Penulis : Ria Fitriani Ilustrasi oleh : Fadhila Isniana “Mak, apa Mamak bahagia di sini? Apa Mamak merasa nyaman sekarang? Mak, putra Mamak yang paling kecil, si Toni, sekarang dia sudah besar Mak. Dia pernah bilang padaku kalau dia ingin melanjutkan sekolah ke SMA Mak. Dia ingin pintar katanya. Aku tak bisa berkata apa-apa Mak, aku hanya tersenyum sambil menatap lekat cahaya matanya yang teduh itu. Aku tahu Mak, Toni memang anak yang cerdas. Beberapa hari yang lalu dia dengan semangatnya bercerita tentang pemerintahan kita yang tidak memihak rakyat kecil. Saat itu aku bisa melihat cahaya matanya yang berapi-api. Aku tak tahu apa yang dia dapatkan di sekolah, aku juga tak mengerti apa-apa tentang ceritanya Mak, tentang pemerintah, birokrasi, dan lain sebagainya. Mak, aku harap Mamak bahagia. Mamak harus bahagia sekarang. Mamak tak usah khawatir tentang aku, Ayu, Rachmad, dan Toni. Aku sudah mengorbankan segalanya demi mereka Mak, aku ikhlas. Aku bahkan tak lagi memikirkan masa depanku sendiri sekarang. Asalkan adik-adikku itu bisa makan, aku sudah senang. Aku bahagia Mak…” Kata-kataku untuk Mamak menggiringku pada memori lima tahun yang lalu. Ketika angin sore berhembus membelai lembut wajahku, menerpa kerudung hitamku yang lusuh itu. Udara kota yang bercampur polusi adalah makananku sehari-hari. Di sinilah, di tempat ini. Lima kilo meter setidaknya dari gubuk tempatku tinggal bersama keluargaku yang kucintai. Aku berjalan menyusuri tepian jalan, mencoba mencari, menjemput rezeki ilahi. Sebuah...
Read More