Penulis: Rethiya A

“Dia punya raga. Aku punya jiwa. Dia punya raga. Aku punya jiwa. Tanah Surga namanya.” Sayup-sayup angin dingin menyapu suara antah brantah. Menjadikan Lenang dalam dengkurannya tertegu. Tak kala matanya melotot menyibak Tanah Surga. Benar-benar surga memang.

Angin bersilir diantara padang rumput dan danau. Mega-mega putih menggumpal menjadikanya ketenangan. Mata melotot Lenang mulai tertimang-timang melanjutkan dengkurannya. Ketika suara “dorrrr!” menyentaknya. Membuat matanya melotot menghadap tebing tinggi diujung Tanah Surga. Ketika ia bangun, kakinya melangkah membelah Tanah Surga. Hati Lenang keruh, ketakutan mengelilinginya. Tebing diujung ternyata tumpukan semut-semut hitam tak bernyawa. Ia tengok arah lain. Berekor-ekor Tembukur menyeret semut hitam tak berdaya diantara sarang besar yang mengerucut. Dengan Sang Tuan Tembukur yang akan melahap mayat semut hitam dengan serakah. Lenang terperanjat, kemudian limbung. Kembali pada kesadaran manusiawinya.

***

Lenang masih ngos-ngosan. Nafasnya begitu meburu bagai orang selesai lari maraton. Mimpi macam apa tadi? Akal sehatnya sulit mencerna. Tak mungkin Tanah Surga diujung timur negeri ini dihuni monster-monster serakah. Begitu menyeramkan. Lenang bergidik ngeri. Membayangkan rakyat Tanah Surga hidup bersama monster serakah.

Matanya jelalatan, menyibak keadaan warung klontong Cak Minduk. Sekitar masih sepi. Hanya satu, dua, tiga kali klakson bus para perantau hilir mudik. Maklum pejuang di Tanah Harapan ini masih menikmati pulang kampungnya. Yah, apalagi yang paling membahagiakan, selain lebaran barsama keluarga. Sampai-sampai, hanya demi cepat sampai ke kampung halaman, terkadang harus dibayar dengan nyawa. Sebenarnya enak juga, Tanah Harapan sepi begini. Kemana-mana tak harus mengantri dan sikut-sikutan dengan waktu.

Lenang masih duduk terjebak dalam renungannya tentang Negeri Kolam Susu ini. Katanya kail dan jala cukup untuk hidup, tapi nyatanya pergi ke Tanah Harapan.

Tak mudah jua mengunyah sesuap nasi. Nasi putih warnanya. Tapi kalau di Negeri Kolam Susu, keringat darah perjuangan jadi pupuknya. Duh… duh… duh…, manusia bahagia seperti apa yang hidup di negeri ini. Lenang paham, roda kehidupan terus berputar beiringan dengan zaman.

Malam masih gelap gulita, dengan lampu neon kuning tergantung menciptakan seberkas cahaya. Lamunan Lenang buyar. Cak Minduk ikut nimbrung di emeperan warung. Matanya memicing pada layar cembung dihadapannya. Sedangkan Lenang hanya mampu milirik objek yang sama. Tak begitu jelas keterangan atas pemberitaan itu.

Televisi tua dihadapannya, mempertontonkan keadaan menegangkan antara Petugas Jaga Aman dan sekelompok warga Suku Semut Hitam yang saling dorong. Teriakan tak terelakkan. Suku Semut Hitam tetap bersikukuh pemerintah harus membangun infrastruktur dan suprastruktur di Tanah Surga. Mereka muak dan jengah, atas kongkalikong dan korupsi atas alam raya Tanah Surga. Namun petugas yang tampil garang dengan berbagai atribut keamanannya terus mendesak warga Suku Semut Hitam untuk masuk kesebuah bangunan. Bersama kata-kata kasar merendahkan martabat yang meluncur dari mulut abdi negara tersebut.

Mulut menganga dan mata melotot tergambar jelas diwajah Lenang. Ia tak habis pikir. Segarang itukah orang yang harusnya melindungi warga seluruh Negeri Kolam Susu? Apa yang terjadi pada Negeri Kolam Susu ini? Apa nila setitik telah merusak Negeri Kolam Susu?

Ia tolehkan wajahnya pada Cak Minduk, yang tak kalah memasang wajah keheranan.

“Nang kamu lihat tadi?”

“Iya Cak, saya masih sadar kok.”

“Apa nggak inget ini masih suasana lebaran?”

“Hmm, mungkin sudah rusak sebelanga, Cak negeri ini.”

