Penulis : Ria Fitriani

Ilustrasi oleh : Fadhila Isniana

“Mak, apa Mamak bahagia di sini? Apa Mamak merasa nyaman sekarang? Mak, putra Mamak yang paling kecil, si Toni, sekarang dia sudah besar Mak. Dia pernah bilang padaku kalau dia ingin melanjutkan sekolah ke SMA Mak. Dia ingin pintar katanya. Aku tak bisa berkata apa-apa Mak, aku hanya tersenyum sambil menatap lekat cahaya matanya yang teduh itu. Aku tahu Mak, Toni memang anak yang cerdas. Beberapa hari yang lalu dia dengan semangatnya bercerita tentang pemerintahan kita yang tidak memihak rakyat kecil. Saat itu aku bisa melihat cahaya matanya yang berapi-api. Aku tak tahu apa yang dia dapatkan di sekolah, aku juga tak mengerti apa-apa tentang ceritanya Mak, tentang pemerintah, birokrasi, dan lain sebagainya. Mak, aku harap Mamak bahagia. Mamak harus bahagia sekarang. Mamak tak usah khawatir tentang aku, Ayu, Rachmad, dan Toni. Aku sudah mengorbankan segalanya demi mereka Mak, aku ikhlas. Aku bahkan tak lagi memikirkan masa depanku sendiri sekarang. Asalkan adik-adikku itu bisa makan, aku sudah senang. Aku bahagia Mak…”

Kata-kataku untuk Mamak menggiringku pada memori lima tahun yang lalu. Ketika angin sore berhembus membelai lembut wajahku, menerpa kerudung hitamku yang lusuh itu. Udara kota yang bercampur polusi adalah makananku sehari-hari. Di sinilah, di tempat ini. Lima kilo meter setidaknya dari gubuk tempatku tinggal bersama keluargaku yang kucintai. Aku berjalan menyusuri tepian jalan, mencoba mencari, menjemput rezeki ilahi. Sebuah nampan besar yang kuletakkan di atas kepalaku berisi mendoan, bakwan, pisang goreng, tahu isi dan kue surabi. Aku berjalan sambil terus menawarkan dagangan ini. Tukang ojek, supir taksi, atau siapapun yang kutemui di jalan tak luput dari penawaranku. Tak kupedulikan pandangan orang yang melirik dari jendela mobil mereka sambil mencibir ataupun rasa lelah yang seakan menggerogoti tubuh dan semangatku ini. Hanya satu yang kupikirkan. Jika daganganku hari ini habis, untunglah aku 10 ribu. Itu artinya besok kami masih bisa makan. Cukup bagiku jika Mamak dan adik-adikku bisa makan dengan kenyang meski hanya nasi aking dicampur garam.

Masih teringat olehku, saat bapak merintih kesakitan di atas karpet lusuh itu. Nafasnya sersengal-sengal, seakan-akan saluran nafasnya tertutup. Bapak telah mengidap penyakit paru-paru basah selama puluhan tahun tapi selama itu bapak tak pernah menjalani pengobatan secara intensif. Bahkan saat penyakitnya semakin parah dan tak lagi pergi memulung, kami pun tak mampu berbuat apa-apa kecuali memberinya obat yang kami beli di warung terdekat. Jangankan untuk berobat, untuk makan pun selalu kesulitan. Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah yang penting jangan sampai bapak tidak makan. Aku mengingat barang kali hanya 2 kali aku pernah membawa bapak ke puskesmas terdekat selama setahun ini ketika keadaan bapak semakin memburuk. Namun beberapa bulan terakhir bapak menolak pergi ke puskesmas untuk memeriksakan kesehatannya. Lelaki 64 tahun itu tetap menolak meskipun aku memaksa. Hingga akhirnya bapak pergi meninggalkan istri dan keempat anaknya. Mamak yang keadaan fisiknya juga sering sakit-sakitan, aku yang sekarang harus menggantikan tugas dan tanggung jawab bapak dan mamak secara bersamaan, adikku Ayu yang baru setahun lulus SMP, Rochmad yang duduk di bangku kelas 3 SMP dan Toni adikku yang paling kecil yang berada 2 tingkat di bawah Rochmad. Kini tak ada lagi sosok bapak dalam keluarga ini. Tak ada lagi senyum bapak yang selalu kurindukan setiap kali pulang memulung, dan tak ada lagi sorot mata bapak yang teduh ketika berbicara kepadaku.

