambat daripada ketika aku melihatnya meninggalkanku sendirian bersama orang-orang galak di sana 7 tahun silam. Sebenarnya aku tak ingin kembali ke tempat ini lagi. Aku sangat membenci wanita itu, wanita yang sudah membiarkanku berada di masa sulitku sendirian. Niat itu sangat kuat tertanam di hatiku bahkan hingga tadi pagi pun niat itu masih berkobar. Namun, semua amarahku padam ketika seseorang yang mengantarku ke tempat ini tadi, lelaki setengah baya yang sering kupanggil Pak Jono, bercerita tentang wanita tua itu. Cerita yang selama ini hanya kuanggap sebagai mimpi. Mengapa hanya mimpi? Karena sebenarnya aku sangat mencintai jalan cerita itu. Namun,...

Read More

Sebenarnya, Rindu

Penulis : Dea Kusuma Riyadi Ilustrator : Ria Fitriani Semilir angin Bulan Januari membelai lembut wajahku yang nampak menua. Dinginnya menyejukan kumisku yang mungkin lebih mirip Pak Raden, salah satu teman Si Unyil di tontonan favoritku semasa kecil dulu. Ada aroma tanah basah di setiap hembusannya. Daun-daun nampak tersenyum manis dengan warnanya yang hijau, langit pun terasa damai dihiasi mendung-mendung putih yang nampak berbaris. Sebuah rasa syukur yang luar biasa membuncah di dadaku. Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku melihat alam seindah ini. Duniaku hanya sebatas ruang pengap bertembok kusam dengan barisan besi di bagian depan, ya setidaknya begitulah untuk beberapa tahun belakangan ini. Seorang wanita yang semakin rapuh dimakan usia nampak sedang memberi makan ayam-ayam yang ia pelihara di samping rumah, beberapa meter di depanku. Langkahnya nampak lebih lambat daripada ketika aku melihatnya meninggalkanku sendirian bersama orang-orang galak di sana 7 tahun silam. Sebenarnya aku tak ingin kembali ke tempat ini lagi. Aku sangat membenci wanita itu, wanita yang sudah membiarkanku berada di masa sulitku sendirian. Niat itu sangat kuat tertanam di hatiku bahkan hingga tadi pagi pun niat itu masih berkobar. Namun, semua amarahku padam ketika seseorang yang mengantarku ke tempat ini tadi, lelaki setengah baya yang sering kupanggil Pak Jono, bercerita tentang wanita tua itu. Cerita yang selama ini hanya kuanggap sebagai mimpi. Mengapa hanya mimpi? Karena sebenarnya aku sangat mencintai jalan cerita itu. Namun,...

Read More