Penulis: Jo Cigo

Menari Di Antara Sawah dan Kota. Buku ini saya temukan didalam almari buku milik LPM DIANNS FIA UB. Buku ini menarik perhatian saya karena judulnya yang cukup menarik. Sebuah ironi atau kebahagiaan menjadi tanda tanya di dalam benak saya ketika membaca judul buku ini. Buku setebal 251 halaman ini mengambil setting lokasi di daerah Yogyakarta, tepatnya di daerah Kota Gede. Sang penulis, Imam Setyobudi merangkai buku ini berdasarkan pada skripsinya untuk meraih gelar Sarjana Strata Satu dari Antropologi, Universitas Gadjah Mada.  Buku ini diterbitkan oleh Yayasan INDONESIATERA dengan cetakan pertama pada April 2001.

Buku ini terbagi menjadi enam bab penting yang terdiri dari Pendahuluan, Sejarah Yogyakarta Kontemporer, Mozaik Kehidupan Komunitas Petani Kota, Potret Petani dari Lorong Kota, Sketsa Kota Dari Sisi Luar Koridor dan bab terakhir mengenai Tafsir Atas Kota dan Ambiguitas. Pada bab pertama buku ini, penulis menguraikan tentang pembangunan perkotaan secara umum yang kemudian dibandingkan dengan pembangunan yang terdapat pada Daerah Istimewa Yogyakarta. Pembangunan di Kotamadya Yogyakarta secara langsung berakibat pada aktivitas daripada petani yang terdapat di daerah tersebut. Untuk memperkuat argumen terhadap dampak dari pemekaran kota terhadap petani, penulis menjelaskan secara rinci tentang jenis-jenis petani yang ada di Pulau Jawa dan juga mengambil lokasi di daerah pinggiran kota untuk memperlihatkan secara jelas. Penulis memperlihatkan secara gambling dengan menggunakan berbagai metode penelitian seperti narrative personal, observation, observers participant dan life history.

Pada bab kedua buku ini yang berjudul Sejarah Yogyakarta Kontemporer, penulis menuliskan secara runtut tentang sejarah berdirinya Yogyakarta. Dari sejarah berdirinya Yogyakarta, kemudian penulis memfokuskan pada daerah penilitiannya yang berada di daerah Kota Gede melalui sejarah pemekaran kota yang tertuang pada Undang-Undang Nomor 17 tahun 1947. Undang-undang tersebut berisikan tentang pembentukan Haminte Kota Yogyakarta beserta batas wilayah kewenangan. Haminte sendiri berarti pemerintahan kotapraja pada masa pendudukan Belanda. Dengan dicetuskannya Undang-Undang tersebut, daerah Kota Yogyakarta mendapatkan daerah tambahan yaitu Kemantren Kota Gede dan Kemantren Umbulharjo. Kemantren merupakan wilayah administrasi pemerintahan yang berada dibawah kecamatan dan di atas desa atau kelurahan yang berlaku pada masa Hindia Belanda dan beberapa tahun sesudah kemerdekaan. Dengan karakteristik tanah berupa fluvis vulkanik flut plain, daerah Kotamadya Yogyakarta dapat dikatakan sebagai tanah yang subur bagi tanaman padi. Akan tetapi dengan karakteristik tanah tersebut tidak menutup kemungkinan akan tergusurnya lahan pertanian di wilayah Kota Yogyakarta. Terbukti dengan data yang disajikan pada bab ini, dalam kurun waktu tahun 1985-1995, penurunan prosentase lahan sawah mencapai angka 50.21%. Salah satu penyebab dari penurunan prosentase lahan tersebut diakibatkan oleh Perda Daerah Kotamadya Dati II Yogyakarta, Nomer 3/1994 yang menekankan pada fungsi ruang sebagai pusat pelayanan kota dan perkotaan. Dampaknya pun tak dapat dihindarkan, alih fungsi lahan mau tak mau terjadi, secara cepat ataupun lambat. Dengan wilayah pertanian kota yang terus-menerus menurun, penulis juga mencoba merangkai narasi-narasi sejarah tentang daerah Kota Gede yang terpusat pada sejarah  kampung dan interaksi sosial yang terjadi. Bab ini cukup menarik untuk dibaca, mengingat penulis mampu menjelaskan secara runtut sejarah Kelurahan Pilahan di Kota Gede yang kemudian mengantarkannya untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Interaksi yang dialami oleh penulis dinarasikan dengan sangat baik, sehingga pembaca dapat memahami suasana dan kondisi pada saat itu.

Pada bab ketiga yang berjudul Mozaik Kehidupan Komunitas Tani di Kota berisi tentang Interaksi penulis dengan masyarakat sekitar dimulai dari mengikuti Kelompok Tani Retno Makmur di wilayah Pilahan Lor. Melalui perantara Juk, penulis mengikuti berbagai kegiatan Kelompok Tani tersebut, termasuk acara Selapanan yang diadakan pada Sabtu Kliwon, 9 Juni 1995. Untuk lebih mendekatkan diri dengan masyarakat, penulis akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama dengan masyarakat. Bertemulah ia dengan pemilik kamar kos yang bernama Bd Utm. Pertemuan ini merupakan bantuan dari Prpt Krj yang merupakan anggota Kelompok Tani Retno Makmur.

