Penulis : Valentinez Hemanona

Black coffee”, kataku setelah membolak-balikkan menu.
Pelayan itu tersenyum ramah. “Pencinta kopi?” Tanyanya sambil mencatat pesanan. Aku tersenyum menggelengkan kepala. Tiba-tiba mataku terpaku pada laki-laki yang baru saja memasuki cafe ini. Dengan cepat aku menambahkan machiatto ke dalam pesanan.
“Aha, pesanan pacar rupanya”, ujar pelayan mengambil menu dan berlalu sambil tersenyum.

“Ada apa kamu sama pelayan itu?” Tanyamu sambil menarik kursi di hadapanku.

“Biasa, pencitraan cafe baru”

“Citra, you really don’t know how beautiful you are, do you?”

“Tapi dia tahu pesanan black coffee-ku untuk kamu”, dan kamu tersenyum malu. Memikat. Seperti biasa.

Anganku berlarian pada kenangan itu..
Kita bersekolah di SMA yang sama. Saat itu kamu keluar dari ruangan kecilmu itu dengan ceria, wajahmu bersih dan tersenyum. Beberapa bulir air masih tersisa di rambut cepakmu.
Sama sekali tidak terpikir dalam benak ku untuk tertarik padamu, tetapi Tuhan selalu punya cara mempertemukan kita.
Aku ingat saat pertama kali kamu menyebutkan namamu. Ketika aku bingung setengah mati mencari kalung peninggalan Mama, kamu datang menghampiriku.

“Aku Dirga, ini punyamu kan?”
Aku menghela nafas lega, mengambil kalung itu darinya. Dirga memperhatikanku melilitkan kalung itu di pergelangan tanganku.

“Makasih ya..” Kataku, tersenyum tulus.
Dirga balas tersenyum dan kembali bertanya. “Kenapa kalungnya di pake di tangan?”
“Supaya lebih deket ke urat nadi”
“Di kalungin aja, supaya lebih deket di hati..” Ujarmu mengulurkan tangan dan tetap tersenyum.
Aku membalas uluran tangannya,”Citra..”

Tak pernah terpikirkan, bahwa sekarang kami sedekat  ini. Kopi hitam selalu ada saat machiatto milikku disajikan. Aku suka dia mengisi hari-hariku! Senyumnya yang meneduhkan, caranya menenangkanku, dan semua tentangnya membuatku rindu. Tuhan, andai saja akan selalu seperti ini. Batinku, mengelus kalung yang masih saja aku lingkarkan di tangan.

“Permisi.. Black coffee dan machiatto?”
Suara pelayan membuyarkan lamunanku. Kami berdua mengangguk bersamaan.
“Dan ini hadiah untuk pasangan yang serasi..”, ujar pelayan sambil meletakkan dua red velvet untuk kami.
“Wah, terimakasih”, kataku.

Dirga tersenyum jahil,”Kita serasi…”
“Memang seharusnya begitu..” Godaku.
“Lalu, apa kita masih tetap berhenti di sini?” Tanya Dirga.

Aku terdiam dan menyeduh machiatto. “Bukan gak mau, tapi gak bisa… “

Dirga menggenggam tanganku, “Kalung ini sudah saatnya dipakai sesuai fungsinya.” Ujarnya sembari memainkan bandul kalung yang ku kenakan di tangan lalu melepasnya.
Aku tertawa kecil.
Dirga beranjak dari tempat duduknya kemudian mengalungkannya di leherku.

“Biar lebih dekat di hati.. Aku tahu tidak semua yang kita inginkan bisa di dapatkan..” Ucap mu.

Aku menggenggam erat kalung salib peninggalan Mama. Dengan lembut Dirga berbisik, “Aku tinggal sholat dulu ya..”