Oleh: Helmi Naufal

Pagi itu, tergambar wajah gagah matahari dari sepasang jendela kamar rumah Iwan. Iwan baru bangun karena teriakkan ibunya dari luar kamar yang terdengar seperti gelegar guntur, saat itu jam dinding menunjukkan pukul 06.45 Waktu Indonesia Sehat. Yang artinya 15 menit lagi pelajaran di sekolah Iwan dimulai. Dengan santai tangan kiri Iwan mengucek-ucek dua bola mata secara bergantian dan tangan kanannya mengambil sebuah handphone yang berada tidak jauh dari tempatnya tidur.

“Gil, enteni diluk. Aku lagek tang,” 1 ketik pesan singkat Iwan kepada sahabatnya yang setiap hari nebeng ke sekolah. Setelah mengirim pesan singkat, Iwan memasukkan buku, alat tulis, HP dan rokok ke dalam tas. Saat keluar kamar, raut wajah Iwan tampak lelah setelah semalam suntuk begadang hanya untuk menonton wayang kulit di rumah Pak Carik. Dengan ritual sederhananya, cuci muka dan gosok gigi, Iwan memakai satu-satunya seragam putih abu-abu dan kemudian memacu motor bututnya ke rumah Agil. Jalan ke rumah Agil tidak begitu bagus, juga tidak begitu jelek, jadi biasa saja. Bersama motor bututnya, Iwan hafal betul dimana letak jalanan yang berlubang, letak jalanan aspal yang mulus, sampai jalan yang diberi pelepah pisang menuju rumah Agil. Menikmati liak-liuk motor, diiringi suara merdu khas motor 2 Tak. Sesampainya di rumah Agil, mulut Iwan mulai berkomat-kamit memanggil sahabatnya sembari memberhentikan motornya di pelataran depan rumah Agil. Agil bergegas keluar rumah dan bergegas berangkat sekolah dipayungi awan putih tebal diantara langit biru cerah.

Sampai di parkiran sekolah Iwan dan Agil berlari menuju gerbang sekolah yang sudah tertutup. “Rek-rek, pancet ae telatan!” 2 tegur satpam sekolah kepada dua sahabat itu.
“Wis le cepetan melbu, tak buka gerbange, mene ojok dibaleni maneh” 3. Ucap Pak Satpam sambil membukakan gerbang sekolah. “Nggih Pak, suwun” 4. Balas Iwan yang kemudian mengayuh kaki menuju ruang kelas diikuti Agil. Ruang kelas terdengar ramai, belum ada Bapak/Ibu Guru datang mengajar. Moment yang sangat ditunggu oleh mayoritas murid sekolah, tapi suatu nestapa untuk beberapa murid yang ingin mendengarkan ceramah Guru. Sejenak Iwan dan Agil yang duduk di bangku paling depan terdengar pengumuman melalui corong sekolah. Pengumuman itu mengabarkan berita duka tentang meninggalnya Kepala Sekolah karena sakit jantung, dan terdengar suara dari corong itu bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah itu diliburkan.
“Bingo! Sekolah pulang pagi tanpa kegiatan belajar yang membosankan.” Teriak Agil di dalam kelas yang disusul aktifitas teman-temannya membereskan alat tulis untuk bergegas pulang.

“Sial! Tau seperti ini mending lanjut tidur di rumah.” Ucap Iwan kepada Agil.

“Hahaha ya untungnya kamu gatau kalo hari ini sekolah pulang cepat.” Tawa Agil menyambut perkataan sahabatnya. “Mari Gil, kita lanjut di warung kopi. Ini jadi hari baik buat kita, karena bisa menikmati hangat kopi lebih dini”.

“Tapi kita kan sering ngopi sepagi ini?” tanya Agil sedikit dengan raut wajah datar.

“Nah itu Gil, bedanya sekarang kita gak harus berfikir lagi caranya bolos”. Jangan disangka bolos sekolah itu kegiatan mudah. Butuh keterampilan lebih bagi para pelakunya.

Meninggalkan sekolah butuh strategi ekstra, terkadang sampai otak mbeluk 5. Dilandasi dengan semangat kebosanan dan keterasingan di lingkungan sekolah. Bagi Iwan dan Agil, meninggalkan sekolahan dijam-jam kritis merupakan suatu proses pembentukan mentalitas baru. Mentalitas berani keluar dari kegiatan yang membosankan bagi yang sadar, dan mentalitas sontoloyo bagi mereka yang tidak berani menghadapi kenyataan yang mengasingkan diri.

