Notice: Function WP_Scripts::localize was called incorrectly. The $l10n parameter must be an array. To pass arbitrary data to scripts, use the wp_add_inline_script() function instead. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 5.7.0.) in /home/diannsor/public_html/wp-includes/functions.php on line 5866
LPM DIANNS

Author: LPM DIANNS

Mayday: Buruh dan Mahasiswa Serukan Ketertindasan Kaum Buruh

Reporter: Rethiya Astari dan Ferry Firmanna Malang, dianns.org – Senin, 1 Mei 2017 di Alun-Alun Kota Malang digelar aksi peringatan Hari Buruh Internasional. Aksi tersebut diikuti oleh buruh dan mahasiswa yang tergabung dalam Sekretariat Bersama (Sekber) Mayday 2017 Kota Malang. Misdi Muhammad selaku Koordinator Lapangan (Korlap) membuka acara pada pukul 08.00 WIB. Beliau menyerukan mengenai pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan, serta sistem kerja kontrak dan outsourcing yang menyebabkan banyak hak buruh terampas. Seperti halnya mengenai kebebasan untuk berserikat dan mengenai jaminan kesehatan. Menggunakan atribut bendera putih dengan logo bertuliskan Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI),...

Read More

Cerita yang Masih Terpinggirkan

Penulis: Iko Dian Wiratama “Workin’ nine to five, what a way to make a livin’. Barely gettin’ by, it’s all takin’ and no givin’. They just use your mind and you never get the credit. It’s enough to drive you crazy if you let it. Nine to five, yeah they got you where they want you. There’s a better life, and you dream about it, don’t you? It’s a rich man’s game no matter what they call it and you spend your life puttin’ money in his wallet.” Cuplikan lirik dari Dolly Parton yang berjudul “9 to 5” tersebut,...

Read More

Surat dari Tuan

Penulis: Hendra Kristopel Tak tahu diri! Kau terlalu banyak menuntut Keringatmu palsu Tapi mengenyangkanku Untuk apa kau menuntut? Biar saja lapar menggerogotimu Membunuhmu pelan pelan Agar bumiku tak penuh sesak orang-orang bernyali Untuk apa kau menuntut? Biar saja anakmu tak bisa sekolah Menjauhlah dari pendidikan Agar ada yang selalu bisa kubodohi Upah murah, sistem outsourcing, dan tak ada jaminan sosial! Hanyalah sebagian yang telah kupermainkan untukmu Kau masih ingat Marsinah? Satu dari sekian banyak temanmu Yang telah kubuat menghilang Kau terus saja melawan, melancarkan aksi, orasi, puisi perlawanan! Hingga aku gentar juga Tapi camkanlah satu hal Aku selalu bisa...

Read More

Menggugat Sejarah

Penulis: Hendra Kristopel Komunis adalah musuh kita. PKI adalah pengkhianat bangsa. Seperti itulah guru kita dulu menjelaskan sejarah bangsa ini. Bahkan di ranah perguruan tinggi pun demikian. Seolah tak mau tahu apa yang selama ini dibungkam. Setiap mendengar istilah Partai Komunis Indonesia, maka pikiran langsung mengarah ke peristiwa pengkhianatannya, terutama Gerakan 30 September 1965 (G30S). Ada yang benci dengannya, tanpa sebab sekalipun. Ada juga yang membuka pikiran tentang yang sebenarnya terjadi. Secara mendasar, G30S terletak dalam ruang konstelasi politik global, yakni perang dingin. Semakin naik kekuatan Amerika Serikat (AS), akan menggeser percaturan politik dunia. Kemajuan negaranya akan ditentukan oleh bagaimana mengatur peta politik di setiap negara yang akan menjadi bahan eksploitasinya. Hingga akhirnya, ia harus membasmi lawan politiknya sampai habis. Dan hal itu terjadi di Indonesia. Propaganda Palsu G30S Orde Baru melakukan pelbagai langkah terstruktur untuk menguatkan argumen: PKI bersalah dalam G30S. Salah satunya adalah mendongengkan sebuah narasi ke dalam film bertajuk ‘Pengkhianatan G30S/PKI’. Karya tersebut mencoba menampilkan ulang peristiwa G30S. Padahal, apa yang terjadi di malam itu masih menjadi tanda tanya besar. Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) sebagai organisasi perempuan onderbouw PKI, diceritakan menyilet kemaluan tujuh jenderal yang terbunuh malam itu, kemudian menarikan tarian Harum Bunga. Skenario sejarah buatan Orba ini amat berlebihan. Sang produser berkhayal terlalu liar, sampai-sampai kejadian yang ingin ia anggap realistis menjadi semacam film horor. Padahal, hasil visum dokter (yang pada masa Orba tidak pernah...

Read More