Penulis: Ria Fitriani

“Diah, sekarang sih ..” seru seorang bocah.

“Ah, iya ..” jawab Diah.

“Diah, awas jangan sampai gagal! Nanti tim kita bisa kalah .. “seru bocah yang lainnya.

“Tenang saja! Tenagaku besar, kamu tak perlu khawatir .. “ucap Diah dengan nada penuh percaya diri. Ia pun mendapatkan bola kasti di genggamannya menggunakan kayu pemukul dengan kuat. Bola melambung jauh, semua anggota tim lari ke zona aman. Tim Diah kembali menang pertandingan. Suara riuh sorak sorai anak-anak polos ini sangat meramaikan suasana di lapangan desa Mojo Mulyo sakit itu.

“Diah!” Panggil seseorang dari balik pohon jambu.

“Ah, Sigit! Kau membuatku kaget saja. ”

“Maaf Di, dia dia. Kamu lagi ngelamun ya? Oh ya, kapan kamu pulang? Baru datang ya? ”

“Iya nih git, aku baru datang tadi pagi. Nanti mampir ya, aku bawa oleh-oleh dari Jogja.

“Asiik, dibawain oleh-oleh ya? Siap lah, aku pasti mampir. Oh ya, kamu sedang apa Di di sini sore-sore?”

“Emm.. cuma jalan-jalan sore aja sih, he he. Kangen tempat ini, tempat biasa kita main dulu sama anak-anak kampung. Tidak terasa ya, kita sudah sebesar ini. Bahkan teman kita sudah ada yang menikah, si Anis..hahaha.”

“He he he.. iya Di, waktu memang cepat sekali berlalu. Kamu sudah jadi anak kuliahan, aku jadi buruh pabrik di desa sebelah, yang lain pun punya cerita sendiri-sendiri juga.”

Sigit benar, kami semua memiliki kisah sendiri-sendiri selepas lulus dari Sekolah Menegah Atas. Ada yang melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi di luar kota. Ada yang kuliah di dalam kota.Ada yang memilih bekerja,bahkan ada yanglangsung menikah. Sigit adalah satu dari beberapa teman sepelantaranku yang tetap memilih untuk tinggal dan bekerja di desa. Ia adalah yang terpandai di antara kami semua. Namun sayang, keterbatasan ekonomi membuatnya mengubur dalam-dalam keinginannya untuk mengenyam pendidikan tinggi. Di saat anak-anak lain memilih kuliah atau bekerja di kota, anak bungsu dari empat bersaudara ini lebih memilih untuk selalu berada di dekat keluarganya.

Aku masih ingat dengan jelas kata-kata yang selalu ia ucapkan sewaktu kami kecil. “Mangan ora mangan sing penting kumpul”. Peribahasa Jawa yang diajarkan kakeknya itu seakan sudah begitu merasuk dalam jiwa Sigit hingga sekarang. Ia pun tak segan menolak beberapa ajakan untuk bekerja di luar kota termasuk ajakan pamannya untuk bekerja sebagai supir truk lintas kota. Tak ayal, ia memilih tinggal di desa bersama ibu dan ketiga adiknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.

Di tanah ini, 15 tahun yang lalu, anak-anak desa kami biasa berkumpul dan bermain sepulang sekolah. Ada yang bermain kelereng, petak umpet, lompat tali, dan congklak. Tidak peduli baju seragam lusuh yang masih menempel di badan, atau perut yang masih kosong belum terisi makan siang, semua anak bersemangat untuk bermain bersama. Tak jarang perintah orang tua untuk makan tidur siang pun diabaikan, sebelum pada akhirnya para ibu datang dengan muka garang dan bersiap mendaratkan jeweran di telinga bocah-bocah bandel ini dan membuat mereka menyerah.

Anak-anak tumbuh dengan ceria. Kepolosan dan keluguan menghiasi wajah mereka. Di antara kami tidak pernah membeda-bedakan satu sama lain.

Ya, lagipula untuk apa saling membedakan kalau pada kenyataannya kami semua memang sama, sama-sama bocah miskin. Kami tidak tahu permaianan apa yang lebih me-narik dari permaianan yang biasa kami mainkan. Bagi anak-anak desa seperti kami, saat-saat be-rmain merupakan waktu yang berharga. Mak-sudku, sebelum mengerjakan PR matematika dan hafalan surat-surat pendek, bermain adalah satu-satunya obat untuk melepas penat.

Ani, Ratna, Joko, Wahyu, Sigit, Anis, dan Sri. Ah, aku merindukan sahabat-sahabatku itu. Mereka adalah anak-anak asli keturunan masyarakat desa kami. Hal yang paling kurindukan saat aku jauh dari rumah, salah satunya adalah kenangan masa kecil di desa yang penuh dengan kesederhanaan dan kabahagiaan. Setiap hari Minggu, anak-anak desa kami ikut pergi ke sawah bersama bapak dan ibu mereka. Setelah itu kami mandi di sungai bersama-sama. Semuanya jadi satu, laki-laki maupun perempuan. Saling menggoda dan bercanda satu sama lain.Tanpa beban, tanpa ada yang mengeluh.