“Nah itu, ngapain juga orang mau ngomong dilarang-larang. Ntar nggak ngomong juga sal . . .” kata terakhir Cak Minduk mengambang. Berita malam telah kembali dari serombongan iklan titipan. Mata Lenang dan Cak Minduk kini memicingi televisi yang tak berdaya.

Sang pewarta tambun kembali bersuara. Ia sampaikan bahwa malam sebelum aksi, Petugas Jaga Aman telah mengepung dan menutup akses ke bangunan yang didiami warga perantau dari Suku Semut Hitam tersebut. Tak hanya dikepung, bantuan logistik dari warga sekitar yang prihatin pun ditolak masuk ke area bangunan oleh Petugas Jaga Aman.

Selanjutnya sosok lelaki berkalungkan id–card sebuah lembaga bantuan hukum mulai mengunyah kata. Sorot matanya tajam dengan muka menegang menanggapi sikap Petugas Jaga Aman yang begitu berlebihan terhadap warga Suku Semut Hitam. Mimik wajah kecewa tergaris jelas dalam raut wajahnya, ia menyayangkan sikap sewenang-wenang Petugas Jaga Aman. Ia perinci setiap tindak represif yang pernah dilakukan abdi negeri tersebut. Dengan suara meningggi ia menuntut pemerintah agar lebih arif dalam menyikapi setiap keluh kesah masyarakatnya. Toh, semua ini timbul juga sebagai bentuk janji kesejahteraan yang belum dirasakan masyarakat pinggiran.

Beberapa lama kemudian, pihak yang paling ditunggu-tunggu statement-nya mulai diacungi alat rekam suara. Humas dari Petugas Jaga Aman mulai meluncurkan kilahnya. Ia berkata, sebagai Petugas Jaga Aman harus menjaga keamanaan dan ketertiban. Untuk itu mereka melakukan hal tersebut untuk menjaga ketertiban daerah sekitar. Mereka tak mau kecolongan atas rusaknya tanaman-tanaman hijau di Tanah Harapan ini, jika nanti terjadi kerusuhan. Seperti rusaknya tanaman di Taman Kota Harapan. Ketika Kepala Daerah Tanah Harapan mengizinkan perusahaan tekstil membagi baju gratis sebelum lebaran tiba.  Hanya beberapa ucap kata saja yang keluar dari mulut aparat itu. Dengan senyum yang dipaksakan ia akhiri Jumpa pers dengan ucapan terima kasih dan pergi terburu-buru.

Melongo. Hanya itu yang mampu diekspresikan Lenang dan Cak Minduk. Mereka tak habis pikir. Setelah ketegangan yang terjadi, alasannya hanya sebuah ketakutan yang belum tentu terjadi. Sungguh sebuah ironi di negeri ini bagi Cak Minduk. Terkadang terlalu lucu pikirnya.

“Mungkin benar katamu Nang. Negeri ini sudah rusak sebelanga.”

Cak Minduk menyelimuti diri dengan sarung kusutnya. Mulai ia rebahkan tubuh rentanya. Sedangkan Lenang, memandangi langit malam dengan perasaan berkecambuk. Teringat Tanah Saudara yang telah berpisah beberapa tahun lalu. Dimana keadaan Tanah Saudara kala itu begitu mencekam oleh teror penembakan ataupun perusakan rumah warga. Terngiang ditelinga Lenang, ketika suara menuntut mencuat dari radio. Mengatas namakan masyarakat Tanah Saudara, suara itu menuntut berpisahnya Tanah Saudara dari Negeri Kolam Susu. Dengan alasan yang sama dengan apa yang dilontarkan Suku Semut Hitam.

Pembangunan yang minim di daerah pinggiran. Sungguh ironi memang. Ketika bersuara untuk kesejahteraanya malah dilabeli makar. Hingga pilihan tak ada yang benar-benar baik disegala sisinya.

Sungguh tuntutan seperti itu telah terlampau sering bersuara di Negeri Kolam Susu. Suara-suara kecil yang hampir selalu diabaikan oleh pemimpinnya. Seperti angin yang bersemilir malam ini. Sebuah iklan ucapan selamat kepada jendral baru negeri ini, membuyarkan lamunan Lenang. Seketika terlintas kata ‘semoga’ di benak Lenang. Apalagi kalo bukan, semoga sang jendral baru dapat menghilangkan nila setitik di Negeri Kolam Susu tercintanya ini. Jengah Lenang memikirkan masalah negeri ini. Ia pejamkan matanya besama panjatan doa, semoga semut hitam di Tanah Surga segera menemukan kesejahteraan, dan lenyaplah koloni Tembukur dari Tanah Surga.