Dua tahun telah berlalu sejak kepergian bapak. Toni pun duduk di kelas 3 SMP. Adikku Ayu kini bekerja serabutan menjadi buruh cuci di desa tetangga sedangkan Rochmad memilih menjadi tukang semir sepatu keliling. Dan aku, aku tetap setia pada rutinitasku sejak dulu. Menjemput rupiah demi rupiah, menyusuri jalanan penuh polusi untuk menjajakan daganganku ini. Seribu, dua ribu, ku kumpulkan dengan penuh kesabaran hingga semuanya habis terjual. Aku tak ingin kembali dengan hanya membawa nampan kosong, melainkan rupiah dalam genggamanku. Dengan begitu, aku bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa adik-adikku tak sampai kelaparan esok hari.

Hari ini Toni bercerita lagi sepulang sekolahnya. Bahkan seragam lusuhnya pun belum dilepas ketika ia menghampiriku di dapur saat aku tengah menyiapkan gorengan yang akan kujual.

“Mbak, kata Pak Guru sekarang liberalisme semakin meraja lela. Kita, kaum tertindas sekarang semakin hari semakin tercekik. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin menderita. Lalu bagaimana nasib kita nanti Mbak?”. Toni berbicara dengan nada yang tinggi, seakan dia tengah memaki mbaknya sendiri. Aku hanya diam sambil terus sibuk menyiapkan dagangan ku sebelum ku jual. Bukan karena aku tak peduli dengannya, tapi karena aku sama sekali tidak mengerti tentang liberalisme atau apalah itu. Apa yang kutangkap dari kata-katanya hanyalah kita sebagi rakyat tertindas semakin menderita. Dan tak ku pungkiri hati kecilku membenarkan pernyataan itu.

“Mbak, apa Mbak tidak bosan hidup seperti ini?  Bukankah Mbak selama ini lelah harus bejalan puluhan kilo hanya untuk menjual gorengan? Begitu juga Mbak Ayu dan Mas Rochmad. Aku yakin hati kecil mereka sebenarnya bertolak belakang dengan realita yang mereka jalani.” Sambung bocah 15 tahun itu. Mendengar perkataannya barusan, seketika aku menghentikan kegiatanku. Aku menatapnya sambil melotot, perasaan kecewa memenuhi ruang hatiku. Aku terus memandanginya dengan sorot mataku yang tajam. Air mata mengambang seakan ingin jatuh. Nafasku sesak, tenggorokanku terasa seperti tersumbat sebongkah batu. Aku pun hanya terdiam membisu hingga air mataku tak dapat kutahan lagi untuk terjatuh.

“Maafkan Toni, Mbak. Bukan maksudku membuat Mbak Laras sedih. Tapi sebaliknya aku ingin merubah semuanya Mbak. Aku ingin keluarga kita memiliki masa depan yang lebih baik. Biarkan aku terus bersekolah Mbak. Aku akan menjadi orang yang sukses, aku janji. Aku ingin mengganti bilik bambu di gubuk ini menjadi dinding semen yang kuat supaya mamak tidak kedinginan lagi setiap malam. Mbak tau sendiri kondisi mamak saat ini semakin parah, bahkan batuknya seakan tak pernah berhenti. Bagaimanapun caranya, meskipun jika Mbak tak memungkinkan lagi untuk membiayai sekolahku, aku akan berusaha sekuat tenaga Mbak. Aku bisa bekerja paruh waktu, aku bisa membantu Mas Rochmad menyemir sepatu. Atau apapun itu akan ku lakukan Mbak…”

“Hentikan! Pergi temui Mamak. Dia menunggumu dari tadi..”