Warung kopi itu relatif dekat sekolah mereka. Mereka sering nongkrong di situ sejak awal masuk SMA. Warung kopi sederhana itu, dikelilingi oleh sawah dengan angin yang silir-semilir. Di samping tempatnya yang nyaman, pemilik warung pun terkenal baik hati dan senang ngobrol dengan pelanggannya. Suatu nilai lebih dari warung sederhana yang menonjolkan interaksi sosial. Tidak hanya kepada Iwan dan Agil, pemilik warung sering ngobrol dengan pelanggan lainnya meskipun sekedar guyonan kampung. “Mungkin itu yang membuat warung ini selalu ramai.” Tegas Iwan dalam hati.

“Buk, kulo kopi pait 2.” 6 Pesan Agil kepada Bu Elok, si pemilik warung. Agil dan Iwan memilih tempat favorit mereka di warung ini. Kursi rapuh dari anyaman bambu, di samping irigasi sawah dengan atap pohon kersen. Mirip fungsi tempat tapa untuk mereka. Di situlah mereka sering mendapat ide, bertukar wawasan, memupuk kepekaan dan kesadaran. Bagi mereka ngopi atau nongkrong bukan sekedar gaya hidup, tapi sebagai ruang yang terbebas dari segala macam aturan yang memenjarakan. Nampaknya mereka memanfaatkan betul kesempatan ngopi.

 

“Tenan pait ta le? Mengko sambat maneh gegoro uripmu wes pait.” 7 Jawab Bu Elok dengan gaya sedikit meledek Agil.

“Nggih buk, pun ikhlas uripku pait. Seng penting isih iso ngopi masio utang.” 8 Seru Agil disambut tawa terpingkal-pingkal oleh Iwan.

Dua cangkir kopi hitam sudah ada di depan mereka. Sebelum ngudud 9, iwan memajang kalimat pada sosial medianya “Selamat jalan. Sampai jumpa….”. kalimat pada sosial media Iwan diketahui Agil, dengan celoteh khasnya Agil mengomentari kalimat tersebut. “Wan, statusmu itu untuk Kepala Sekolah kita kan? Kenapa dalam kalimatmu tidak menunjukkan rasa duka cita?” Sambil memegang rokok Djarum Super kesukaannya Iwan membalas komentar tersebut. “Lho, kematian itu agung. Delok-en suku-suku asli Nusantara. Di Bali, Batak, pedalaman Jawa, di sana kematian dirayakan. Bahkan di suku pedalaman Papua mereka bernyanyi, menari-nari semalaman untuk mengantar kepergian orang mati. Di Tanah Toraja untuk mengirim kematian mereka ikhlas mengeluarkan banyak materi untuk melakukan upacara kematian.”

Iwan mengutarakan pendapat anehnya dengan perasaan bebas, tanpa muatan politik menjelang pilkada. Dengan frekuensi, volume, dan nada yang pas, perkataan Iwan menyusup di lubang-lubang sempit daun telinga Agil. Menerobos bilik-bilik umum, hingga mengasapi otak. Bagi Iwan, keluarga yang ditinggalkan karena kematian harus dididik agar tidak terlalu kelebihan sedihnya. Suku-suku asli di Nusantara memiliki budayanya sendiri untuk menyambut kematian. Memakai pakaian warna-warni dengan harapan indahnya kehidupan selanjutnya. “Mereka yang menangisi kematian, berarti mendewakan kehidupan di dunia”. Tegas Iwan.

Iwan belum berkeinginan mempunyai pandangan kematian seperti orang-orang pada umumnya. Dia juga tidak sekali pun bermimpi menghadiri acara kematian dengan pakaian serba hitam ajaran Barat itu. Iwan ingin mengenal lebih dalam kebiasaan-kebiasaan suku pedalaman di nusantara. Bukan bermaksud mendalami sebagai suatu ajaran, tapi mengetahui peradaban asli nenek moyangnya. Dengan begitu Iwan sedikit merasa puas disamping materi-materi di sekolahnya. Materi sekolah yang membuat dia berhadapan dengan tembok besar dan merasa jauh dengan peradaban Nusantara.

1 “Gil, tunggu sebentar. Aku baru bangun.”
2 “Rek rek, tetap saja terlambat.”
3 “Sudah nak cepat masuk, saya buka gerbangnya, besok jangan diulangi lagi.”
4 “ Iya Pak, terima kasih.”
5 Asap.
6 “Buk, saya kopi pahit 2.”
7 “Benar pahit kah nak? Nanti mengeluh lagi karena hidupmu sudah pait.”
8 “Iya bu, sudah ikhlas hidup saya pahit. Yang penting masih bisa ngopi meskipun hutang.”
9 Merokok.