Penulis : Karima Styorini

Hari ini kawanku mati. Dadanya sesak, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya pucat membiru. Kalimat terakhir yang sempat ia ucapkan dengan susah payah setelah perdebatan kami, Perhatikan Tan Malaka. Aku masih mencari-cari maksud petuah terakhir kawanku itu, hingga matahari melingsir ke peraduannya petang ini, yang kutahu hanya siapa Tan Malaka, sisanya masih teka-teki yang tak kunjung kutemu jawabannya.

Beberapa waktu sebelum kawanku mati, aku sempat berdebat dengannya.

Siang yang gerah. Hampir tiga puluh menit aku terpanggang terik matahari, menunggu seorang kawan yang katanya ingin bertemu. Membahas sesuatu yang penting, begitu ucapnya empat jam yang lalu. Kalau bukan karena ia kawan karibku, aku tak akan menunggunya selama ini.

Kenapa kau? pertanyaan pertama yang kusodorkan setelah melihat tubuhnya yang penuh keringat dan napas terengah-engah.

Baca ini. ia sodorkan sepotong pesan singkat yang berisi ajakan untuk memilih salah satu calon anggota legislatif dengan iming-iming imbalan uang.

Kubaca pesan itu hingga tuntas, sementara mulutku masih sibuk menghisap gabus beracun sembari awas mengamati mahasiswa yang berlalu lalang.

Hah, ini yang kaubilang penting? aku mulai mempertanyakan arti kata penting menurut kawanku itu.

Bagaimana pendapatmu?

Aku turut bersedih. Tapi ya sudahlah. Hal seperti itu bukan urusan kami.

Lalu menurutmu hal seperti apa yang menjadi urusan kalian?

Kuliah, lulus tepat waktu, IPK cumlaude, lalu dapat kerja gaji besar. Ucapanku barusan bukan tanpa arti. Di jaman sekeras sekarang ini, egoisme adalah hal yang bias. Aku memilih untuk memenuhi tanggung jawabku sendiri dan menutup telinga untuk perkara yang bukan menjadi urusanku. Kawanku pernah bilang kepekaanku tumpul. Tapi masa bodoh! Ia tak mengerti berapa SKS yang harus kupenuhi dan tugas kuliah yang menggunung semester ini. Belum lagi biaya kuliah yang tak hanya memeras keringat tapi juga mencekik leher orangtuaku.

Gundulmu. Kau ingin disebut hewan ternak? Seperti kata Pram?

Pram? Pram sudah lama mati. Sudahlah, mulai sekarang mari kita urus urusan kita sendiri. Tak usah lagi ikut campur. Banyak yang harus kami pikirkan. Persoalan di negeri ini sudah menjadi urusan pemerintah! Pemerintah yang mana?

Mereka yang duduk di kursi eksekutif dan legislatif, yang tak lama lagi terpilih.

Kau bukalah matamu. Berapa dari kawanmu sendiri, dari kaummu sendiri yang menjual diri hanya demi lima puluh ribu rupiah?

Mereka butuh makan., Bang. Salah pemerintah tak becus mengurusi masalah. Sudah jangan mendebat lagi. Ide-idemu tentang manusia merdeka, indigenous knowledge, pendidikan yang membebaskan, Tut Wuri Handayani, tak ada pasarnya di sini, Bang.

Baru kusadari ada kata yang terlontar dari mulutku yang tak sinkron dengan kata-kataku sebelumnya. Buru-buru kusudahi perdebatan ini. Aku buru-buru, ada pertemuan penting. Kalau bertemu lagi, kuharap tak ada lagi perdebatan, Bang.

Tunggu sebentar.

Apa?

Air mukanya berubah sendu. Hawa yang semakin panas dan mendung tebal yang berarak di langit seakan mengamini perasaan kawanku itu. Pelan dan lirih kutangkap ucapannya, Perhatikan Tan Malaka.

Hari ini aku berkabung. Kawanku mati, namun tak kunjung kutangisi. Berbagai harian memuat obituarium kepergiannya. Bendera kuning tertancap di mana-mana. Kampusku dipenuhi aroma kenanga. Kematiannya mengundang tanya: haruskah kita bahagia atau murka? Aku bertanya kesana-kemari, barangkali seseorang mengerti maksud perkataan terakhirnya. Aku kecewa, mereka bahkan tak tahu siapa Tan Malaka.

Di sudut yang lain, beberapa manusia berpesta ria. Bersetelan jas dan menunggang mobil mewah. Mukanya pernah terpasang narsis mengotori pohon dan merusak pemandangan di taman. Kulihat beberapa kawan sesama mahasiswa hadir di sana. Canda tawa penuh kemunafikan teraut jelas di muka mereka. Ada yang membuat mereka tak nyaman. Tawa pongah yang keluar dari mulut mereka menguarkan bau anyir di cuping hidungku. Kuperhatikan lekat-lekat, diam-diam mereka memasukkan amplop putih dalam saku kemeja. Bisa kauterka isinya apa!

Hari ini kawanku mati, dan kulihat beberapa kawanku sesama mahasiswa berpesta ria di tempat mewah. Mereka tak kenal siapa kawanku yang baru mati, apalagi Tan Malaka. Tiba-tiba suara lembut berbisik di telinga kiriku, Nak, kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda adalah idealisme.

Aku menangis. Baru kupahami maksud kawanku yang baru pergi. Aku merasa ditelanjangi. Aku turut menanggung malu untuk sebuah pengkhianatan yang tak kulakukan. Malam mulai menggigilkan kota Malang, dan aku masih sendirian, menangisi kepergian kawanku dan mengutuk sebuah pengkhianatan.

*Cerita pendek berisi satire ini merupakan bentuk keprihatinan penulis akan matinya idealisme beberapa kawan mahasiswa ketika pemilu 09 April lalu