Potret Petani Dari Lorong Kota yang merupakan judul dari bab keempat ini mengisahkan para tani lebih mendalam. Menurut Geertz (1992), manusia terjerat oleh jaring-jaring yang ditenunnya sendiri, dan di situlah manusia menggantungkan diri terhadapnya. Sama seperti para petani yang lahannya semakin hari semakin sempit, ia merajut kehidupannya melalui ikatan yang ia bangun dengan tanah garapannya. Sulit untuk menemukan seorang petani yang bukan karena faktor orang tuanya juga merupakan petani. Kebanyakan dari mereka telah melakukan proses panjang sebagai petani dalam hidupnya, mulai dari laku, tutur menurut orang tua, dan lingkungan sosial. Pada akhirnya mereka menemukan jati dirinya sebagai seorang petani karna proses pendidikan dari lingkup terdekat, yaitu orang tua. Proses men-dhawut, ndangir, mupuk, macul, manen dan men-damen telah mereka lakukan seumur hidup mereka. Ketika lama-kelamaan tanah garapannya semakin sempit dan menghilang, maka ia terjerat oleh jaring yang ia tenun sendiri. Ketika kondisi mereka semakin terhimpit oleh cepatnya pembangunan yang merenggut ruang hidup mereka, pemerintah hadir dengan memberikan dukungan moral yang paradoks. Reproduksi makna terhadap petani pun dilakukan oleh pemerintah sebagai salah satu dalih untuk mengangkat moral mereka sebagai seorang petani. Makna yang bermula dari memenuhi aspek kebutuhan ekonomi secara keseluruhan berasal dari lahan. Kemudian dibelokkan menjadi tanaman apapun yang ditanam, entah didalam sebuah pot atau ladang, maka anda dapat dikatakan sebagai petani. Adapun tujuan bertani sebenarnya bukan pada aspek pemenuhan kebutuhan ekonomi atau kuantitas tanaman yang telah ditanam, melainkan mendabakan kehidupan yang tentram dan adem-ayem. Kata kuncinya terletak pada prinsip hidup yang tidak berpikir terlalu menuntut berlebihan terhadap kemampuan daya hidup yang ada. Pada bab ini penulis mencoba untuk mengangkat wacana yang dibawakan oleh para petani mengenai pandangan mereka terhadap tanah, pekerjaan sebagai petani, apa itu tani, dan hidup sebagai seorang petani. Petani tidak pernah memaksakan dirinya!” ucap Strsn yang merupakan seorang petani, ungkapannya ini mengartikan bahwa seorang petani tidak terburu oleh hawa nafsu. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari sebagai kenyataan utama yang dicermati sedemikian rupa dan dihayati secermat mungkin.

Bab lima, Sketsa Kota Dari Sisi Luar Koridor. Bab ini dibuka dengan kalimat yang diucapkan oleh Strsn dan membuat saya terpukau. ”Apa kota? Kota itu kan hanya sekedar sebuah nama saja, Mas!” ucapan yang sejalan dengan epos William Shakespeare “apalah arti sebuah nama”. Pada bab ini penulis mencoba untuk menguraikan apa itu kota dari sudut pandang seorang petani. Terdapat beberapa narasi yang disampaikan oleh petani tentang kota, mulai dari cara hidupnya, suasana, sifatnya, dan tak jarang membandingkan antara desa dengan kota. Semua narasi yang disampaikan merupakan sebuah narasi yang menggambarkan kondisi petani yang semakin hari ruang geraknya semakin terhimpit oleh perkembangan kota. Penggambaran kota dilakukan dengan pembandingan kehidupan sehari-hari seorang petani. Hal ini melihatkan kontradiksi yang sangat mencolok antara kehidupan petani dan kota, walaupun pembandingan ini merupakan representasi ide-ide yang teraktualisasikan sebagai sebuah angan-angan yang didapat dari kehidupan sehari-hari.

Tafsir Atas Kota dan Ambiguitas Diri, judul dari bab terakhir ini membawa wacana tentang pengartian sebuah Kota oleh para petani yang kemudian dibenturkan pada kondisi mereka saat ini. Kondisi dimana mereka semakin terhimpit oleh perkembangan Kota, kondisi dimana kehidupan mereka jauh berbeda dengan kota, kondisi dimana segala sesuatu sudah berbeda. Pilihannya hanya dua, mengikuti perubahan yang terjadi atau mempertahankan ciri yang sudah dan dimiliki serta dihidupi selama ini. Pada paragraf terakhir buku ini terdapat narasi yang cukup menarik “Bahwa kota dan desa sebenarnya sama saja, semua terlihat konkret dan karna dihidupi dan dimaknai. Tidak ada yang sepenuhnya dikatakan desa ataupun kota, semua tergantung kita ingin menempatkan diri dimana dan bagaimana mengartikannya. Hidup tidak lebih dari sebuah keambiguan dalam memandang sesuatu, kita hanya dapat ber angan-angan”. Narasi tersebut kemudian ditutup dengan sebuah pertanyaan yang sekaligus menjadi penanda akhir buku ini, “Apakah kita benar-benar menangkap angan-angan kita sendiri?”.

Buku ini merupakan salah satu buku yang menjadi bahan refleksi saya melihat dua realitas berbeda, yaitu petani dengan desanya dan sebuah kota tempat tinggal saya. Sebuah refleksi seusai menutup buku ini sembari menikmati rokok dan segelas kopi di sawah milik simbah. Dimanapun engkau berada, berkaryalah!

Sumber foto: https://toko-bukubekas.blogspot.com/2013/01/jual-buku-menari-di-antara-sawah-dan.html?m=1