Penulis : Dea Kusuma Riyadi

“Bapak, Besudut ingin sekolah.”

Bapak hanya diam, seakan tak mendengar permintaanku. Ia masih mengumpulkan tanah untuk membuat gundukan di bawah pohon Setubungini. Aku melihat sekeliling, sudah banyak gundukan tanah di sini, tapi Bapak memaksa untuk tetap membuat gundukan baru. Mungkin karena terlalu sulit mencari pohon Setubung baru sehingga ari-ari adik keempatku yang lahir beberapa jam lalu harus dikubur di sini, bersama ari-ariku dan teman-teman sebayaku.

“Bapak, Besudut ingin sekolah,” aku masih mencoba membujuk bapak. Namun, sekali lagi ia hanya diam. Ia menghampiri adik ketigaku yang sedang menggigil di gubuk. Memang sudah beberapa hari ini adikku terserang demam. Persediaan ubi kayu kaum kami sedang menipis sehingga wajar banyak yang terserang demam maupun sakit perut karena kurang makan. Ya, termasuk adikku.

“Bapak, Besudut ingin sekolah,” sudah tiga kali dalam sehari aku memohon pada bapak. Namun, Bapak masih diam, sama seperti beberapa hari lalu saat aku memohon hal yang sama

“Kamu kan sudah sekolah, Besudut. Kenapa masih merengek?” bapak akhirnya memberiku jawaban.

“Aku tidak ingin sekolah di sini. Aku ingin sekolah di kampung sana. Aku ingin memakai seragam seperti mereka,” ungkapku. Aku masih ingat beberapa hari lalu aku bertemu beberapa anak sebayaku menenteng tas dan memakai baju yang serupa. Saat kutanyakan pada Pak Mahdi, guruku di hutan ini, ia mengatakan bahwa baju itu namanya seragam. Sejak saat itulah, aku ingin bersekolah di sana. Aku ingin sama dengan mereka.

“Lihatlah dirimu! Siapa kamu?” bapak pun meninggalkanku.

Kulihat teman-teman sebayaku yang sedang asyik bermain air di sungai. Mereka hanya bocah laki-laki berkulit sawo matang dan berambut ikal. Telapak kaki mereka terlihat lebih tebal dan giginya pun kecokelatan karena tak terawat. Badan mereka tak ditutupi dengan kain layaknya manusia lain yang aku lihat di kampung sebelah. Hanya ada sehelai kain sarung kecil nan lusuh yang menutupi area kelelakian mereka. Aku pun sama dengan mereka. Aku dan mereka sangat berbeda dengan teman-teman sebaya berseragam yang pernah aku lihat. Mereka yang berseragam memang tampak lebih bersih tapi apakah itu berarti kami tidak boleh melakukan hal yang sama? Seandainya mereka dilahirkan di sini, di hutan seperti kami, pasti mereka akan terlihat tak jauh berbeda denganku.

Tiba-tiba, aku mendengar suara raungan wanita menangis. Semakin lama suara itu semakin keras dan disusul suara-suara lain yang juga menangis. Aku berlari ke gubuk, asal suara raungan itu. Kulihat beberapa wanita sedang menangis sejadi-jadinya bahkan seseorang di antaranya sedang menghempas-hempaskan badan ke pohon Benal di sebelah gubuk. Kakiku lemas, jantungku seakan berhenti berdetak. Mataku tertuju pada seorang wanita yang sedang berteriak, “Laailla hail, ya Tuhan kami kembalikan nyawo urang kami yang mati.” Wanita yang memakai kain sarung untuk menutup dada hingga kakinya tersebut sedang menangis di samping seorang gadis cilik yang sudah kaku tak bernyawa. Wanita itu ibuku dan artinya gadis cilik itu adalah adik ketigaku. Wanita-wanita lain juga sedang meratapi kematian kerabat mereka. Ada yang kehilangan anak, suami, ataupun nenek. Semua raungan sedih itu bergema bersama senja yang mulai menyelimuti hutan ini. Empat belas nyawa pergi hari ini karena kelaparan.

Sesuai adat, seusai menguburkan kerabat, kami akan pergi melangun. Kami akan pergi ke bagian hutan lain untuk mencari tempat baru. Mungkin beberapa bulan lagi, setelah kesedihan karena kehilangan kerabat telah pudar, kami akan kembali ke tempat ini. Terselip sebuah doa agar tanah yang kami tinggalkan akan subur kembali. Nanti, jika kami kembali ke tempat ini, semoga tanahnya sudah bisa ditanami ubi kayu. Semoga dewa dan roh nenek moyang akan memberkati tempat ini seusai kami melangun.

“Ingin melangun lagi, Suku Kubu?” sebuah suara menghentikan langkah kami. Beberapa pria berbadan tegap dengan pakaian cokelat yang sama menghampiri kami. Seorang pria berkumis tebal yang terlihat sebagai pemimpin mereka mendekati bapakku. Aku sempat kesal mendengar sapaan mereka. Suku Kubu? Meskipun aku hanya bersekolah di hutan namun aku mengerti maksudnya. Pak Mahdi pernah bercerita padaku bahwa kubu berasal dari Bahasa Melayu yang berarti bodoh atau menjijikan. Seenaknya saja mereka menyebut kami seperti itu, pikirku.

Aku mengenal seorang pemuda yang ikut bersama rombongan itu. Lelaki kurus dari kampung sebelah yang pernah meneriakiku dan teman-teman, ia menyebut kami ‘sampah masyarakat’ hanya karena kami mengambil buah dari hutan kami. Ia merasa telah memiliki sepetak tanah di pinggir hutan sehingga melarang kami mengambil buah dari sana. Rasanya aku juga ingin meneriaki dia, “Ini tanah nenek moyang kami, bukan tanahmu!”

Sesaat kemudian, aku mendengar bapak berteriak, “Kami tak akan meninggalkan tanah nenek moyang kami! Kami tak akan meninggalkan adat kami! Pergi, kalian! Kami tak butuh menjadi manusia modern macam kalian.” Rombongan berseragam itu takut melihat kemarahan bapak karena ia bisa memerintah lelaki suku kami, suku yang terkenal keras, untuk mengeroyok mereka. Kami pun melanjutkan melangun, menyusuri hutan nenek moyang kami yang sudah berubah menjadi perkebunan karet. Entah di mana kami akan menemukan tempat subur baru untuk melanjutkan hidup. Kami, Suku Anak Dalam, hanya ingin hidup tenteram.

“Bapak, aku tak ingin bersekolah di sana. Aku tak ingin berseragam. Aku tak ingin menjadi manusia jahat yang meminta Suku Anak Dalam meninggalkan adat nenek moyangnya hanya karena kita dianggap berbeda,” tuturku. Bapak hanya tersenyum.