DIANNS, Setelah dua tahun vakum, kini Kementerian Agama (Kemenag) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) kembali masuk dalam jajaran kementrian. Dua tahun lalu Kemenag pernah ada dalam kementerian bentukan BEM FIA UB tahun 2012, ketika Fernanda A. Prastya menjabat sebagai presiden BEM pada saat itu. Dua periode kepengurusan BEM selanjutnya, yakni pada kepemimpinan Setya Nugraha dan Tio Andiko, Kemenag tidak ada dalam kementerian BEM pada saat itu.

Ditemui di Ruang Sekertariat BEM pada Senin (23/3/2015), Robeth Akbar selaku Presiden BEM FIA periode 2015-2016 mengatakan bahwa alasan kembali dibentuknya Kemenag tahun ini karena tidak adanya lembaga yang dapat menaungi kebutuhan agama mahasiswa FIA, terutama mahasiswa yang non islam. “Tahun kemarin contohnya, ketika teman-teman mahasiswa yang beragama Nasrani ingin mengadakan acara formal berupa perayaan Natal, pengajuan dana yang mereka sampaikan ke fakultas ditolak,” ujar Robeth. Alasan penolakan tersebut, merurutnya, lantaran tidak adanya kejelasan tentang legalitas lembaga yang menaungi mereka.

Pernyataan sebaliknya diungkapkan oleh Tio Andiko sebagai Presiden BEM FIA periode 2014-2015. Ia berkata bahwa dirinya sempat berdiskusi dengan Heru Susilo yang saat itu menjabat sebagai Pembantu Dekan III perihal organisasi keagamaan di luar Forkim seperti KMK dan PMK. Berdasarkan penuturan Heru, yang disampaikan oleh Tio, proposal acara kegiatan organisasi nonislam FIA, terutama KMK dan PMK selalu di-ACC. “Selama ini mereka masih diwadahi terkait acara-acara keagamaan yang diselenggarakan.”

Pro kontra serta polemik seputar  urgensi pembentukan Kemenag ini pada akhirnya ditanggapi oleh Menteri Agama BEM FIA, Husin Al Hamid. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan Kemenag jelas merupakan hal yang urgen. Bagi Husin, selama ini mahasiswa baru (maba) yang baru memasuki dunia kampus diinjeksi dengan budaya-budaya sekuler oleh mahasiswa yang lebih senior, di mana budaya-budaya tersebut justru cenderung membedakan kehidupan duniawi dan akhirat. Dia juga mengungkapkan keinginannya untuk mengubah citra FIA yang mulanya terkenal sebagai Fakultas Ilmu Artis menjadi Fakultas Ilmu Agama. “Kalo bisa sih, mindset mahasiswa-mahasiswa di luar FIA yang menyebut fakultas kita sebagai Fakultas Ilmu Artis kita ubah menjadi Fakultas Ilmu Agama,” cetus Menteri Agama yang sempat sulit ditemui karena berbagai alasan itu.

Terkait kemungkinan pembentukan Kemenag saat ini sebagai kelanjutan dari Kemenag dua tahun yang lalu, Robeth menampik hal tersebut dengan tegas. Robeth mengaku tidak melakukan evaluasi terhadap kinerja Kemenag 2012 karena tidak adanya laporan pertanggungjawaban yang valid. Namun ketika pernyataan tersebut diverifikasi kepada Menteri Agama, Husin justu mengatakan bahwa telah dilakukan evaluasi terhadap kinerja Kemenag sebelumnya. “Oh ya pasti, itu pasti sudah. Kami sudah mengevaluasi apa yang kemarin sudah terbentuk. Kami berharap bisa mengubah Kemenag tahun menjadi lebih baik.” Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik angkatan 2012 ini mengungkapkan bahwa evaluasi Kemenag tahun 2012 lalu difokuskan pada penanaman nilai-nilai agama.

Ditemui pada Sabtu (21/03/2015), Robertus Jovian selaku Koordinator Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) 2015 mengungkapkan respon positifnya terhadap pembentukan Kemenag. “Secara umum sih bagus, tugasnya kan menaungi semua agama yang ada di FIA. Tetapi akan lebih baik jika semua agama terlibat dalam kepengurusan kementerian ini.” Senada dengan yang diungkapkan oleh Robertus, Mifthakhul Arifin selaku Ketua Forum Kajian Islam Mahasiswa (Forkim) 2015 mengatakan, Kementerian Agama ya saya rasa sah-sah saja bagi BEM untuk membentuk kementerian. Arifin juga berharap Kemenag tidak hanya akan fokus ke Agama Islam, melainkan dapat memberi perhatian yang sama kepada agama-agama lainnya.