Sepulang dari sawah, anak-anak berkumpul di rumahku. Tujuannya hanya satu, menonton kartun paling favorit saat itu dari TV tabung 14 inci yang layarnya seperti sarang semut. Hal paling menyenangkan berikutnya ialah ketika nenek datang dari dapur dengan membawa sepiring penuh singkong rebus yang masih panas. Semua anak langsung menyerbu santapan sederhana itu tanpa basa-basi. Tak peduli kepulan asap yang masih tebal menyelimuti, singkong rebus akan langsung habis dalam waktu sekejap. Satu dua jam kemudian singkong rebus yang mereka telan menghasilkan gas dalam perut-perut bocah ingusan itu. Suara kentut pun saling bersahutan dibarengi dengan gelak tawa tak dapat terbendung. Tapi itu dulu, sebelum semuanya berubah.

“Kudengar pabrik tapioka di desa sebelah akan diperluas ya, Git?”

“Oh, kamu sudah mendengar kabar itu rupanya. Yaa..memang benar Di. Sepertinya pemilik pabrik untung banyak, makanya mau nambah lagi..hehe”

“Memangnya lahan mana lagi yang masih tersisa? Setahuku di desa sebelah sudah tidak ada lagi lahan yang cukup luas,”

“Bukan di desa sebelah Di. Tapi di sini, di desa kita,”

“Oh ya?! Mengapa demikian Git? Kok malah ke desa kita?

“Ya mungkin karena desa kita punya lahan kosong yang masih lebih luas dibanding desa sebelah. Toh, bahan baku di desa kita juga melimpah,”

“Kalau begitu bukannya akan mengganggu kesehatan warga desa kalau polusinya kemana-mana. Ke udara, ke sungai yang airnya mengalir ke

sawah dan ladang, macam-macam lah..”

“Ya habis mau bagaimana lagi di, kontrak sudah ditandatangani. Warga desa sini juga kurang paham dampak yang akan mereka alami setelah pabrik dibangun. Malah para petani singkong senang dengan berita ini, ya wajarlah, singkong mereka pasti akan laku dibeli pabrik.”

“Emm..memang benar sih Git. Tapi..ah, sudahlah. Lalu dimana pabrik itu nanti akan dibangun?”

“Menurutmu lahan mana lagi yang lebih luas dari lapangan desa ini, Di? Ya di sini ini, tepat dimana kita sedang berdiri sekarang. Kau belum melihat papan kayu yang ada di ujung sana? Disana sudah ditulis bahwa tanah ini milik PT. Sumber Pangan Abadi,”

“Apa?! Di sini?!”

Aku tak dapat berkata apa-apa. Ternyata benar, uang menguasai segalanya. Akhirnya lapangan desa kami pun direnggut oleh manusia-manusia pencari untung, para kapitalis. Satu hal di benakku, dimana anak-anak nanti akan bermain? Dimana, acara-acara desa akan diadakan jika satu-satunya lapangan milik kami sudah tidak ada lagi? Ah, uang. Globalisasi! Liberalisasi! Kapitalis! Borjuis! Semua istilah yang kukenal di bangku kuliah ini ternyata juga tumbuh di desa kelahiranku. Desa yang sudah memberikan kehidupan bagi para petani. Desa yang memiliki sejuta kenangan masa kecil. Lantas siapa yang dapat membendung semuanya? Siapa yang bisa disalahkan jika anak-anak sekarang tak sudi main gobak sodor dan bentengan, dan memilih bermain game online? Semuanya mengalir begitu saja.

Sambil berjalan pulang, kulihat kembali papan kayu di sudut lapangan. Tulisannya sangat jelas, catnya masih mengkilap. Tanah ini bukan lagi milik kami, bukan lagi milikanak-anak Desa Mojo Mulyo. Andai saja aku punya banyak uang, akan ku rebut kembali tanah ini lalu ku dirikan sebuat taman bermain dan taman baca untuk anak-anak. Di ujung sana ibu-ibu bisa berjualan berbagai macam jajanan pasar ala dulu yang sehat. Di ujung yang lain, ada penjual mainan tradisional yang ramah dan baik hati. Lalu di tepian lapangan, akan ku tanami pohon-pohon cemara yang tinggi dan rindang. Bukan corong pabrik yang mengeluarkan kepulan asap hitam. Bukan pula suara-suara mesin penghancur ketela yang bergemuruh sepanjang waktu.

Aku ingin tertawa, kurasa aku sudah gila. Tinggi betul khayalanku di siang bolong begini. Yah, zaman telah berganti. Siapa yang menduga di desaku akan berdiri sebuah pabrik. Siapa yang mengira permaianan video game akan lebih mengasyikkan dari permainan kelereng dan congklak.

Tak ada yang pernah menyangka. Ku lanjutkan langkahku yang malas, ku susuri jalanan desa yang aspalnya bolong-bolong. Satu per satu rumah ku pandangi. Tak ada lagi rumah joglo, apalagi yang dindingnya masih terbuat dari bilik bambu. Semuanya berubah menjadi rumah modern. Aku berhenti di rumah rumah salah seorang penduduk. Rumah itu begitu indah di bandung yang lain. Ada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di beranda rumah itu. Ia lihat suara ibunya yang berulang kali memanggilnya dari dalam rumah. Tak lama ku tau dari suara yang muncul dari tablet yang ia pegangi, ia sedang asyik memainkan video game. Aku hanya tersenyum kecut, lalu pergi.