Air mataku semakin deras menetes, aku mencoba mengalihkan pandangan dan melanjutkan menata gorengan yang sudah dingin itu di atas nampan. Pikiranku jadi tak karuan. Apa yang harus ku lakukan untuk mewujudkan cita-cita Toni. Dia lah yang paling bersemangat di antara kami berempat. Yang ku sesali hanyalah karena aku tak dapat memberikan jaminan padanya untuk dapat terus bersekolah. Ingin rasanya ku kutuk diriku sendiri atas ketidakberdayaanku ini.

Adikku Toni, di tengah kesemrawutan negeri ini, di tengah kemelaratan kaum-kaum terlantar ia masih bisa bermimpi. Mimpinya sederhana, saat ini keinginan terbesarnya hanyalah ingin melanjutkan ke SLTA. Tapi bagi kami, sekolah itu barang mewah yang takkan sanggup kami beli. Mereka bilang fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh pemerintah. Aku meyakini pemerintah sudah menjalankannya dengan baik. Kami para fakir miskin dan anak terlantar memang tetap dipelihara dari dulu, tapi tidak pernah disejahterakan kehidupannya. Pemerintah memelihara kami, membiarkan orang-orang bernasib sial seperti kami tetap lestari dan berkembang biak dan memenuhi setiap sudut negeri ini. Negeri yang katanya subur dan makmur, iya benar. Negeri yang orang-orang miskinnya tumbuh dengan subur sementara orang-orang kaya, pejabat, dan para pemilik modal hidupnya semakin makmur. Tak ada masa depan bagi kami. Kami hanya menatap lorong-lorong kosong yang gelap dan sunyi. Tak pernah memiliki keberanian untuk melangkah dan mencari tahu apa yang ada di ujung lorong lorong itu. Tidak, kami tidak berani bermimpi.

“ Mbak, ayo kita pulang. Hari sudah mulai gelap..”

Ajakan Toni membuatku tersadar dari lamunanku yang sedari tadi melayang-layang di memori lima tahun yang lalu. Tak terasa kerudung hitamku telah basah oleh linangan air mata. Aku yang sejak tadi berbicara pada benda ini dan menanyakan apakah mamak bahagia, tak menyadari sang surya telah tergelincir di ufuk barat. Aku terus saja mengelus benda ini. Begitu cepat rasanya kebersamaanku bersama mamak. Sudah 2 tahun jasadnya terbaring disini. Penyakit sama seperti yang diderita bapak akhirnya mengantarkan mamak menyusul bapak di surga. Dalam dekapan kami berempat, mamak menghembuskan nafas terakhirnya. Melepaskan ruhnya yang lelah, terbang kembali ke hadapan Sang Ilahi. Mungkin mamak sudah benar-benar lelah. Mungkin beliau kesepian semenjak bapak pergi. Mungkin mamak tak tahan melihat anak-anaknya yang setiap hari memeras keringat demi sesuap nasi. Dan rasa lelah lain yang selama hidupnya ia pendam sendiri, tak pernah mengeluh ataupun bercerita tentang kegundahan hatinya menjalani beratnya hidup ini.

“Pesan Mamak dan Bapak akan selalu ku ingat, Mak. Akan kujaga adik-adikku. Takkan kubiarkan mereka kelaparan. Mamak tak usah khawatir. Sekarang saatnya Mamak bahagia. Di tempat ini, semoga Mamak senantiasa tenang di sisi-Nya” Kataku sambil memegang erat batu nisan bertuliskan nama perempuan yang sudah menemaniku selama 23 tahun ini. Kucium berulang kali batu nisan itu, melepaskan kerinduanku yang mendalam sebelum akhirnya aku bangkit dan melangkahkan kaki bersama Toni meninggalkan tempat peristirahatan Mamak yang terakhir. Tempat yang ku harapakan dapat membuat Mamak bahagia bersama Bapak disana.