Pada kesempatan yang berbeda, George Zinsky Pietro, mahasiswa FIA Publik 2011 yang juga mantan anggota Kementerian Agama 2012-2013 dan anggota Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) FIA sempat mempertanyakan urgensi dibentuknya kembali kementerian ini. Ia mengatakan, “Aku tahu betul kementerian itu seperti apa. Pada tahun 2012 lalu kementerian ini bisa dikatakan nggak ada kerjanya.” George beranggapan bahwa selama tahun 2012 Kemenag tidak memiliki tugas dan program kerja yang jelas. “Jadi ketika kementerian agama ini muncul lagi, aku mempertanyakan urgensinya. Padahal di tahun 2012, nggak terlalu efektif kementerian ini,” sambungnya.

Sementara itu, Anatoly Bong selaku mahasiswa Jurusan Bisnis 2012 menyatakan kesetujuannya terkait pembentukan Kemenag ini. Dia juga mengapresiasi program kerja Kemenag terkait penyelenggaraan acara Misa Raya. Namun, ia mengungkapkan tidak ingin ada kepentingan tertentu di dalam BEM. “Takutnya dia nanti minta feedback. Saya nggak mau seperti itu. Apa yang saya inginkan adalah kementerian yang benar-benar dapat memfasilitasi dan menempatkan seluruh agama secara setara, bukan kementerian yang dibentuk hanya untuk kepentingan mereka,” komentarnya. Mahasiwa yang juga merupakan angota KMK ini berharap Kemenag tidak sekedar menebar janji-janji belaka. Ia menyatakan siap untuk bergerak jika janji-janji tersebut tidak terlaksana.

Program Kerja

Program kerja (Proker) Kemenag telah disampaikan pada Rapat Koordinasi (Rakor) Lembaga yang dihadiri oleh BEM, Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM), Himpunan, dan Lembaga Otonomi Fakultas (LOF) FIA pada Selasa (17/03/2015). Proker tersebut antara lain pengajian umum, infak, PHBI (Perayaan Hari Besar Islam), Camp mahasiswa Kristen, Protestan, Katolik, Bakti Sosial Paskah, Misa Raya, dan Natal.

Terkait proker-proker tersebut, Arifin selaku bagian dari Forkim tidak terlalu merisaukan kemungkinan terjadinya tumpang tindih proker Kemenag dengan proker mereka. Ia mengatakan pihak Forkim pun bersedia bekerja sama dengan BEM jika terdapat proker yang sama. “Jobdesk-nya nggak terlalucrash dengan jobdesk Forkim. Ya, ada yang sama. Cuma, Forkim nggak membatasi proker BEM harus di luar prokernya Forkim,”paparnya.

Dari pihak BEM, Robeth mengatakan telah membangun komunikasi dengan Forkim. Terkait proker pengajian umum dan infak, ia menyatakan tidak akan bekerja sama dengan Forkim. Hal ini lantas ditanggapi oleh Tio Andiko. Menurut mahasiswa Prodi Perpajakan angkatan 2011 ini, hal yang sama akan terulang kembali seperti dua tahun yang lalu, dimana saat itu di FIA berlangsung dua kegiatan kajian. “Jadi, kalau 2012 itu lucunya ada dua kajian. Forkim bikin kajian juga, BEM juga ada kajiannya.Kan jadi lucu toh. Apalagi sekarang Bu Esti sangat tegas tidak membolehkan adanya kegiatan yang sama antarlembaga. Lembaga itu didirikan kan sudah ada porsinya masing-masing.” Di satu sisi, tanggapan berbeda dilontarkan oleh Husin “Terkait porsi pembagian kerja, saya rasa gak ada lahporsi-porsi kegiatan. Porsi-porsi seperti apa.”

Tahun ini anggota Kemenag berjumlah 10 orang ditambah satu Menteri, Dirjen Islam, Dirjen Non Islam yang masing-masing dijabat oleh satu orang. Dari kesepuluh anggota yang ada, enam anggota ditugaskan menangani kerohanian Islam, sementara empat yang lainnya bertugas meng-handlekegiatan-kegiatan di luar Islam dengan pembagian masing-masing; Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha. Untuk Islam, Katolik, dan Kristen ditangani oleh anggota Kemenag sesuai keagamaan mereka. Sedangkan untuk Hindu dan Budha dipegang oleh mahasiswa pemeluk agama Islam. “Karena kami tidak menemukan teman-teman anggota yang beragama Hindu dan Budha,” ujar Robeth.Reporter : Zendy Titis dan Rahma Agustina